Day 11: Queenstown

Summer 21 Desember 2010. Queenstown

Hari ini kita praktis tidak ngapa-ngapain. Lumayan buat recovery jantung akibat kegiatan Nevis Arc kemarin. Sebenarnya kita sudah set alarm untuk bangun jam 6 dan jam 7 pagi. Alarm diset di 2 HP yang berbeda dengan 2 waktu yang berbeda masing-masing beda 1 jam. Alasannya kalau alarm yang HP pertama tidak mempan maka masih ada harapan untuk dibangunkan oleh alarm HP kedua. Sebenarnya tadi pagi tidak ada masalah dengan bangun akan tetapi pas bangun ternyata hujan jadi yang menarik dilakukan ya menarik selimut lagi alias lanjut tidur.

Dalam keadaan hujan memang sulit kita lakukan outdoor activities jadi bingung juga mau ngapain, tengok campervan lain juga terlihat tidak ada tanda-tanda pada mau bangun jadi ya semakin memperkuat niat untuk lanjut tidur lagi. Akhirnya kita bangun jam 10, lanjut bikin sarapan pagi yang agak berat karena Puti rencananya mau sewa kayak. Dia pingin main kayak di danau Wakatipu jadi butuh banyak energi. Karena masih dalam program menghabiskan Indomie maka untuk sarapan berat, kita masak 4 bungkus Indomie karena masih ada 20 bungkus Indomie Goreng padahal masih ada juga Mie Cup dan mie kuah. Mantap sekali sarapan pagi ini yaitu Indomie Goreng pakai telor. Saya rasa semua orang akan setuju kalau disebut Indomie adalah makanan paling enak sedunia. Untuk makan siang juga sudah disiapkan yaitu sandwich roti 4 pasang untuk berdua.

Meskipun masih jauh dari jadwal pulang, namun kita sudah punya program yang sangat ketat untuk menghabiskan makanan yaitu Indomie baik goreng maupun kuah dan yang paling berat adalah untuk menghabiskan sosis dan beras basmati. Semuanya Puti yang mesti bertanggung jawab karena dia yang mengambil keputusan membeli barang-barang tersebut. Tapi mana mungkin dia mau bertanggung jawab sendirian, pasti dia bisa saja dapat argumentasi yang tepat agar saya juga harus tanggung jawab, nasib… nasib… Sosis masih 20 biji berarti tiap hari harus dimakan 5 biji, perjanjiannya adalah saya makan 3 biji dan Puti 2 biji. Dari sini pun sudah nampak akhirnya siapa yang harus lebih bertanggung jawab, aneh khan? Feelingku… penderitaan belum akan berakhir, pasti masih banyak yang lebih menyengsarakan.

Kenyataannya belum juga dicoba diaplikasikan perjanjian yang dia bikin, dia sudah nyerah. Saya lebih tepatnya menyebut aturan bukan perjanjian karena kalau perjanjian itu harus disetujui bersama sedangkan aturan ya suka-suka dia saja yang bikin. Aturan yang dibuat tidak fair banget, meskipun dia nyerah tapi saya tetap harus konsisten dalam program menghabiskan sosis. Jadi tiap hari saya harus makan 3 biji sementara bagian dia yang 2 sosis nanti dia buang, jahat banget khan? Di sini sudah jelas ada tindakan diskriminatif, memang kalau dia nggak bisa makan sosis apa dia pikir saya bahagia makan sosis? Karena saya nggak tega buang makanan makanya tadi pagi saya juga sudah makan 2 sosis dan rencana makan malam 2 sosis lagi. Sebenarnya saya nggak tahu budaya sayang buang makanan itu baik atau bodoh, sulit dibedakan.

Urusan beras, pertama kita mendarat di Christchurch langsung ke supermarket Super Value kita langsung beli beras, ada beberapa jenis beras, kata Puti sebaiknya ambil beras Basmati, kata dia sih itu jenis beras yang bagus dari India yang setipe dengan yang buat bikin nasi briani. Meskipun Bapak saya petani tapi nggak ngerti urusan beras Basmati karena setahuku beras yang bagus ya Rojolele, Pandanwangi, Cianjur… akhirnya ya aku percaya sama dia saja. Nah pas pertama masak nasi tersebut waktu mau buat nasi goreng di Akaroa beach, jujur saja jangankan pas makan nasinya, pas cuci berasnya saya sudah tahu kalau pilihan berasnya sudah 1000% salah, bau apeknya saja amit-amit, bau karung goni, kayak beras bulog jaman dulu (saya sebut bulog jaman dulu supaya nggak disomasi karena pegawai bulognya sudah pada meninggal) yang sudah disimpan di gudang 5 tahun, masak bisa dia bilang beras bagus.

Saya hafal model beras yang kaya begini ini, karena saya merasakan penderitaan yang sama waktu kecil. Karena selain petani Bapak saya juga guru SD jadi tiap bulan dapat jatah beras seperti ini sekarung. Dijual nggak laku terpaksa harus dimakan sendiri. Mungkin untuk keperluan diet sih bagus, mungkin beras tersebut sudah tidak mengandung kalori, jadi mau makan sekenyangnya ditanggung tidak akan tambah kolesterol. Atau kalaupun mengandung kalori juga nggak papa karena nggak akan bertahan lama dalam tubuh alias selesai makan terus muntah.

Nah setelah kita pelajari ternyata beras model begini tidak cocok untuk menjadi nasi biasa. Beras basmati nggak masalah untuk nasi briani karena dicampur dengan berbagai macam bumbu atau waktu kita buat nasi goreng saat di Akaroa juga nggak terlalu menyiksa. Misalkan beras jenis ini dijadikan nasi kebuli ya cocok-cocok saja karena baunya hilang ketimpa bumbunya. Tapi nggak papa, dia sudah menyadari kesalahannya dan sudah minta maaf jadi pada hari kedua sebelum kita cabut dari Christchurch menuju Punakaiki kita mampir ke supermarket Pak’n Save untuk beli beras, kali ini berasnya jenis Jasmine dan ternyata dia benar, beras tersebut layak untuk dikonsumsi. Kalau menghabiskan beras ini saya masih mau asal jangan basmati.

Mengenai supermarket Pak’n Save, ini saya rasa asalnya adalah dari kata f**king save yang maksudnya kalau dalam bahasa Indonesia mungkin “Gila murah banget!!!!” Nah supaya tidak kasar maka dibuat agak kreatif menjadi Pak’n Save, dasar Kiwi karena negaranya kecil jadi apa lagi yang mau dipikirin selain bikin yang aneh-aneh dan harus kreatif biar beda, udah kecil kalau nggak kreatif siapa yang mau tengok? Tapi supermarket Pak’n Save memang paling murah dibandingkan yang lain dan parkirnya luas banget. Peluang lain maksud dari Pak’n Save adalah Pack and Save. Nah mana yang benar? Saya tetap yakin versi yang pertama, kalau orang Sunda bilang… keukeuh 🙂 Lha ini khan bukan kesepakatan, bukan perjanjian, aturan juga bukan jadi ya suka-suka saya.

Kalau menurut sopir bus saat kita ikut paket tur ke Milford, dia juga cerita asal muasal kata Zealand. Asalnya sebenarnya dari kata Sea dan Land tapi diplesetin jadi Zealand. Kayanya saya setuju dan masuk akal. Nah kalau yang ini, sekali lagi menurut saya, kata Auckland asalnya dari Oak dan Land, kenapa? Karena kalau dicari sampai kenyang nggak ada kata Auck dalam Bahasa Inggris. Mungkin akan ada yang nggak terima dan menyangkal, nggak masuk akal, karena pohon oak itu bukan pohon asli NZ, itu pohon dibawa oleh pendatang dari Eropa ke NZ. Lha namanya juga ngarang, kalau nggak setuju ya silahkan diteliti, diselidiki asal usul nama Auckland. Syukur-syukur ketemu jawaban yang lebih rasional sehingga saya jadi ikut pinter. Kalau cuma bantah-bantahan nggak dapat manfaat, cuma ramai doang. Kalau menurut Gus Dur “Gitu saja kok repot”.

Setelah sarapan kita ke Downtown untuk menyewa kayak, “kayak” ini kalau pakai bahasa keren. Sementara kalau di kampung saya disebut jukung. Tapi sebelum ke Downtown kita lihat Danau Wakatipu terlebih dahulu. Ternyata anginnya kencang sekali dan ombaknya seperti ombak di laut yang cukup tinggi akhirnya kita putuskan untuk tidak menyewa kayak padahal Puti sudah menyiapkan baju andalan yaitu baju lumba-lumba. Kalau memaksakan main kayak, dia khawatir nggak bisa balik. Kalau saya sih tidak hanya khawatir tapi haqqul yakin atau yakin seyakin-yakin-nya dia bakalan tidak bakal balik. Akhirnya kita duduk-duduk di dekat water front.

Saat tadi turun dari campsite menuju ke Waterfront, kita melihat mobil bak terbuka menurunkan potong-potongan kayu sepertinya kayu bakar. Diturunkannya asal saja di pinggir jalan dan menutupi trotoar. Dalam hati saya merasa hal ini rada aneh, kok masih ada yang model beginian disini, nurunin barang seenaknya di trotoar. Ternyata sebentar kemudian ada beberapa orang yang datang mengambil kayu-kayu tersebut dan membawanya ke sebuah restoran yang tidak jauh dari tumpukan kayu diturunkan tadi. Ternyata adalah restoran pizza. Waktu kita melewati restoran tersebut baunya wangi sekali, dan asap keluar dari cerobong asap di atap restoran. Nampaknya restoran ini masih membakar pizza-nya dengan cara tradisional di dalam oven atau tungku yang menggunakan kayu bakar. Saya menduga kayu tadi adalah kayu pinus karena kalau saya menebak kayu tersebut kayu jati, sudah bakalan salah telak. Bau wangi dari pizza sangat menggoda sekali. Namun kita (minimal saya) tetap kepada janji (tepat-nya adalah aturan Puti) untuk menghabiskan stock makanan yang masih banyak. Penderitaan ini menjadi berlipat ganda, minimal dua kali lipat, penderitaan pertama nahan godaan wanginya pizza dan yang kedua membayangkan penderitaan ngabisin sosis.

Sebetulnya banyak hal bisa dilakukan di water front. Kita bisa naik jet boat yang mana dari water front ini kita akan dibawa ke sungai Kawarau yang banyak dinding-dinding batunya kemudian boat ini dijalankan dengan sangat kencang dan mepet sekali (beberapa centi) dengan dinding. Kemudian juga dibuat manuver seolah-olah boat akan menabrak dinding batu namun pada jarak yang cukup dekat kemudian boat berputar. Yah seperti nge-drift kalau mobil. Itu menurut iklan video yang saya lihat di Administration Office Lakeview Holiday Park. Kita putuskan untuk tidak coba jet boat karena kita masih dalam masa recovery jantung.

Karena saya mengerti banget urusan mesin jet boat yang digunakan ini maka saya akan jelaskan sedikit buat nambah pengetahuan. Sekali lagi bukan speed boat tapi jet boat. Apa bedanya? Speed boat mungkin lebih representative jika boat menggunakan tenaga pendorong dari baling-baling atau propeller. Sementara jet boat menggunakan daya pendorong air kecepatan tinggi/kecepatan jet. Bukan berarti jet boat tidak memiliki propeller, tetap ada propeller-nya namun berbeda cara kerja. Jet boat menggunakan propeller untuk menyedot air dan merubah air menjadi kecepatan tinggi kemudian air kecepatan tinggi tersebut yang menabrak air di luar engine (misalkan sungai atau danau) sehingga boat menjadi terdorong. Sama halnya dengan pesawat ada pesawat jet ada pesawat baling-baling atau propeller. Saya menceritakan urusan jet boat ini karena penemu dari jet boat engine adalah orang New Zealand lahir di Ashburton, kota kecil dekat Chrischurch, yang bernama William Hamilton. Kota Ashburton nanti kita lewati kalau menuju Christchurch. Untuk menghormati penemuannya tersebut jenis mesin yang seperti ini disebut sebagai mesin Hamilton Jet. Mesin buatan Hamilton ini digunakan di seluruh dunia karena memiliki banyak kelebihan dibanding menggunakan propeller. Salah satu keunggulannya adalah Hamilton Jet bisa tetap berjalan di air yang sangat dangkal meskipun hanya 2.5 cm yang mana boat dengan propeller mungkin tidak akan bisa melakukannya. Hamilton adalah salah satu penemu New Zealand yang temuannya mendunia selain ahli nuklir Rutherford dan pendaki Everest Edmund Hillary. Tapi kita tidak temukan gambar Hamilton dalam uang NZ tapi Rutherford ada pada uang pecahan NZ$100 dan Edmund Hillary pada uang pecahan NZ$5.

jet-boat

Juga terdapat paket para layang yang ditarik dengan menggunakan boat di Danau Wakatipu ini. Kalau lihat gambarnya seperti speed boat karena masih menggunakan propeller. Mirip dengan yang di Kuta kalau pernah kesana dimana banyak yang main para layang dengan cara ditarik dengan speed boat. Bedanya ini dilakukan di danau kalau umumnya di Indonesia seperti di Kuta tersebut ada di daerah pantai.

paraflight

Kita memilih duduk santai sambil minum coklat di Patagonia. Tempat ini cukup dikenal di Queenstown. Di samping coklatnya lumayan enak juga posisinya yang dekat sekali dengan water front sehingga orang bisa santai minum coklat sambil memandang ke danau atau lihat orang-orang lain pada sibuk dengan aktivitas masing-masing di danau.

Kalau urusan coklat, saya sering sakit hati karena yang dikenal itu coklat Belgia, coklat Swiss, coklat Jerman. Sementara coklat tidak bisa tumbuh di negara-negara yang disebut tadi. Coklat hanya hidup di iklim tropis yang artinya semua coklat baik yang Belgia, Swiss, Jerman tadi semuanya diimpor. Sebagian besar coklat di dunia ditanam di Afrika Barat, paling besar di Pantai Gading. Tapi asal coklat sendiri dari daerah Amazon yang akhirnya tersebar di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Coklat sampai Indonesia dibawa oleh Belanda dari Afrika dan ternyata cocok hidup di Indonesia. Meskipun bukan produsen coklat terbesar tapi produsen No. 3 di dunia sehingga Indonesia harusnya bisa memainkan peranan yang cukup penting. Nah karena saya bukan ahli coklat saya bingung bagaimana kita tidak bisa dikenal seperti Belgia, Swiss, Jerman. Lagi-lagi karena saya bukan ahlinya maka saya bingung bagaimana menjadikan Indonesia masuk kepada jajaran negara-negara yang dikenal dengan kualitas coklatnya. Logikanya karena bahan dasarnya ada di Indonesia, proses produksi juga bisa lebih murah, semestinya bisa atau mampu menghasilkan produk dengan harga yang lebih kompetitif. Tinggal dua hal yang perlu dibenahi yaitu faktor produksi sehingga menghasilkan kualitas terbaik dan branding atau marketing. Banyak yang tidak tahu bahwa Institut coklat yang tertua di dunia ada di Indonesia, tepatnya di daerah Jember, Jawa Timur. Sementara ini kita lupakan dulu urusan sakit hati gara-gara coklat ini, kita nikmati saja dulu coklat Patagonia.

patagonia

Karena harganya relative mahal jadi ya kita beli tidak usah terlalu banyak yaitu cukup 1 cup coklat yang kita minum berdua dan cookies. Cookies meskipun dari bahan coklat namun disini diolah dengan berbagai macam teknik sehingga menjadi berbagai pilihan. Harga cookies bukan dihitung bijian tapi ditimbang berapa gram beratnya. Saya rasa sudah cukup jelas, tidak perlu dijelaskan lagi mengenai harganya.

patagonia-chocolate

Di samping coklat dan cookies, ice cream disini juga sangat enak sehingga tidak boleh dilupakan. Tersedia berbagai macam rasa namun kita lebih suka yang model dicampur-campur. Namun kalau ada Tip Top Ice Cream, kita tetap akan pilih Tip Top hehehe…. Hingga saat ini kita masih konsisten terhadap aturan Puti untuk tidak makan berat.

patagonia-ice-cream

Di danau ini banyak kita temukan bebek liar dan juga burung camar. Mereka akan datang mengerubuti kita jika kita bawa makanan. Karena di NZ jadi makanan kesukaan mereka adalah roti. Kalau bebek di kampung saya makanannya kodok dan keong. Kita bisa beli roti untuk makanan mereka di toko-toko sekitar danau.

ducks

Di danau Wakatipu terdapat satu-satunya kapal uap atau steam boat yang sangat terkenal dikarenakan usianya yang sudah lebih dari 100 tahun. Kapal ini masih digunakan untuk membawa wisatawan keliling Danau Wakatipu hingga saat ini. Kapal ini sering membawa wisatawan dari water front ke seberang danau karena terdapat atraksi pencukuran domba dan sekaligus paket makan siang. Steam boat ini bahan bakarnya menggunakan batu bara sehingga asapnya kelihatan hitam kotor.

steamboat

Sedikit kembali ke Te Anau, satu yang terlewat waktu di Te Anau, tidak sempat berkunjung ke Glow Worm Cave yaitu gua yang ditutupi cacing yang bisa menyala karena cacingnya mengandung fosfor. Saya sudah pernah melihatnya saat kuliah dulu yaitu di daerah Waitomo yang ada di North Island. Puti belum pernah melihatnya. Ya mungkin lain waktu. Waktu di Te Anau tidak sempat ke Glow Worm Cave karena lokasinya di seberang kota Te Anau sehingga harus menggunakan ferry sekitar 2 jam lebih dikit untuk menjangkaunya.

Sekarang sudah jam 4:30 sore, dari water front kita jalan-jalan dan masih kepikir untuk bisa mancing disini tapi biayanya agak lumayan mahal meskipun hanya 2 jam sementara persediaan uang sudah mulai menipis. Sembari jalan kita coba mampir di beberapa ATM, coba kartu ATM baik yang BNI maupun Mandiri, siapa tahu masih ada sisa uang sehingga agak sedikit leluasa kalau jadi ikut program memancing. Ternyata ATM Mandiri Puti bisa ditarik beberapa ratus dollar dan BNI saya bisa ditarik 80 dollar. Nah dengan hasil uang tarikan dari ATM itu kita memutuskan untuk ikut program memancing. Kita menuju ke i-Site (Pusat Informasi) untuk mendaftarkan program memancing. Untuk memancing 2 jam biayanya $120 per orang dan kita ikut berdua. Sebetulnya pingin ikut jadwal yang paling cepat sekitar setengah jam dari kita daftar tapi ternyata boat untuk memancing sedang ada yang menyewa sehingga kita ikut program yang jam 5 sore saja. Akhirnya kita balik dulu ke campsite untuk makan siang dan memperpanjang stay semalam lagi di Queenstown. Jangan bingung disebut makan siang padahal sudah sore. Karena ini musim panas yang harinya panjang jadi jam aktivitas kita juga bergeser. Lagi pula tadi pagi kita baru sarapan jam 10 lewat.

Sampai campsite kita makan siang nasi plus ikan mackarel dalam kaleng (ya seperti sardine di Indonesia tapi ikan mackarel-nya gede-gede, tiga potong dalam satu kaleng). Selesai makan siang jam 5 sore kita ke water front untuk ketemu Stu Dever yang akan memandu kita mancing. Stu Dever terkenal sebagai pemandu mancing paling top disini jadi kita sangat beruntung karena yang memandu kita mancing adalah Stu Dever. Stu meminta maaf ke kita karena saat itu angin kencang sekali jadi dia menjelaskan ke kita kalau sebaiknya tidak berangkat memancing karena kemungkinan akan sangat kecil untuk mendapatkan ikan. Sebelum berangkat kita juga punya pikiran yang sama. Namun karena sudah janji, kita tetap harus datang dan keputusan berangkat memancing atau tidak bukan di tangan kita sehingga dengan pengetahuan yang terbatas tidak semestinya kita percaya pada asumsi kita sendiri. Meskipun ditunda tapi kita setuju dan happy dengan penjelasan Stu. Jadinya dia reschedule untuk memandu mancing kita besok pagi yaitu jam 9 pagi. Hopefully kita besok bisa dapat ikan salmon (fresh water salmon) dan trout karena tadi kita sudah beli saus untuk memasak ikan yang kita tangkap besok hehehe… pede amat 🙂

Saya tidak akan pernah lupa nama Stu karena mirip Bahasa Jawa Setu yang artinya Sabtu. Jadi jangan heran kalau saya banyak hafal nama orang atau nama tempat. Sekali lagi bukan karena punya memory bagus tapi lebih karena ada berbagai macam teknik untuk menghafalkannya. Tidak sulit kok… Yaitu pertama dengan menganggap semua nama adalah unik. Yang kedua, diasosiasikan dengan sesuatu yang lucu atau yang sudah sangat kita kenal. Dalam kasus Stu, sudah tahu jawabannya yaitu menggunakan teknik yang kedua. Just try it…

Saat kita balik menuju campsite kita berpapasan dengan seorang laki-laki yang menggunakan kursi roda elektrik dengan tanda lampu yang berkedip-kedip sebagai tanda orang berkebutuhan khusus. Orang ini mohon maaf… tidak memiliki kedua kaki dan kedua tangan yang sempurna. Kedua kaki mungkin hanya sekitar 10 cm dari badan sementara kedua tangannya juga cuma sampai siku. Kita lihat orang ini saat di Franz Josep karena kebetulan dia parkir di sebelah van kita. Mobil van dia merk Mercy yang sangat bagus. Kenapa saya menceritakan ini karena saya salut pada orang ini. Meskipun berkebutuhan khusus namun dia nyetir sendiri tanpa ada yang bantu dan berjalan sendiri kemana-mana menggunakan kursi roda elektrik yang kemudikan menggunakan remote control. Mobil dia juga semua otomatis yang dioperasikan menggunakan remote control tapi tetap menggunakan kemudi yang sudah dimodifikasi. Karena posisi van dia persis di sebelah van kita sehingga untuk menjawab rasa penasaran, saya amati apa saja yang ada dalam mobil dia dan apa saja yang dia lakukan. Mobil dia telah didesain begitu bagus sehingga dia mudah mengoperasikannya. Dia keluar masuk mobil menggunakan kursi roda lewat pintu belakang mobil. Pintu keluar belakang mobil dilengkapi dengan tangga untuk keluar masuk kursi roda. Buka tutup pintu dan lipat tangga dioperasikan pakai remote control. Setir mobil juga sudah dimodifikasi, tidak lagi berbentuk lingkaran tapi seperti batang lurus dan di ujung kiri kanan ada batang yang disambungkan ke tangan dia karena tangan dia terlalu pendek. Semua tombol mobil sudah dipindah ke kursi sehingga dia mudah mengoperasikannya. Di bagian depan dan belakang mobil diberi tulisan khusus dan besar, sehingga mudah terbaca dari jauh, sebagai tanda orang berkebutuhan khusus sehingga pengendara lain memaklumi kalau jalan mobil terlalu pelan. Saya membayangkan kapan orang-orang seperti dia di Indonesia bisa menikmati hidup seperti dia. Fasilitas umum di sini sudah diatur sedemikian rupa agar orang-orang seperti dia bisa beraktivitas seperti layaknya orang normal.

Karena saat di Franz Josep saya amati terus orang ini, kesimpulan saya, dia tidak pernah meminta tolong. Itu yang membuat saya surprise dengan kondisi dia yang terbatas seperti itu. Meskipun secara fisik tidak sempurna tapi rohaninya normal jadi saya ingat malam itu dia keluar mobil dan baru balik hampir pagi, kita terbangun karena bunyi remote dia yang khas saat buka pintu mobil. Ada tanda-tanda bandel juga ini anak…. Karena kita berpapasan dengan dia di dekat pintu masuk Lakeview Holiday Park jadi saya yakin dia juga tinggal di campsite yang sama dengan kita. Jam segini dia keluar dan kalau dia balik baru besok subuh berarti confirmed anak ini memang bandel beneran.

to be continued to “Day 12: Fishing at Lake Wakatipu”