Day-12: Fishing at Lake Wakatipu, Queenstown

Summer 22 Desember 2010. Queenstown, Omarama, Ohau, Twizel

Tadi pagi kita bangun pagi-pagi, sebetulnya sih seperti biasa HP yang satu diset alarm jam 6 dan HP yang satunya lagi diset jam 7. Bisa ditebak mana yang bisa membuat kita bangun. Sebetulnya alarm pertama itu hanya warning saja untuk wake up dan alarm kedua untuk get up atau the last warning karena kalau kita tidak bangun pasti ketinggalan. Jadinya kita bangun jam 7 dan tadi pagi cuacanya agak hujan, seperti pada ramalan cuaca minggu ini bahwa hari ini will be wet. Kemarin direncanakan jam 5 sore kita fishing dan karena anginnya kencang akhirnya diputuskan acara fishing akan dilaksanakan jam 9 pagi hari berikutnya (hari ini). Agar bisa tepat start fishing jam 9 maka kita harus bangun jam 7 agar cukup waktu untuk menyiapkan makan pagi dan mandi. Setelah itu kita jalan sekitar 10 menit sudah sampai ke wharf tempat janjian kita dengan orang yang akan meng-guide kita mancing yaitu Stu Dever.

Tadi pagi, untuk menghemat waktu maka kita makan sereal dengan yoghurt. Merk serealnya sama dengan yang dimakan Puti untuk sarapan di kantor yaitu Wheat Bix. Kita berangkat lebih awal yaitu jam 8.30 menuju ke wharf, waktu sampai sana Stu Dever belum datang jadi kita putar-putar sekitar wharf karena ada semacam traditional market yang jual karya-karya seni seperti keramik, kalung dari jade maupun bone. Semuanya handmade jadi bisa ditebak harganya juga lumayan mahal karena memerlukan waktu yang cukup lama dalam proses pembuatannya. Beberapa waktu kemudian Stu datang dengan boatnya, dia bilang kalau boatnya dia bawa pulang karena kalau diparkir di wharf takut dipakai mabuk-mabuk oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab di malam hari. Yah namanya mabuk mana mungkin tanggung jawab. Jadi dia berangkat dari rumah menggunakan boat dan pulang menggunakan boat lagi. Dia tinggal di seberang wharf, karena bentuk lake shore seperti “U” memang akan lebih efektif menggunakan boat karena bisa langsung motong sementara menggunakan jalan darat harus memutar sehingga jaraknya menjadi lebih jauh.

Setelah kita ketemu, dia minta waktu untuk mempersiapkan perlengkapan sekitar 5-10 menit, lagi pula kedatangan kita juga memang lebih cepat dari jadwal bahkan saat selesai mempersiapkan perlengkapan, waktu juga belum menunjukkan jam 9 pagi. Jam 9 pagi akhirnya kita berangkat, cuaca masih gerimis akan tetapi tidak masalah asalkan tidak berangin. Kita tidak perlu menunggu berhenti hujan karena “You’ll get wet anyway” (itu motto aktivitas air di Queenstown).

Dari wharf boat berjalan kurang lebih 5-10 menit tapi tidak dengan kecepatan pelan tapi dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju ke tengah danau dekat dengan pulau kecil yang ada di tengan danau, kemudian Stu menunjukkan suatu daerah dimana terlihat airnya tenang sekali, seperti ada garis batas antara air yang bergelombang dengan daerah yang tenang tersebut dan Stu mengatakan kalau kita akan mancing di daerah tersebut karena umumnya di daerah tersebut banyak ikan. Di samping mengandalkan feeling dan kebiasaan, kapal Stu juga dilengkapi dengan alat sonar yang dapat mendeteksi keberadaan ikan di dalam air. Di beberapa tempat terlihat pada monitor bahwa ikan-ikan masih berada di dasar danau yang mungkin masih dalam posisi tidur padahal hari sudah siang. Mungkin tadi malam ikan-ikan ini pada begadang. Kita tidak memiliki peluang besar untuk mendapatkan ikan di tempat seperti ini. Harus dicari di daerah dimana ikan-ikan sudah mulai bergerak ke permukaan yang diperkirakan sedang mencari makan.

Mengenai sonar untuk mendeteksi ikan sangat menarik perhatian saya. Saya berpikir bahwa jika diterapkan untuk para nelayan di Indonesia mungkin akan dapat meningkatkan perolehan tangkapan mereka. Karena para nelayan dapat mencari lokasi yang memiliki banyak ikan. Dan waktu saya cek di internet alat sonar untuk menangkap ikan ini harganya tidak terlalu mahal alias terjangkau oleh para nelayan. Mungkin Pemerintah juga dapat mengadakan peralatan tersebut dimana jika pembelian dalam jumlah besar bisa dapat discount atau bahkan pabriknya disuruh memproduksi alat tersebut di Indonesia jika dapat memproduksi lebih murah. Jika tidak dibagikan secara gratis (karena kadang tidak bagus juga karena menjadi tidak ada rasa memiliki) bisa disubsidi sebagian oleh pemerintah sebagai bagian dari program peningkatan tangkapan nelayan atau secara luas program peningkatan tingkat hidup nelayan (tradisional). Saya yakin perusahaan-perusahaan besar penangkap ikan sudah menggunakan teknologi ini. Nah pertanyaannya adalah bagaimana nelayan tradisonal mampu berkompetisi dengan mereka? Oleh sebab itu perlu peningkatan kapasitas baik dari segi SDM dan juga teknologi. Saya juga sempat diskusi dengan anak lulusan Oceanografi ITB yaitu Mahesa dan Taqwim yang kebetulan sedang mengambil kuliah S2 geothermal dan menurut mereka keberadaan ikan juga dapat dimodelkan dengan melibatkan berbagai variabel fisis seperti arus, temperatur dan lain-lain, juga variabel biologi seperti plankton yang nanti imbasnya ke rantai makanan ikan yang dituju. Artinya Pemerintah juga dapat membantu nelayan dengan cara mengeluarkan peta lokasi ikan seperti halnya peta ramalan cuaca. Peta ini juga perlu untuk menjaga sustainability dari populasi ikan supaya tidak over exploitated.

Danau Wakatipu cukup dalam, untuk bagian yang terdalam adalah lebih dari 400 meter dan merupakan danau terdalam di NZ, di daerah kita memancing dalamnya sekitar 60 meter (170 ft) dan di daerah yang paling dangkal bahkan cuma 40 ft (13 meter). Prinsip memancing yang kita lakukan bukan river fly and spin fishing akan tetapi troll fishing. Perbedaannya mancing model river fly and spin itu seperti mancing di Indonesia jadi kita masuk kedalam air mungkin sampai airnya mencapai dada kemudian pancing kita lempar kemudian kita spin, kita gulung. Mancing yang kita lakukan adalah model troll fishing yaitu pancing kita lempar kemudian batang pancingnya kita tancapkan di boat sementara boatnya kita jalannya meskipun dengan kecepatan rendah sekitar 5-10 km/jam. Kita tidak perlu pegangi pancingnya jadi cukup kita lihat saja dari dalam boat, kita tunggu nanti kalau umpannya ditelan oleh ikan maka batang pancing akan terlihat seperti ada yang narik.

start-fishing

Belum sampai 5 menit kita mancing, batang pancing terlihat ada yang narik (kalau dalam memancing istilahnya strike atau umpan disambar ikan) kemudian kita spin ternyata kita dapat ikan yang cukup besar, panjangnya sekitar 50 cm jenis rainbow trout mungkin beratnya lebih dari 1.5 kg atau mungkin 2 kg. Rainbow trout berasal dari keluarga yang sama dengan Salmon. Kalau dilihat dari dagingnya warna rainbow trout dan salmon sangat mirip yaitu warna orange, cuma warna daging salmon lebih cenderung orange ke pink. Menurut beberapa orang, rasa daging rainbow trout lebih gurih dari salmon.

first-catch

Kita kaget juga karena baru lempar umpan sebentar langsung dapat ikan. Yang narik ikan pertama saya sedangkan Puti bagian yang memotret. Beberapa waktu kemudian terlihat batang pancing ada yang narik, batang pancing melenting maka langsung di-spin oleh Puti. Setelah diangkat ternyata potongan kayu. Karena beberapa hari belakangan ini sering hujan di Queenstown maka banyak potong-potongan kayu-kayu, ranting-ranting pohon yang terbawa ke sungai dan lanjut ke danau. Setelah kita tunggu agak lama mungkin lebih dari 30 menit kita baru dapat ikan yang kedua, jenis ikannya salmon. Sebetulnya jarang yang bisa dapat salmon karena populasinya lebih sedikit. Memang ukurannya lebih kecil dari rainbow trout yang kita dapat pertama. Ukurannya sekitar 45 cm.

second-catch

Setelah dapat 2 ekor kita tunggu lama nggak dapat ikan lagi. Waktu tur mancing kita yang cuma 2 jam sudah hampir habis, sudah berjalan 1.5 jam tapi kita belum dapat tambahan ikan lagi. Sebelum selesai kita dapat tambahan 2 ekor ikan lagi jenis salmon dan rainbow trout di waktu yang berdekatan. Ikan salmon hasil tangkapan yang ketiga ukurannya hampir sama dengan tangkapan kedua. Ikan rainbow trout hasil tangkapan ke-4 lebih besar dari hasil tangkapan pertama.

third-catch

fourth-catch

Setelah dapat 4 dan kita masih punya sisa waktu sedikit kemudian Stu menanyakan ke kita apakah kalau dapat ikan lagi mau dilepaskan atau dikonsumsi. Kita bilang ke dia kalau akan kita lepaskan saja karena 4 ekor ikan sudah cukup buat kita bahkan sudah terlalu banyak. Persis sebelum kita selesai kita dapat tangkapan yang kelima yaitu ikan rainbow trout tapi ukurannya jauh lebih kecil sekitar 35 cm dan menurut Stu ikan tersebut betina kalau dilihat dari bentuk hidungnya, maka ikan tersebut kita lepaskan.

Yang saya nggak tega adalah cara mematikan ikan. Jadi setelah ikan ditangkap tidak langsung dilepaskan pancing yang menempel di mulut ikan akan tetapi kepala ikan dipukul pakai stick kayu sebanyak dua kali kemudian pancing baru dilepas. Alasannya supaya ikan matinya cepat, tidak tersiksa dan juga tidak sakit merasakan sakit waktu pancingnya dilepas.

mematikan-ikan

Sebetulnya saya sering lihat praktek membunuh ikan dengan cara dipukul seperti itu waktu masih kuliah di Bandung. Namanya mahasiswa, makanan yang kebeli ya makanan pinggir jalan yang bahasa kerennya street food. Di pinggir jalan Pasar Simpang Dago terutama di depan Puslitbang Pengairan kalau malam hari ada warung tenda Soto Ayam Lamongan. Namun warung tenda ini juga menyediakan ayam goreng, bebek goreng, burung dara dan juga pecel lele. Kalau pesan pecel lele umumnya lelenya masih hidup. Nah sebelum lele ini digoreng dengan memasukkannya kedalam minyak mendidih, kepala lele dipukul terlebih dahulu dengan menggunakan rendos atau kalau basa Jawanya uleg. Dulu saya sering serem lihat pemandangan tersebut sampai saya nggak mau makan lele karena lihat tindakan keji dan sadis saat mau digoreng. Sekarang saya tahu logikanya dan mulai bisa memahami alasannya. Ternyata orang Lamongan cerdas-cerdas juga ya…

Saya sampaikan ke Stu kalau ini adalah pengalaman pertama saya mancing, padahal saya suka banget ikan bahkan tiap hari saya harus makan ikan tapi tidak pernah mincing. Sementara Puti kebalikkannya, dia suka banget mancing tapi dia nggak suka ikan. Setelah selesai mancing kita langsung balik ke wharf. Tidak lupa Stu membuat laporan berapa ikan yang kita tangkap. Hal ini berguna untuk memonitor jumlah ikan yang ada di Lake Wakatipu ini. Memancing di danau ini harus punya license. Ada 9 jenis license memancing ada Whole Season, Family, Local Area, Loyal Senior, Short Break, Long Break, Winter, Non-Residents dan One Day Licence. Tiap license dikenakan biaya berbeda-beda. Karena kita hanya mancing beberapa jam jadi yang sesuai menggunakan One Day License dengan biaya $20. Intinya kita tidak usah repot-repot ngurus license sendiri karena Stu yang menguruskan. Sebelum lupa ada satu semboyan yang menarik untuk para pemancing yaitu “Yang paling membosankan adalah menunggu, kecuali sedang memancing”.

Kita masih bingung apakah ikannya mau kita masak atau bawa mentah. Kalau mentah masalahnya kita nggak punya freezer, hanya refrigerator di mobil kita. Kita berpikir mungkin lebih baik kita masak 2: untuk makan siang 1, makan malam 1 dan yang dua ekor kita simpan dan kita masak besok pagi. Terus kita berubah pikiran, mungkin lebih baik dimasak 3 dimana 1 buat makan siang, 1 buat makan malam, dan 1 untuk sarapan di hari berikutnya sementara 1 lagi yang mentah kita simpan.

Ikannya sebelum kita bawa dibersihkan terlebih dahulu oleh Stu yaitu dikeluarkan isi perutnya. Kemudian kita disarankan oleh Stu untuk memasak ikannya di Pub on Wharf di dekat Stu memarkir boat. Biaya masak 1 ekor ikan sekitar 15 dollar. Waktu sampai ke Pub on Wharf sebetulnya saya ragu-ragu apakah benar mereka bisa memasak ikan karena ini pub. Waktu saya tanyakan mengenai hal itu, resepsionisnya bilang kalau mereka bisa dan biasa melakukannya. Setealah itu kita putuskan kalau ikannya kita masak semuanya saja disitu dengan alasan kalau kita simpan ikannnya sudah dalam kondisi matang kemungkinan rusaknya kecil. Kita minta 1 ikan dihidangkan untuk lunch kita dan sisanya yang 3 take away. Kita minta yang untuk lunch adalah yang salmon. Bedanya salmon dengan rainbow trout kalau dari segi ekor, ikan salmon ekornya bentuk V sedangkan rainbow trout bentuk segitiga.

fish-party

Setelah ikan salmonnya dihidangkan langsung kita serbu berdua, dimasak steam dan rasanya ternyata enak sekali. Kurang dari 5 menit, ikan tersebut sudah ludes.

Akhirnya dengan malu-malu kita bilang lagi ke waitress-nya kalau kita minta dihidangkan 1 ekor salmon lagi untuk lunch jadi cuma 2 yang take away. Dalam waktu sebentar ikan salmon yang kedua sudah siap di atas meja, kurang dari 5 menit ikan tersebut pun sudah kita sikat habis tinggal durinya.

ludes

Pelayanan di Pub on Wharf sangat luar biasa, waktu pertama saya serahkan ikan tersebut dia bilang “I’ll do our best”. Ternyata bahasa itu tidak basa-basi tapi beneran, mereka mikirin yang terbaik apa. Untuk 2 ikan rainbow trout yang sudah dimasak dan untuk take away, mereka bungkus rapi dengan aluminium foil dan juga dibuatkan alas dari kardus yang dilapisi film plastik karena mereka takut bocor dalam perjalanan kita nanti supaya tidak mengotori mobil. Juga dikasih kardus supaya bawanya mudah.

Urusan bayar, seperti yang dibilang Stu bahwa biaya per ekornya sekitar 15 dollar, sebetulnya berapapun biayanya kita sudah tutup mata karena sudah tidak ada bedanya antara boke dengan boke banget. Akhirnya pas bayar, pertama kali kasirnya bilang biayanya 51 dollar. Kemudian Puti tanya, “Apakah sudah semuanya? 2 ikan dimakan disini dan 2 ikan take away?” Kasirnya bingung karena sudah terjadi crew change dan dia bukan orang yang sebelumnya melayani kita. Kemudian kepala pub pergi ke kitchen untuk menanyakan ke chef-nya. Kemudian ada satu cewek yang dari awal melayani kita dan dia bilang “Udah nggak papa memang biayanya segitu.” Akhirnya kepala pub-nya akhirnya juga nyamperin dan bilang “Udah nggak papa segitu saja”. Jadi seolah-olah 2 ikan yang take away itu tidak di-charge lagi. Jadi biaya 1 ekor ikan yang dihidangkan itu biayanya 20 dollar per ekor. Ikan tersebut dihidangkan di piring segi empat yang besar, dihias dengan salad yang segar, enak dan warnanya juga bagus plus dikasih kentang goreng yang banyak sekali. Kalau dari baunya, ikannya dimasak menggunakan white wine, dikasih lemon yang agak banyak jadi bau wanginya kerasa. Jadi biayanya hanya dihitung 2 ikan yang dihidangkan yaitu 40 dollar plus kita minum juice botol sehingga total 51 dollar, sedangkan 2 ekor yang take away free of charge. Karena mereka punya pelayanan yang sangat baik maka uang kembalian sebesar 9 dollar Puti masukkan ke dalam kotak tip. Bisa dibayangkan berapa yang mesti kita bayar kalau makan seperti ini di Indonesia. Makan 2 ekor ikan salmon utuh yang di-steam dengan berat per ekor antara 1.5-2 kg. Jadi kalau kita hitung-hitung, kita mengambil paket mancing dengan biaya per orang 12 dollar selama 2 jam jadi total kalau berdua adalah 240 dollar plus biaya masak anggap 60 dollar jadi total 300 dollar masih untung karena kita makan siang sekenyangnya plus masih punya ikan untuk makan malam dan sarapan.

Ada yang lucu di pub ini, di dinding maupun di langit-langit banyak tulisan yang lucu-lucu diantaranya adalah “That was a woman who drove me to drink, but I never thank her.”  Maksudnya.. Gara-gara wanita (diputusin misalkan) lah yang menyebabkan dia (yang menulis) jadi peminum/pemabuk dan dia tidak perlu berterima kasih. Kalau dalam bahasa aslinya lucu namun kalau diterjemahkan mungkin kurang menggigit. Itulah kelemahan penerjemahan, makna masih bisa didapat namun kehilangan keindahan atau still gets the meaning but loses the beauty. Mengapa? Karena bahasa bukan sesederhana kata atau kalimat tapi merepresentasikan kebiasaan, pola pikir bahkan budaya.

Ada yang lucu lagi, di kamar mandi cowok, untuk bagian urinoir jadi pas kita kencing kita menghadap ke dinding dimana urinoir itu dipasang, di situ dipasang cermin. Anehnya waktu kita kencing maka tiba-tiba cermin tersebut berubah menjadi tv. Aku coba amat-amati bagaimana cara kerjanya tapi tetap nggak ketemu. Tujuan dipasangnya tv ini adalah supaya orang tidak ketinggalan moment penting, misalnya orang nonton pertandingan rugby pas saat genting dia kebelet pipis maka waktu pipispun dia masih bisa mengikuti moment penting tersebut, umumnya orang cenderung menahan pipis kalau pas ada moment penting padahal itu tidak sehat.

Setelah makan siang kita langsung menuju ke mobil dan siap menuju ke Mount Cook. Jarak Queenstown-Mount Cook kira-kira 263 km, ditempuh dalam waktu 3 jam lebih dikit kalau tidak berhenti-berhenti. Kita akan tinggal di Mount Cook Village. Besok dari Mount Cook rencananya kita akan menuju ke Lake Tekapo dan kita akan menginap di Lake Tekapo. Malam berikutnya kita akan menginap di Christchurch.

queenstown-mt-cook

Kemudian kita akan masuk kota Cromwell. Kota ini terkenal sebagai pusat buah-buahan di South Island. Apalagi saat musim panas kita bisa menemukan segala jenis buah-buahan di kota ini. Banyak toko-toko atau pusat buah di kiri kanan jalan namun kita tidak sempat untuk berhenti mengingat kita masih punya banyak buah yang juga belum sempat kita konsumsi. Karena pusat produksi buah, waktu memasuki kota ini akan disambut dengan patung buah.

cromwell

Keluar dari Cromwell kita melewati daerah-daerah perkebunan anggur.

wooing-tree-winery

Perjalanan dari Cromwell menuju Omarama akan melewati suatu daerah menembus bukit-bukit yang disebut sebagai Lindy’s Pass. Seperti daerah di South Island yang lain, waktu melewati Lindy’s pass suasana jalan juga sangat sepi. Hampir seperti di Cardrona dimana bukit-bukitnya kalau musim panas akan berwarna keemasan. Bedanya dengan jalan di Cardrona, jalan di daerah Lindy’s Pass atau Lindy’s Valley ini relative lurus dan datar.

lindys-pass

Nama Omarama pasti akan sangat mudah untuk diingat karena namanya mirip dengan Rhoma Irama. Nah dalam kasus Omarama jelas teknik kedua dalam menghafal nama, yaitu diasosiasikan dengan sesuatu yang lucu atau yang sudah sangat kita kenal, yang kita terapkan. Namun harus dibuat lebih spesifik lagi yaitu “diasosiasikan dengan sesuatu yang sudah sangat kita kenal”. Jangan sampai salah. Waktu sampai di daerah Omarama, di sebelah kanan jalan terlihat ada tempat pencukuran biri-biri.

wrinkly-rams

Kemudian Puti iseng berhenti di situ tanya apakah ada paket untuk melihat pencukuran biri-biri. Ternyata untuk hari ini nggak ada jadwal tapi besok ada group untuk jam 1 siang. Karena belum pernah lihat, Puti kepingin ikut group tersebut. Kita agak ragu, karena kita sedang menuju Mount Cook sedangkan Omarama-Mount Cook memerlukan waktu 1.5 jam jadi kemungkinan strategi yang kita ambil adalah kita tetap menuju ke Mount Cook dan besok kita balik ke Omarama. Di Mount Cook prinsipnya acaranya hanya foto-foto karena pemandangannya bagus. Setelah selesai kita akan segera turun melewati Lake Pukaki balik ke Omarama untuk mengikuti program pencukuran biri-biri di Wrinkly Ram. Kalau saya pribadi sudah pernah melihat program tersebut di Whangarei-North Island waktu saya masih kursus bahasa Inggris di Auckland. Acaranya sangat menarik karena tidak hanya menunjukkan bagaimana caranya mencukur biri-biri tapi akan ditunjukkan bagaimana merawat biri-biri sejak dari lahir, sampai bisa dicukur, kemudian juga waktunya kapan sebaiknya biri-biri dicukur, dan juga cara menggembala biri-biri menggunakan bantuan anjing gembala. Ditunjukkan bagaimana caranya menggiring kumpulan biri-biri ke kandang maupun menggiring biri-biri ke ladang. Kira-kira programnya tidak akan jauh dari yang pernah saya lihat, memang sangat menarik. Nah sekarang saatnya melanjutkan perjalanan menuju ke Mount Cook.

Daerah Omarama didominasi oleh peternakan biri-biri. Sehingga di Omarama selama perjalanan di kiri kanan jalan selalu kita lihat biri-biri. Namun ada yang unik mengenai biri-biri di daerah ini, terlihat kotor-kotor bulunya. Sebagian kelihatan agak bersih karena sudah dicukur.

omarama-sheep

Dari beberapa hari yang lalu kita telah melihat-lihat dan sepertinya sangat menarik untuk mampir ke Lake Ohau waktu perjalanan menuju ke Mount Cook. Memang tidak banyak yang mengetahui Lake Ohau, tidak terlalu populer, tapi kalau dilihat di buku “DK Eyewitness Travel NEW ZEALAND” kelihatannya danaunya bagus banget dan dapat merefleksikan bayangan gunung-gunung di sekitarnya jadi persis seperti cermin. Waktu kita sampai ke Ohau, masih hujan dan kita nggak bisa melihat apa-apa, kita putuskan untuk balik dari Ohau menuju jalur utama lagi yaitu SH (State Highway) 8 untuk menuju ke Mount Cook.

Waktu di perjalanan ketika kita mau masuk ke state high way menuju ke Mount Cook tiba-tiba cuaca jadi cerah akhirnya kita putuskan untuk balik lagi ke Ohau. Karena selesai hujan, saat kita kembali menuju Ohau kita melihat pelangi yang indah sekali. Rasanya terbayar, ikhlas kita bolak-balik Ohau.

rainbows

Danaunya memang bagus, gunung-gunung di sekitarnya juga cantik, dan di atas gunung masih ada es meskipun musim panas, akan tetapi kita tetap sulit untuk mendapatkan gambar yang bagus karena matahari sudah ada di belakang gunung jadi tidak cukup cahaya untuk mendapatkan gambar-gambar gunung dengan es di atasnya.

sekitar-ohau

Cahaya di danau juga sudah lemah jadi sulit menghasilkan gambar danau yang bagus. Aslinya bagus sekali tapi untuk membuat gambar yang representatif sangat sulit. Akhirnya kita videokan, siapa tahu bisa memberikan gambaran yang lebih representative. Waktu di Lake Ohau meskipun musim panas tapi dinginnya amit-amit jadi kita tidak tahan terlalu lama di luar mobil. Bahkan di dalam mobilpun kita terpaksa menggunakan penghangat.

ohau

Dari Lake Ohau, sesuai rencana kita langsung menuju ke Mount Cook. Pada saat kita menuju Ohau, karena buru-buru kita tidak terlalu memperhatikan kiri kanan jalan yang kita lalui. Ternyata banyak peternakan sapi di daerah ini. Rasanya jumlah sapinya banyak sekali. Dan kita juga harus hati-hati karena banyak sapi-sapi yang mungkin menyeberang. Biasanya para sapi sering dipindahkan dari satu area ke area yang lain tergantung pada kondisi rumputnya. Rumput-rumput ini selalu dirawat dengan menyiramkan air melalui alat-alat penyiram air otomatis. Oleh sebab itu tidak terlihat ada pegawai yang bekerja di area-area peternakan seperti ini.

sapi-ohau

cattle-stop

nyiram-rumput

Alasan kita akan bermalam di Mount Cook supaya pagi-pagi kita dapat melihat-lihat di sekitar Mount Cook terus turun lagi ke Twizel terus menuju ke Omarama karena Puti pingin lihat sheep shearing show (pencukuran biri-biri) di Wrinkly Ram. Tapi waktu kita lewat Twizel kita berpikir dari pada kejauhan ke Mount Cook, gimana kalau kita menginap saja di Twizel baru paginya melihat program mencukur biri-biri baru menuju ke Mount Cook. Acara mencukur biri-biri  kemungkinan sudah selesai sekitar jam 2 siang jadi kita akan masih punya banyak waktu menuju Mount Cook karena matahari baru tenggelam sekitar jam 10 malam. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut akhirnya kita putuskan untuk menginap di Twizel.

Sebelum ke Ohau sebetulnya kita sempat menuju ke Clay Cliff karena kalau dilihat foto-fotonya Clay Cliff ini sangat bagus. Dari high way harus masuk ke jalan yang tak beraspal kira-kira 10 km. Sebelum sampai sana ternyata ada pintu gerbang dan ditulis “Private Property” dan kalau mau masuk harus minta ijin dan bayar di Hot Tub Hotel atau pusat informasi. Nah sebetulnya bukan masalah bayarnya (cuma 5 dollar per person atau 20 dollar per bis) atau minta ijinnya, kita gondok banget karena kita sudah capek-capek ke situ dan nggak boleh masuk, nah tempat untuk minta ijin dan bayar yang namanya Hot Tub Hotel itu ada di high way yang mana kita harus balik dan nanti ke Clay Cliff lagi. Wah ogah banget, menyebalkan sekali. Kalau memang harus minta ijin dan bayar kenapa tidak ditulis di high way persis pas mau masuk jalan kecil ke Clay Cliff? Ini khan aneh sekali, pas mau masuk baru ditulis pengumumannya padahal udah jalan jauh dan buang waktu.

Karena sudah mendekati malam maka kita berusaha mencari penginapan. Kota yang terdekat adalah Twizel. Awalnya kita mencari tempat penginapan yang dulu pernah saya gunakan pada akhir tahun 1998, sebetulnya bukan penginapan mewah akan tetapi penginapan untuk backpacker. Setelah putar-putar sebentar dan karena saya masih sedikit ingat lokasi-lokasi di Twizel ini akhirnya ketemu juga. Ternyata backpack tersebut masih ada dan kita berpikir untuk menginap di situ saja dari pada cari-cari lagi. Akan tetapi rasanya kok tempatnya kecil jadi kita tunda dulu keputusannya dan kita melihat-lihat dulu penginapan lain.

Waktu kita lewat jalan raya menuju ke penginapan (backpack) ini kita sebetulnya lihat ada plang besar yang menunjukkan ada penginapan lain. Akhirnya kita kembali lagi ke State Highway dimana kita lihat plang penginapan tersebut. Akhirnya ketemu yaitu sebuah Campsite namanya Lake Ruataniwha, campsite ini persis di pinggir Lake Ruataniwha. Air dari Lake Ruataniwha sebenarnya berasal dari Lake Ohau dan juga Lake Pukaki. Office dari campsite ini ada di sebelah kiri gerbang. Nah gerbang campsite selalu tertutup, buka tutup pintu menggunakan kunci otomatis yang dimiliki olah seluruh penghuni. Meskipun pintu gerbang tertutup tetapi hanya mobil yang nggak bisa lewat, pejalan kaki bisa lewat. Nah sesampai di depan gerbang kita berpikir untuk tidak ke office-nya dulu, seperti kebiasaan kita bahwa kita selalu cek kitchen dan kamar mandi dulu sebelum kita ambil keputusan akan menginap di campsite. Jadi kita parkir mobil di depan office terus kita berencana jalan kaki melihat kitchen dan kamar mandinya. Nggak taunya pas kita jalan mendekati gerbang dari office ada yang manggil dan ditanya kita mau kemana. Kita sampaikan bahwa kita butuh campsite dan kita tanya apakah boleh kita tanya-tanya tentang fasilitas campsite-nya? Apakah kitchen buka 24 jam? Petugas tersebut mengiyakan. Karena kitchen buka 24 jam maka kita putuskan untuk tinggal di campsite itu. Di samping karena alasan kitchen yang buka 24 jam, sebelum kita sampai campsite ini (selama di mobil) kita sudah perkirakan bahwa area campsite Lake Ruataniwha ini besar/luas sekali.

Akhirnya kita sampaikan kepada petugasnya bahwa kita akan ambil campsite, biayanya 30 dollar. Nah waktu mau dibuatkan kuitansi kita lihat di papan harga terlihat harga untuk backpacker 20 dollar per person.  Akhirnya kita berpikir kayanya menarik juga ambil backpacker saja karena kita juga butuh tempat untuk mulai packing barang-barang untuk persiapan pulang ke Indonesia. Kemudian oleh petugasnya dibuatkan kuitansi untuk backpacker, nah pas dia lagi nulis kuitansi kita lihat lebih teliti lagi di papan harga bahwa harga cabin 55 dollar untuk 2 orang. Wah ini menarik juga, artinya kita seperti nginap di hotel jadi cuma berdua saja dalam 1 cabin, kalau backpack biasanya banyakan alias ramai-ramai (minimal 6 orang). Nah keputusan akhir kita ambil cabin saja. Waktu Puti ngisi nama dan negara untuk data penghuni sekaligus untuk kuintansi, Puti tulis Indonesia, nah petugasnya langsung bilang “Sudah lah kamu pakai cabin saja tapi harganya harga backpack karena kamu dari Indonesia”. Kemudian dia bilang dalam bahasa Indonesia bahwa Indonesia bagus, dan juga bilang kalau setiap tahun dia selalu liburan di Bali waktu di Twizel musim dingin sekitar bulan Juni sampai Agustus. Sangat dimengerti dia selalu tinggalkan Twizel di liburan di Bali selama musim dingin karena suhu di Twizel sekitar -15 derajat. Karena sangat dingin jadi tidak ada orang liburan juga di campsite dia, jadi campsite bener-bener kosong.

Tahun 2010 adalah liburan dia yang ke-15 jadi sudah berlangsung selama 15 tahun. Kita dikasih discount karena beberapa alasan.. di samping kita orang Indonesia, dia suka ke Indonesia tapi juga karena kita customer Indonesia pertama. Petugas itu namanya Tony. Ternyata dia bukan pegawai di situ tapi pemilik campsite tersebut. Makanya sekali lagi jangan under estimate (kasih tahu diri sendiri). Dia kelola campsite itu bersama seorang Maori dari North Island tepatnya lahir di Rotorua namanya Koura. Tony orangnya baik, agak pendek, kepalanya botak. Nah office campsite ini juga merangkap sebagai mini market. Nah Puti sempatin puter lihat isi mini market untuk melihat-lihat siapa tahu kita butuh sesuatu. Karena Puti suka marshmellow dan kebetulan dia menemukan marshmellow  disitu maka dia ambil. Dan waktu dia bawa ke kasir untuk dibayar, Tony menolak dan bilang “Just take it”. Bukan masalah harga marshmellow tapi karena Tony berusaha memperlakukan kita dengan sangat istimewa. Setelah beres urusan di office-nya Tony maka kita menuju ke cabin.

Seperti acara rutin tiap malam jadi setelah taruh barang maka kita akan masak terus makan malam dulu. Malam itu saya masih punya tugas berat yaitu harus menghabiskan 2 ekor rainbow trout yang kita pancing di Lake Wakatipu dan sudah dimasak dari Queenstown itu. Bisa dibayangkan penderitaan saya untuk menghabiskan kedua ekor ikan rainbow trout tersebut karena ikan yang kita dapat ini cukup besar dimana panjang ikan kira-kira 50 cm. Waktu makan siang di Queenstown kita berdua cuma mampu menghabiskan 2 ekor (yang salmon) sehingga masih sisa 2 ekor yang rainbow trout. Untuk makan malam Puti sudah lempar handuk, dia nggak mau makan ikan lagi, dia lebih memilih makan daging (steak) red wine and garlic marinated beef yang kita beli di Fresh Choice Queenstown. Saya tetap harus makan ikan meskipun akhirnya cuma mampu menghabiskan 1 ekor, yang satu ekor lagi disimpan di kulkas untuk sarapan besok.

Kita menghadapi situasi dimana kita masih punya makanan banyak dan harus segera kita habiskan karena waktu kita sudah tidak banyak lagi. Dari beberapa makanan yang masih ada kita sudah putuskan beberapa makanan sudah kita putuskan untuk kita buang karena sudah yakin tidak akan mampu menghabis. Makanan yang kita putuskan untuk dibuang yaitu sosis kemudian beras. Horeee….. Tidak ada keputusan Puti yang lebih membahagiakan saya selain membuang kedua makhluk ini. Mie instant juga masih banyak, kita nggak akan mampu menghabiskan mie akan tetapi kita putuskan untuk tidak kita buang dulu, kita simpan sementara waktu ini. Bahkan air mineral untuk masak dan minumpun masih banyak, masih ada beberapa galon. Tapi urusan air nggak masalah, kalau tidak mampu kita habiskan bisa kita pakai mandi 🙂 Kita masih punya juice yang dalam botol gede (mungkin ukuran galon), karena saking banyaknya kita beli juice sehingga selama perjalanan kita hampir tidak pernah minum air tapi minum juice. Coca cola masih 2 botol yang belum dibuka dan 1 botol masih setengah (botolnya ukuran 2 liter), sebetulnya kita nggak beli coca cola banyak akan tetapi karena kita hampir selalu minum juice jadi coca cola juga nggak keminum. Kita masih punya finger fish yang dibeli Puti waktu kita perjalanan dari Punakaiki menuju ke Franz Josephh kita mampir belanja di Count Down Greymouth. Kita masih punya chicken nugget, kita masih punya mie goreng banyak (Indomie goreng), kita masih punya mie cup banyak (kita bawa dari Indonesia) karena belum pernah satupun kita makan karena disini kita begitu mudah mendapatkan Indomie, bisa kita beli di supermaket mana saja. Intinya kita dalam program untuk menghabiskan semua makanan 😦 Untuk sarapan besok saya masih dalam masa sulit karena masih punya  tanggung jawab menghabiskan 1 ekor lagi ikan rainbow trout. Beef, chicken nugget, kentang  sama finger fish rencananya (diprogramkan) untuk dihabiskan sebagai makan siang besok.

Kita selesai makan malam sekitar jam 11 malam lebih sedikit. Meskipun tempatnya Tony enak, tapi gayanya oldies, banyak menggunakan bahan kayu dan sepi karena besar dan luas area campsite-nya. Dari sisi kamar mandi sih OK, dan bersih. Cuma malam itu Puti prefer untuk mandi di kamar mandi cowok. Selama kita tinggal di campsite manapun terutama yang Top 10 Holiday Park, kamar mandi cowok dan cewek selalu di pisah, berbeda dengan waktu di asramaku dulu di Grafton yang kamar mandi cowok dan ceweknya jadi satu, yang kadang risih adalah waktu kita pipis di urinoir ada cewek yang lewat di belakang kita karena mau mandi atau mau ke toilet. Karena Puti takut (mungkin takut sama hantu NZ kali…) maka Puti mandi di kamar mandi cowok, lagian sudah malam jadi nggak ada orang lain yang pake kamar mandi. Meskipun di kamar mandi sepi nggak ada orang tapi Puti masuk kamar mandi sambil mengendap-endap takut tiba-tiba ada orang lain atau hantu lain.

Kemudian saya pups dulu di toilet dan Puti langsung mandi di salah satu shower yang ada. Puti baru mandi sebentar ternyata ada orang lain masuk mau mandi juga. Akhirnya Puti mandi dilama-lamain sampai orang yang mandi di shower sebelah dia selesai supaya tidak kaget ada cewek masuk kamar mandi cowok. Setelah selesai pups kemudian saya mandi. Selesai mandi saya keluar duluan untuk melihat-lihat situasi sekeliling apakah aman Puti keluar dari kamar mandi? Setelah aman baru kita keluar menuju ke cabin kita. Selesai mandi kita packing sampai jam 2 malam. Karena musim panas, harinya panjang jadi kita memang jarang tidur sebelum jam 1 malam. Kita selalu isi aktifitas di luar full sampai jam 10 an malam terus masak, makan malam, bersih-bersih piring dan perlengkapan masak, terus baru mandi terus tidur. Kadang selesai makan malam dan bersih-bersih kita download kamera, charge battery, bikin jurnal.

Semua barang kita keluarin dari mobil, kita packing-packing, dokumen imigrasi, urusan custom juga yaitu bon-bon pembelian.  Semua bukti pembelian sudah kita kumpulkan semua, total 496.5 dollar belum termasuk mainan-mainan yang kita beli di Puzzle World yang harganya sekitar 50-70 dollar. Paling petugas custom akan capek ngitung bon-nya. Bon-bon tersebut kita butuhkan untuk reimburse pajak waktu di bandara.

to be continued to “Day 13: Twizel, Omarama, Mount Cook”

Advertisements