Day 10: Queenstown (Nevis Arc, Maori Haka)

Summer 20 Desember 2010. Queenstown

Pagi-pagi setelah kita menyelesaikan semua kegiatan rutin seperti hari-hari biasa, jam 10.00 pagi kita sudah sampai di i-Site. Kita lihat brosur-brosur yang tersedia untuk memilih dan memastikan kegiatan apa saja yang menarik kita lakukan selama di Queenstown. Sebenarnya Queenstown sangat terkenal karena film Lord of The Rings (LOTR). Banyak paket wisata yang menawarkan tour ke lokasi shooting film LOTR di daerah Glenorchy di ujung Danau Wakatipu. Tentunya tidak semua film ini diproduksi di Glenorchy karena banyak juga dilakukan shooting di studio di Wellington dan juga banyak animasi computer. Meskipun saya suka banget film ini namun saya dan Puti memutuskan untuk tidak mengunjungi lokasi shooting LOTR.

Dari berbagai kegiatan yang menarik kita sortir lagi menjadi beberapa kegiatan yaitu Kiwi Haka, memancing salmon, air ballon, diving dan juga kegiatan lain. Kemudian brosur-brosur tersebut kita pelajari dan tidak lupa kita juga ambil peta kota Queenstown karena meskipun kita memiliki TomTom tapi pada saat kita berjalan kaki kita membutuhkan peta tersebut.

brosur-1

diving

peta-queenstown

Kiwi/Maori Haka adalah tarian perang masyarakat Maori. Kalau saya sudah beberapa kali melihat tarian Haka namun Puti belum pernah sehingga kita putuskan sore nanti kita akan melihat tarian Haka. Meskipun sudah beberapa kali namun saya tidak pernah bosan melihat Haka.

Kemudian kita juga pastikan bahwa kita tertarik untuk melakukan kegiatan memancing di danau Wakatipu. Untuk memancing terdapat beberapa opsi dan akhirnya kita putuskan untuk mengambil sesuai dengan saran dari petugas yang ada di brosur dimana kita akan di-guide oleh Stu Deaver. Kita putuskan untuk tidak melakukan kegiatan diving karena masalah keterbatasan waktu meskipun sepertinya kegiatan ini sangat menarik untuk melihat alam bawah air di danau Wakatipu. Kemudian kegiatan lain yang tidak kita lakukan yaitu air ballon karena banyak yang merekomendasikan kegiatan tersebut di kota Christchurch.

Tidak jauh dari i-Site terdapat counter AJ Hackett yang merupakan pendiri atau yang mempopulerkan bungy jumping modern. Saya sering ketukar nama AJ Hackett menjadi AH Jackett. Karena ketukar ini pula saya menjadi susah melupakan nama dia. Budaya bungy jumping sudah lama dikenal oleh masyarakat Vanuatu di Pacific dengan mengikatkan akar pohon ke kaki mereka dan mereka meloncat ke dalam air. Kemudian kita iseng masuk ke counter tersebut melihat-lihat brosur yang ada. Terdapat tiga pilihan bungy yang ditawarkan di Queenstown yaitu Kawarau Bridge, Nevis dan The Ledge. Kawarau bungy lokasinya di Kawarau Suspension Bridge, Nevis ada di Nevis Bluff sedangkan The Ledge ada di Gondola dekat dengan lokasi holiday park kita. Karena lokasi The Ledge dekat dengan campsite kita jadi teriakan orang yang sedang bungy juga terdengar nyaring dari campsite kita. The Ledge juga beroperasi di malam hari. Menurut pengakuan yang pernah bungy, bungy yang paling mengerikan dan terasa sensational adalah dilakukan di malam hari (gelap) dan yang kedua jika dilakukan dalam posisi kepala di bawah saat loncat.

Dari tiga pilihan bungy tersebut kita tidak ada yang tertarik tapi justru kita tertarik pada pilihan lain yaitu yang disebut sebagai Nevis Arc “World Highest Swing”. Nevis Arc ini kombinasi antara bungy (free fall) dan swing. Dari ketinggian 160 meter, free fall 70 meter, kemudian tali nya swing sampai 300 meter arc… bayangannya seperti bandul dijatuhin trus dia melengkung (membentuk busur) lagi ke atas. Jadi kita akhirnya memutuskan untuk memesan Nevis Arc untuk kegiatan kita hari ini. Kegiatan ini butuh waktu cukup lama yaitu sekitar 4 jam karena kita berangkat dari Queenstown kemudian menggunakan bus menuju Nevis Bluff yang berada sedikit di luar kota Queenstown dan posisinya di atas gunung.

Nevis Arc

bungynavis-arc

Perjalanan ke Nevis Bluff kira-kira memakan waktu 40-50 menit dari downtown. Kita naik bus bareng peserta lain yang tidak hanya ke Nevis tapi juga ke Kawarau karena lokasi Kawarau dilewati dalam perjalanan ke Nevis. Sampai di Nevis Bluff, wow…. Tinggi….. posisi loncat ada di antara 2 bukit yang dihubungkan dengan jembatan kawat baja. Nah kita loncat kira-kira di tengah sana….

navis-bridge

Kita nunggu giliran dengan duduk-duduk di administration office. Tibalah giliran kita untuk loncat. Waktu jalan di jembatan menuju tempat loncat, Puti udah mulai gemeter…. Hum… jembatannya aja goyang-goyang… Sementara saya jalan duluan di depan bareng crew Nevis Arc… busyetttt… belum loncat saja udah ngeri banget rasanya. Saya tidak membayangkan seseram ini tapi apa boleh buat, sudah bayar 🙂 Saya yang merasa urat syaraf sudah putus saja masih merasa takut apa lagi kalau orang lain, bisa-bisa pipis di celana. Kalau lihat ke dasar sungai di bawah kita rasanya kalau orang Jawa bilang “mak plas!!!!”.

Sampai di tempat loncat, kita dipasangin perlengkapan. Kita mengambil paket tandem jadi loncat berdua sama Puti. Tali-tali melingkar-lingkar di badan kita. Berhubung mereka tidak punya special equipment untuk kacamata (semacam tali pengikatnya gitu), jadi Puti harus lepas kacamata karena takut kacamatanya jatuh dan kalau jatuh ditanggung pasti tidak akan ketemu lagi atau kalau ketemu sudah jadi serbuk. Setelah lepas kacamata, otomatis Puti sudah hampir seperti orang buta karena minus 5. Tapi dia bersyukur jadi lumayan buat ngurangin rasa takut.

Setelah saya selesei dipasang harness, kemudian saya duluan ditaruh di tempat terjun dan dipasang lagi tali-talinya… terus Puti baru join sama saya. Selama dipasangin tali-tali, cerewet banget Puti nya, nanya “what should we do? What should we do?”..panik…. trus disuruh senyum dulu buat diambil foto…. Tentunya saja meskipun senyum tapi ya senyum nggak jelas karena tidak bakalan bisa membohongi diri kalau ini benar-benar mengerikan. Trus, disuruh maju, kaki diangkat ke atas, mulai nggantung… kita berpelukan karena sama-sama takut. Masih ribut juga Puti nya… petugasnya langsung nyebut, ready…. One two three…. Buzzzzzzzzz……. Jatuh bebas…. Asli nyawa rasanya lepas beneran.

Pasti ada yang pingin tanya bagaimana rasanya. Salah satu yang tanya adalah teman Puti waktu di SMA Aloysius Bandung yang namanya Alice.

Alice : “Rasanya skydive kaya apa? siga rek modar?” (Maklum kadang anak-anak Bandung kalau ngomong Sunda khan kasar-kasar. Artinya : “Rasanya skydive kaya apa? Seperti mau mati?”).

Puti : “Alice, kalo yang Nevis Arc, baru rasanya siga rek modarrrrr…. Tapi itu kata Mas Ali…. Karena sebenernya aku sendiri engga terlalu berasa secara engga pake kacamata….”

Jika saya putar ulang video saat jatuh, awalnya posisi kepala kita di atas namun kemudian berubah menjadi kepala di bawah. Beberapa detik pertama kehilangan orientasi seperti saat skydiving cuma nggak enaknya swing… saat kita sadar rasanya pas persis kepala mau bentur batu. Jujur saja nggak ada exciting-exciting nya sama sekali. Yang ada adalah perasaan full takut. Saya kurang tahu kalau sudah bukan yang pertama kali, mungkin tidak terlalu mengerikan atau tetap saja mengerikan selama-lamanya meskipun kita coba berkali-kali. Sama halnya seperti naik mobil pas melaju kencang dan terbang saat melewati jembatan, tetap kerasa di perut mules meskipun sudah seumur-umur naik mobil.

Setelah freefall dan swing, kita ditarik lagi ke atas…. Sebenarnya di atas ditawarin lagi, untuk second jump cuma bayar $35… Puti ngajak lagi cuman saya ngga mau, rasanya masih mulesssss…. Minimal nggak mau lagi kali ini, kalau sudah sembuh traumanya ya lain kali dicoba lagi.

swing-again

Selesai swing kita ke office untuk nunggu selesai dicopy videonya. Untuk Nevis Arc, kita pesan untuk yang ambil video juga, buat kenang-kenangan. Sebenarnya mereka juga ambil foto tapi saya tidak temukan file foto pada DVD yang diberikan ke kita.

Saat menunggu ini saya melihat bapak atau lebih tepatnya kakek-kakek mungkin usia 70 tahun yang sedang mengecek hasil rekaman video bungy jumping. Yang membuat saya syok adalah…. Saat kakek-kakek ini tadi datang ke office sebelum kita swing (waktunya hampir bersamaan) saya perhatikan dia datang bersama seorang anak gadis, yang mungkin umur belasan tahun mendekati 20 tahun. Kemungkinan anak gadis tersebut adalah anaknya atau cucunya. Saat itu saya menduga kakek-kakek ini mengantar gadis tersebut bungy jumping. Ternyata dugaan saya terbalik, kakek-kakek tersebut justru yang bungy diantar oleh gadis ini. Saya nggak bisa komentar apa-apa… Karena merasa berdosa akibat under estimate, saya samperin dia dan saya katakan “Apa yang kamu lakukan tadi sungguh luar biasa. Setidaknya terbukti kamu tidak punya masalah dengan jantung”. Under estimate tidak perlu dibayar dengan maaf tapi sudah sangat cukup dijawab dengan pujian 🙂 Tapi jangan cuma dibayar dengan senyum karena senyum memiliki banyak interpretasi.

Ada 2 pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian ini:

  1. Jangan under estimate orang dari usia karena age is just a number.
  2. Bungy atau extreme sport yang lain bisa dijadikan ukuran kesehatan jantung. Caranya mudah, kalau selamat dari extreme sport berarti jantungnya sehat.

Sekitar jam 12.40 kita telah selesai dari Nevis Bluff dan kita siap-siap kembali ke Queenstown ke counter AJ Hackett menggunakan bis bersama-sama dengan peserta lain. Pada saat kita turun dari Nevis Bluff ternyata pemandangannya luar biasa karena kita melihat sungai yang berkelok-kelok (meander) di suatu dataran yang rata dengan kombinasi antara warna emas atau oranye dengan warna air di meander yang mengkilat berkilau terkena sinar matahari kemudian pada bagian pinggir dari dataran yang rata tersebut terdapat pohon-pohon pendek (perdu) warna hijau dan juga bukit-bukit di sekelilingnya warna coklat dan hijau tua serta warna air sungai agak besar yang berwarna hijau seperti jamrud. Membuat suatu komposisi pemandangan yang sangat luar biasa. Pada saat tadi pagi kita naik ke Nevis kita tidak menyadari adanya pemandangan ini mungkin karena posisi pemandangan ini ada di belakang kita. Namun pada saat ini kita dalam posisi turun sehingga langsung pemandangan ini terlihat di depan mata kita.

meander

Setelah sampai di counter AJ Hackett kemudian kita luangkan waktu sebentar untuk buka email karena dapat fasilitas internet gratis untuk cerita ke teman-teman baik lewat email maupun chat menggunakan FB messenger mengenai pengalaman barusan yang kita alami di Nevis. Ada pengalaman lucu saat saya sedang menulis email menggunakan komputer yang ada di situ. Semua komputer yang ada adalah Mac dan saya tidak pernah menggunakan Macintosh sebelumnya. Pada saat saya mengetik kemudian saya sadari bahwa tulisan saya itu ada yang salah dan saya bermaksud menghapusnya. Saya sudah melihat seluruh tombol di keyboard dan tidak menemukan satupun tombol untuk men-delete. Kemudian saya juga minta tolong ke Puti barangkali dia tahu bagaimana caranya men-delete, karena kadang dia sering cerdas untuk urusan tricky-tricky an. Namun setelah dia mencari-cari juga nggak tahu bagaimana caranya. Seperti biasa clingak clinguk dulu, malu bertanya karena takut dikira mahluk dari planet lain. Saya pribadi nggak setuju dengan pepatah “Malu bertanya sesat di jalan”, saya lebih percaya pada “Sesat bertanya malu di jalan”. Namun akhirnya dengan malu-malu saya tanya kepada mbak-mbak di sebelah yang sedang chatting barangkali bisa membantu saya sambil diiringi doa semoga tanya kali ini tidak sesat. Inilah pertama kalinya saya mengetahui bahwa di Mac tidak mengenal tombol “Del” atau “Delete” tapi hanya mengenal tombol “Backspace”. Wah ndeso tenan…. Antara saya-nya yang ndeso atau Mac-nya yang ndeso, atau dua-duanya. Terima kasih Mbak…

Kemudian kita kembali ke campsite (sekitar jam 1:30 siang) untuk makan siang dan mengambil mobil. Kemudian kita berencana melihat winery di dekat Kawarau Suspension Bridge.

Main di Suspension Bridge

Jam 3 sore, saat menuju ke winery, pas berada di depan Kawarau Suspension Bridge kita putuskan untuk berhenti di Kawarau terlebih dahulu. Kita kepingin melihat orang-orang yang sedang melakukan bungy. Waktu pertama kali saya ke sini akhir tahun 1998, tempat ini sudah menjadi tempat favourite (mungkin satu-satunya saat itu) untuk orang melakukan kegiatan bungy. Tentunya sebagai mahasiswa yang mengandalkan beasiswa, tidak akan mampu melakukan kegiatan bungy. Saat itupun biayanya sudah tergolong mahal yaitu 100 dollar. Sehingga kita hanya menikmati dengan melihat orang-orang yang sedang bungy. Kalau seandainya waktu itu punya uang saya yakin saya berani coba karena hidup dulu lebih susah.

Ada kejadian menarik yang terjadi waktu itu, yang masih saya ingat sampai saat ini. Ada seorang gadis yang menggunakan kaos oblong (agak longgar) warna kuning muda yang sedang melakukan bungy. Setelah loncat dan masuk ke dalam air dimana separoh badan dari kepala sampai pantat masuk air, saat terlempar ke atas ternyata gadis tersebut sudah bugil. Umumnya saat orang sedang bungy pasti teriak histeris. Sama halnya dengan gadis ini juga teriak histeris tapi dengan alasan yang berbeda dan sambil menutupi dadanya dengan tangan. Rupanya air sungai juga bisa jahil, bisa narik kaos gadis ini. Jadi perlu diingat oleh para gadis… jangan bungy dengan kaos oblong.

Sedikit sejarah mengenai Kawarau Suspension Bridge yang sangat erat dengan sejarah berdirinya kota Queenstown yang tidak terlepas dari gold rush pada pertengahan abad 19. Orang datang ke Queenstown pada dasarnya adalah untuk mencari emas. Emas pertama ditemukan di Arrow River oleh Jack Tewa. Kota Queenstown berawal dari sebuah kota kecil Frankton yang lokasinya saat ini berada di pintu masuk Queenstown dan berada pada hulu sungai Kawarau. Selain karena gold rush, pada tahap berikutnya banyak juga orang datang ke Queenstown untuk peternakan. Namun akses ke Frankton sulit karena sungai Kawarau besar dan deras.

Untuk mempermudah akses ke Queenstown maka pada tahun 1879 Kawarau Bridge mulai dibangun dimana kontraktor yang memenangkan pembangunan tersebut adalah John McCormick. Untungnya pada tahun 1878 terjadi sebuah banjir besar di Kawarau river dengan ketinggian mencapai 7m. Oleh sebab peristiwa ini, design dari Kawarau bridge ditinggikan untuk mengatasi jika terjadinya kejadian banjir seperti itu.

Pembangunan jembatan cukup cepat yaitu memerlukan waktu 18 bulan sehingga pada tahun 1880 jembatan ini sudah resmi dibuka. Kemudian pada tahun 1963 karena semakin banyaknya lalu lintas kendaraan-kendaraan besar yang menuju ke Queenstown melewati Kawarau bridge maka dibuatlah jembatan baru untuk menggantikan Kawarau bridge.

Karena Kawarau bridge tidak digunakan lagi maka pada tahun 1988 AJ Hackett mengajukan proposal kepada Departemen Konservasi untuk menggunakannya menjadi lokasi bungy jumping. Inilah sejarahnya mengapa lokasi ini menjadi lokasi bungy jumping hingga saat ini. Pada tahun 2004 Perdana Menteri NZ saat itu yaitu Helen Clark secara resmi membuka Kawarau Bungy Centre. Sejarah dari Kawarau Suspension Bridge dapat ditemukan di Kawarau Bungy Centre. Jadi sejarah di atas bukan karena saya cerdas tapi karena saya baca pada famlet di Kawarau Bungy Centre seperti di bawah ini.

gold-rush

kawarau-history

Kawarau Bridge tidak berubah dari saat dulu dibangun hingga saat ini. Gambar Kawarau Bridge saat ini bisa dilihat di bawah.

kawarau-bridge

Dan jembatan baru yang menggantikan Kawarau Bridge.

new-bridge

Saat melihat orang-orang yang sedang bungy ada yang menurut saya cukup unik yaitu seorang wanita muda (kalau dari etnis mungkin India). Setiap sudah siap untuk loncat dan diberi aba-aba loncat oleh petugas, wanita ini selalu mengurungkan niatnya dan berbalik arah. Mungkin merasa ngeri saat melihat ke sungai di bawahnya. Sulit diceritakan kalau tidak mengalaminya sendiri, saya bisa merasakan yang dirasakan gadis ini setelah tadi merasakannya di Nevis Buff. Beberapa kali diberikan waktu oleh petugas untuk menenangkan diri dan juga diberi semangat agar dia berani loncat. Tapi kembali lagi setiap mau loncat kemudian dia mengurungkan niatnya dan berusaha merayu petugas untuk membatalkan diri. Nah karena antrian loncat sudah panjang akhirnya orang-orang yang sedang lihat ikut membantu memberikan semangat kepada wanita tersebut dengan bertepuk tangan dan teriak menyemangati. Akhirnya wanita tersebut loncat dan sempat kita abadikan meskipun hasil gambarnya kurang fokus. Saya yakin gadis ini menyesal bayar mahal-mahal hanya untuk dibuat setengah mati.

lady-bungy1

lady-bungy2

Sementara ada satu lagi seorang wanita yang sangat kontras dibanding gadis sebelumnya. Berani sekali sampai mengulangi loncat beberapa kali. Saya coba abadikan dengan multishot mode namun ISO yang saya pasang terlalu rendah sehingga agak kabur. Di sebelah saya ada seorang laki-laki yang juga serius memotret wanita ini dan saya duga adalah suaminya. Saat kita mau pulang kita lihat laki-laki yang tadi di sebelah saya dan wanita yang bungy tadi dan saya tawarin kalau dia mau foto dia pas loncat, saya bisa kirim lewat email. Akhirnya mereka berikan alamat emailnya. Mereka pasangan dari Ceko. lady-bungy3

Ternyata terdapat berbagai macam pose orang sedang bungy yang unik-unik yang ditempel di dinding Kawarau Bungy Centre misalnya seperti di bawah ini. Kalau melihat pose-pose mereka rasanya geli namun kalau menjalaninya.. asli susah diceritakan. Tapi kalau mau jujur saya merekomendasikan orang untuk mencoba skydive namun tidak bungy jumping karena saya tidak bisa merasakan dimana nikmatnya justru sebaliknya yang ada hanyalah rasa takut. Namun kalau ada yang mau coba ya silahkan saja. Mungkin saja karena ada alasan lain untuk menunjukkan sesuatu seperti halnya yang disampaikan oleh AJ Hackett “Kejantananmu tidak dibuktikan oleh seberapa besar p***s-mu namun seberapa berani kamu melakukannya (maksudnya bungy)”.

pose-bungy1

pose-bungy2

Gibbston Valley Winery

Dari Kawarau kita menuju ke Gibbston Valley Winery dan sampai sana sekitar jam 03.45 sore. Sebenarnya waktu kita perjalanan dari Wanaka menuju ke Te Anau saat melintas di depan winery ini kita sudah penasaran karena bangunannya sangat menyolok dengan atap berwarna orange yang saya rasa saya belum pernah melihat bangunan dengan warna atap seperti winery ini sebelumnya. Warna yang berbeda ini membuat winery ini sangat mencuri perhatian orang yang lewat (saya rasa). Di pintu masuk kita temukan banyak bunga Lupin warna ungu dan juga bunga lain warna merah. Winery ini dikelilingi oleh perkebunan anggur yang menjadi bahan baku dari wine. Bagi yang belum tahu, bahan wine bukan anggur yang biasa kita makan meskipun serupa namun jenisnya beda. Di dalam satu komplek ini tidak hanya winery tapi juga cheesery.

wniery1

wniery2

Di sini kita bisa nge-test berbagai macam wine di restoran. Namun sayangnya kita bukan peminum anggur sehingga kita tidak melakukannya. Namun kita bisa melihat proses pembuatan anggur dan juga proses pembuatan cheese. Juga kita bisa melihat berbagai macam peralatan yang digunakan untuk membuat anggur dan cheese. Setelah anggur diproses akan dimasukkan ke dalam drum yang kemudian disimpan di tempat penyimpanan bawah tanah atau gua untuk menjaga/mempertahankan suhu agar menghasilkan kualitas anggur terbaik. Tidak lama kita berada di Gibbston Valley, hanya kurang lebih 15 menit karena kita juga punya jadwal untuk menonton Haka di dekat campsite.

Naik Gondola Untuk Lihat Maori Performance

Dari Gibbston Valley kita menuju ke campsite untuk memarkir mobil van karena kita akan menonton tarian Haka di Skyline. Skyline sebenarnya tidak terlalu jauh dari campsite bahkan kita bisa lihat gedung tersebut namun posisinya tinggi di atas bukit yang hanya bisa dicapai dengan menggunakan Gondola. Kita akan jalan sejauh kurang lebih 300 meter untuk sampai ke Gondola.

gondola

Saat sampai Gondola kita bisa lihat berbagai macam paket pilihan yaitu paket hanya naik Gondola (banyak orang yang hanya ingin merasakan naik Gondola ke Skyline kemudian turun lagi), bisa juga paket makan di restoran di Skyline sekalian foto foto, terdapat juga paket tarian Haka, terdapat juga paket Skyline Luge yaitu paket untuk bermain mobil-mobilan (biasanya anak-anak yang main). Pilihan kita adalah Kiwi Haka namun tidak ambil paket Diner Buffet. Biayanya per orang yaitu $55.

paket-gondola

Yang unik di stasiun Gondola yang di bawah adalah logo toilet wanita. Karena merupakan lokasi bungy maka gambar wanitanya juga sedang bungy. Sementara location map dari Skyline juga dibuat cukup menarik.

toilet

Kemudian kita naik ke Skyline menggunakan Gondola atau kereta gantung. Cukup lama waktu yang dibutuhkan dari bawah sampai ke atas yaitu sekitar 10 menit. Sudut kemiringan lumayan terjal makanya tidak ada opsi lain kecuali menggunakan Gondola. Waktu sampai di atas wow… pemandangannya sungguh luar biasa yang sulit diceritakan. Kita bisa memotret kota Queenstown beserta dengan Danau Wakatipu yang begitu biru dari atas. Sebenarnya nama awal danau ini bukan Wakatipu tapi Whakatipu (“Wh” dalam Bahasa Maori dibaca “F”). Kali ini saya kurang cerdas alias kurang tahu sejarahnya kenapa dari Whakatipu bisa menjadi Wakatipu.

wakatipu1

Kemudian kita juga bisa memotret kapal-kapal yang ada di dermaga. Meskipun namanya Wakatipu, kalau dalam Bahasa Indonesia terdengar seperti Wah Ketipu namun kenyataannya justru sebaliknya. Danau ini sungguh cantik. Magnet atau bahkan jantung dari Queenstown adalah danau Wakatipu ini. Saya tidak bisa membayangkan Queenstown tanpa Wakatipu. Saya yakin kata Wah Ketipu pasti akan selalu nempel, tidak bisa dilupakan setelah baca journal ini. Dengan selalu ingat kata “Wah Ketipu” maka akan tervisualisasikan danau ini dalam otak dan mendorong seluruh energi hingga terwujud… Melihat langsung keindahan danau ini. Insya Allah terkabul.

wakatipu2

Dan satu yang sangat menarik karena kita bisa memotret Steamboat dengan dasar warna air danau yang biru tua dengan warna kapal yang kombinasi merah dan putih dan kepulan asap yang bersumber mesin berbahan bakar batubara yang terlihat begitu cantik luar biasa. Di sudut-sudut disediakan teropong yang bisa digunakan dengan memasukkan. Rasanya kepingin lebih lama menikmati pemandangan disini namun sudah saatnya harus memasuki ruangan pertunjukan tari Haka.

wakatipu3

Terdapat tujuh orang penari empat perempuan dan tiga laki laki. Pertunjukan dimulai dengan upacara adat penyambutan tamu dimana salah satu penonton bertindak sebagai kepala suku yang diterima oleh masyarakat Maori. Setelah diterima maka dilakukan Hongi atau salaman tapi dengan cara menempelkan hidung dengan hidung.

haka1

Kemudian dilanjutkan dengan para seluruh penari menyanyikan lagu-lagu tradisonal untuk penyambutan tamu. Berikutnya penari perempuan menarikan tarian-tarian adat Maori dan juga dijelaskan makna dari tarian-tarian tersebut. Mereka menari dengan menggunakan bola-bola kapas kemudian setelah mereka selesai menari mereka mengajak beberapa tamu wanita untuk naik ke panggung diajari cara menari dan melakukan gerakan sederhana tidak. Puti tamu pertama yang dipanggil ke panggung dan kemudian tamu-tamu lain sukarela naik ke panggung. Saya dapat bagian mengabadikannya menggunakan handycam.

Setelah para penari perempuan selesai giliran penari laki-laki memperagakan berbagai macam senjata yang sering digunakan oleh masyarakat Maori. Kemudian baru dilanjutkan dengan tarian Haka yang merupakan puncak dari acara ini. Setting panggung dengan cahaya warna coklat dan patung-patung dan ukiran Maori membuat suasana menjadi terasa mistis.

haka2

haka3

Tarian Haka sebenarnya adalah tarian perang masyarakat Maori. Jadi masyarakat Maori tidak pernah mengenal budaya berperang dengan cara kekerasan seperti halnya yang dikenal oleh masyarakat lain tapi mereka hanya berperang dengan cara berteriak-teriak dan menjulurkan lidah seperti orang kesurupan dan memamerkan kekuatannya untuk menakuti lawan. Yang merasa lebih lemah akan ketakutan dan pergi sehingga tidak perlu berperang. Tarian ini juga dimainkan oleh Tim Rugby NZ pada saat mereka akan melakukan pertandingan. Namun sekarang tarian ini juga menjadi tarian nasional untuk menyambut tamu.

Lirik Haka dalam Bahasa Maori:

Ka mate! Ka mate! Ka ora! Ka ora!
Ka mate! Ka mate! Ka ora! Ka ora!
Tenei te tangata puhuru huru
Nana nei i tiki mai
Whakawhiti te ra
A upa … ne! ka upa … ne!
A upane kaupane whiti te ra!
Hi!

Terjemahannya (kira-kira):

Saya mati! Saya mati! Saya hidup! Saya hidup!
Saya mati! Saya mati! Saya hidup! Saya hidup!
Ini lah laki-laki yang berbulu

Yang mengambil Matahari

Dan yang menyebabkannya bersinar lagi

Satu langkah ke atas! Ke atas lagi!

Langkah ke atas, lagi … Matahari bersinar!!

Hai!
Jangan kaget kalau ada kata-kata Bahasa Maori yang sebagian mirip dengan Bahasa kita karena mungkin berasal dari rumpun yang sama. Sebagai contoh kata “Mate” dalam Bahasa Maori sama artinya dengan Bahasa kita “Mati”.

haka4

Setelah selesai acara Puti menyempatkan foto bersama dengan menirukan gerakan terakhir Haka yaitu melet namun tidak boleh mata tertutup tapi justru harus terbuka selebar-lebarnya. Seluruh acara selesai sekitar jam 7 malam, kita sempatkan keliling sebentar di Skyline dan ternyata gedungnya besar sekali tidak hanya untuk pertunjukkan namun seperti mall dimana banyak juga took-toko yang umumnya jual souvenir dan juga tempat makan.

Rasanya capek banget kita hari ini namun kita juga melakukan banyak kegiatan yang menarik, menyenangkan dan luar biasa. Kita kembali ke campsite supaya bisa segera istirahat. Kita punya ledekan buat campsite kita. Nama campsite kita adalah Lakeview Holiday Park tapi tergantung dari mana kita melihat. Karena ada 2 view, yang satu memang Lake dan yang satu lagi…. Cemetery.

Sebagai informasi dan pembelajaran sebelum menutup journal ini, pembuatan film Lord of The Rings yang disutradarai dan diproduseri oleh Peter Jackson merupakan salah satu film yang menelan biaya pembuatan paling mahal yaitu sekitar $300 juta. 3 seri film ini dikerjakan sekaligus sejak tahun 1997 dimana Seri 1 diluncurkan tahun 2001, Seri 2 pada tahun 2002 dan Seri 3 (terakhir) pada tahun 2003. Pada saat tahun 1998-1999 saya di Auckland, masih banyak dilakukan penjaringan pemeran pendukung untuk film ini karena film ini melibatkan pemain yang begitu banyak. Meskipun memerlukan biaya pembuatan sangat besar namun film in sangat sukses dan mengantongi berbagai macam penghargaan. Pendapatan besar dari film ini dan juga penghargaan yang diterima tidaklah cukup. Film ini memberikan dampak pariwisata yang sangat besar untuk NZ. Banyak wisatawan dari seluruh dunia datang karena film LOTR hingga saat ini dan tidak tahu hingga berapa tahun atau bahkan puluh tahun kedepan. Berapa banyak uang yang dibelanjakan wisatawan untuk membeli souvenir yang berhubungan dengan film ini.

Film ini memang sengaja menjadi ajang promosi pariwisata NZ bahkan saking seriusnya, pesawat Air New Zealand sampai dicat LOTR saat peluncuran film ini. Strategi promosi pariwisata tidak hanya dilakukan oleh NZ tapi juga oleh Thailand melalui beberapa film salah satunya film The Beach (2001) yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio untuk mempromosikan Phi Phi Island atau sering sebut juga sebagai Krabi (karena berada di Provinsi Krabi). Phuket juga dipopulerkan dengan banyak film. Indonesia juga bisa mengadopsi teknik tersebut namun banyak yang harus dibenahi. Seperti diketahui bersama, film Eat Pray Love (Mid 2010) pembuatannya sebagian dilakukan di Bali. Namun tim yang terlibat produksi film tersebut mengeluhkan rumitnya birokrasi/perijinan dan adanya berbagai macam pungutan selama pembuatan film tersebut. Harusnya dengan mempertimbangkan dampak postif yang ditimbulkan, produksi film dengan latar belakang Indonesia harus dipermudah dan tidak sebaliknya. Kalau semua ada pungutan, semua dipungut takutnya Negara ini nanti menjadi Negara pemungut. Bahkan banyak negara yang tidak segan mengeluarkan biaya besar agar suatu film dibuat dengan latar belakang negaranya. Tentunya hal tersebut dilakukan melalui pertimbangan yang matang dan masuk akal.

to be continued to “Day 11: Queenstown”