Day-13: Twizel, Omarama, Mount Cook

Summer 23 Desember 2010. Twizel, Omarama, Mount Cook

Pagi kita bangun pagi, rencananya bangun jam 7 tapi prakteknya kita baru bangun jam 8. Waktu jam 7 bangun saya keluar sebentar karena pingin pipis ke toilet, saya lihat hari ini hari yang luar biasa karena langitnya cerah sekali tanpa awan sedikitpun, saya sebut sebagai the real blue sky of New Zealand. Saya kurang mengerti alasan kenapa New Zealand sering disebut sebagai The Land of Long White Cloud atau dalam bahasa Maorinya adalah Aotearoa, padahal yang terkesan dari New Zealand sebetulnya justru the blue sky-nya. Langit seperti ini adalah langit yang dulu selalu saya lihat dan saya kagumi waktu saya masih sekolah di Auckland. Sejak dari hari pertama trip kita ini, kita belum pernah bertemu langit yang seperti ini karena selalu mendung atau hujan.

padi-di-twizel

Setelah bangun jam 8 kita mandi, tapi kali ini di luar kebiasaan dimana setelah mandi kita tidak langsung sarapan akan tetapi kita pingin berputar-putar di danau sekitar campsite yaitu Lake Ruataniwha. Rua itu dalam bahasa Maori adalah 2 sedangkan Taniwha adalah monster. Nama ini lahir karena Twizel diapit oleh 2 gunung yang oleh orang Maori dianggap seperti monster atau hantu. Lake Rautaniwha adalah danau yang dijadikan pusat pelatihan rowing/dayung di South Island. Kita hanya berputar-putar sebentar karena waktu sudah menunjukkan pukul 10:30. Kita segera kembali ke campsite untuk menyiapkan sarapan pagi sekaligus menyiapkan makan siang untuk perjalanan kita.

rowing-club

Tadi sebelum kita berkeliling di Lake Ruataniwha kita berpikir untuk memperpanjang stay kita di Twizel dari pada kita harus menginap di Takepo. Belum tentu kita dapat penginapan yang bagus di Tekapo. Jadi kita putuskan untuk menginap semalam lagi di Twizel. Ketika kita mau keluar keliling Lake Ruataniwha, kita rencanakan untuk mampir ke office campsite untuk perpanjangan stay kita. Aturan umum di NZ adalah kita harus check out dari penginapan paling lambat jam 10 pagi kalau tidak berarti kita sudah dianggap kena charge menginap lagi. Yang jadi masalah di campsite kita adalah gerbangnya menggunakan pintu otomatik yang bukanya dengan cara menekan tombol PIN dimana PIN akan berubah setiap hari. Sebagai contoh PIN kita yang dikasih kemarin hanya akan valid sampai jam 10 pagi ini sehingga kita tidak akan bisa keluar gerbang jika lewat dari jam 10.

Untungnya sebelum sampai office, tidak sengaja kita ketemu Tony waktu dia sedang mem-press (memadatkan) sampah-sampah di dekat kitchen. Sampah yang sudah di-press kemudian dimasukkan ke box sampah menggunakan forklift, box sampah (seperti container) ini nantinya akan ditarik oleh mobil. Saya rasa selain sebagai pemilik dia juga merangkap sebagai petugas cleaning, security dan juga di office. Waktu melewati dia kita stop sebentar untuk say hello, dan kemudian dia turun dari forklift dan kita sampaikan bahwa kita senang dan merasa nyaman tinggal di campsite ini, apa lagi kita tinggal di cabin dan diberi harga yang murah. Kita juga sampaikan kalau kita berencana untuk meng-extend stay kita, bukan karena kita dikasih discount harga tapi karena kitchen juga bersih, suasana juga enak dan nyaman. Karena dia masih ngurus sampah maka meminta kita untuk langsung ke office saja ketemu istri dia yang namanya Koura. Kita baru tahu kalau Koura adalah istri Tony. Kemarin dia hanya sempat menyebut kalau dia mengelola campsite ini bersama seseorang yang namanya Koura. Tony masih memberikan kita harga yang sama dengan harga kemarin yaitu 40 dollar.

Salah satu yang membuat kita impressed adalah waktu tadi malam kita masuk ke kitchen, meja makan di kitchen dan juga kursinya seperti meja kursi khas Indonesia dimana meja terbuat dari papan tebal utuh (bukan sambungan) yang pasti berasal dari pohon yang cukup besar. Kursi juga sama seperti meja akan tetapi dari pohon yang tidak terlalu besar. Waktu lihat pertama kali Puti langsung nebak pasti ini dibeli di Bali. Tapi saya bilang kalau mungkin bukan dari Bali karena kayunya kayu pinus akan tetapi bentuk seperti ini mungkin terinspirasi dari Bali. Waktu bertemu Tony kita juga sampaikan kalau kita surprised melihat meja dan kursi kayu yang ada di kitchen karena kita yakin nggak bakalan ketemu yang seperti itu di NZ. Jadi sekalian saya tanyakan apakah meja kursi tersebut dibeli di Bali? Kemudian dia bilang kalau istrinya masih sangat pingin membeli meja dan kursi yang seperti itu dari Bali untuk dibawa kesini cuma belum terealisasi karena biaya pengangkutannya yang sangat mahal. Akhirnya dia pergi ke tukang kayu di sini untuk dibuatkan seperti yang di Bali, maka jadilah meja kursi yang di kitchen saat ini dengan biaya yang jauh lebih murah yaitu sekitar 300-400 dollar dibandingkan dengan kalau beli di Bali dan dibawa kesini biayanya bisa ribuan dollar.

Akhirnya kita ke office dan ketemu staff-nya Tony, kita sampaikan kalau kita mau ketemu Koura. Di depan office ada seorang ibu yang sedang bicara dengan tamu lain dan saya sudah bisa langsung menebak bahwa dia adalah Koura. Setelah selesai bicara sama tamu maka Koura menemui kita. Kita sampaikan kepada Koura kalau kita tadi sudah bicara dengan Tony untuk meng-extend stay kita dan Tony kasih kita harga discount lagi yaitu 40 dollar. Saya juga sampaikan kalau dia kasih kita discount karena kita orang Indonesia. Akhirnya Koura juga cerita kalau setiap tahun dia selalu ke Bali. Dia sudah kemana-kemana ke seluruh dunia tapi hanya Bali yang mampu membuat dia selalu kembali.

Setelah urusan perpanjangan stay, sudah pasti route kita hari ini adalah dari Twizel menuju Omarama kemudian ke Mount Cook dan kembali lagi ke Twizel. Jadi besok kita akan berangkat dari Twizel menuju ke Christchurch dan berhenti sebentar di Tekapo.

twizel-omarama-mt-cook

Jam 12 kita langsung menuju ke Omarama untuk mengikuti program pencukuran biri-biri di Wrinkly Rams, yang mana programnya adalah jam 1 siang. Akan tetapi saat pagi tadi kita keluar campsite berputar-putar sekitar danau sebenarnya kita sedang mencari mirror lake. Jadi selama perjalanan menuju Omarama kita selalu nengok ke danau-danau di kiri kanan jalan siapa tahu bisa dapat mirror lake. Sudah beberapa kali turun dari mobil tapi belum dapat juga. Namun saat kita sudah putus asa justru kita melihat mirror lake di sebelah kita di dekat peternakan ikan High Country Salmon. Mungkin sebutan mirror lake tidak tepat karena tidak selalu di lake, untuk kali ini bisa disebut mirror river karena ada di river. Sebutan mirror lake kita dapat waktu perjalanan dari Te Anau ke Milford, di tengah perjalanan bis yang kita tumpangi berhenti sebentar untuk melihat mirror lake. Sebenarnya terlalu kecil untuk kategorikan sebagai lake, lebih tepat kalau disebut pool. Sebutan yang lebih netral untuk bayangan dalam air mungkin adalah reflection in the water. Kita tangkap dengan jelas bayangan bukit dan pohon-pohon di dalam air sungai, bagus sekali. Kita coba cari beberapa spot agar dapat mengambil foto yang bagus. Karena kita sudah rencanakan untuk mengabadikan perjalanan kita maka perlengkapan fotografi yang sangat lengkap selalu siap yaitu kamera Canon D7, pocket camera Olympus (pada kondisi tertentu atau pada medan yang sulit akan sangat membantu karena ringan dan kecil), video camera (handy cam) juga kita bawa akan tetapi tidak pernah kita gunakan karena kualitas gambar akan lebih bagus menggunakan Canon D7. Kelemahan Canon D7 untuk merekam video adalah filenya akan besar sekali. Video camera akan berguna pada kondisi sulit karena jauh lebih ringan dibandingkan dengan Canon D7 yang body-nya saja sudah berat belum lagi ditambah lensa tele. Video camera relative tidak banyak kita gunakan karena kita belum menemukan toko yang menjual casset untuk video camera ini. Sebesar apapun file video dari Canon tidak masalah buat kita karena kita bawa laptop untuk memindahkan semua file dari camera, dan ini lah acara rutin kita setiap malam di samping men-charge semua battery (camera, voice recorder, hp dan laptop) serta mengetik journal.

reflection-in-the-water

Foto yang kita hasilkan sangat bagus, sulit dibedakan antara yang asli dengan yang bayangan dalam air. Dari tempat kita ambil foto reflection in the water dengan Wrinkly Ram di Omarama tidak begitu jauh dan kita sampai Wrinkly Ram sebelum pukul 1.

Setelah sampai di Wrinky Rams ketika kita mau bayar di kasir, ada petugas yang datang dan memberitahu kita kalau memang betul kemarin dia janji akan ada show jam 1 akan tetapi bus tour datang lebih awal sehingga mereka adakan show lebih awal. Nah dia sampaikan kalau show akan tetap diadakan untuk kita namun waktunya mundur setengah jam menjadi jam 13.30. Sambil nunggu waktu, kita duduk dulu di cafe-nya sambil minum cappucino dan bikin journal. Jam 13.30 kita balik lagi ke kasir dan di situ ketemu seorang laki-laki (sudah bapak-bapak). Ternyata bapak ini yang nge-run show nya nanti. Dia bilang kalau show akan mulai dalam 10 menit kemudian kita balik nunggu di luar di meja tempat kita minum di cafe. Setelah sepuluh menit, sebelum kita menuju ke hall tempat show akan diadakan ternyata bapak tadi duluan mencari kita, mendatangi tempat kita. Kita sama-sama menuju ruangan show. Ternyata ruangan show itu kosong sama sekali. Jadi show yang jam 13.30 itu dedicated hanya untuk kita karena kemarin dia sudah janji ke kita akan mengadakan show jam 13. Show mulai, hanya ada kita bertiga jadi kita diskusi, ngobrol, cerita banyak segala macam hal termasuk sejarah dari peternakan Wrinkly Ram, rasanya seperti kursus private. Di dinding sebelah kanan kita ada gambar berbagai jenis biri-biri. Dia jelasin sejarah biri-biri seperti apa, kualitas-kualitasnya, pengelompokkan berdasarkan kualitas. Yang paling bagus adalah Merino. Merino dihasilkan oleh biri-biri yang hidup di daerah kering (seperti daerah Omarama karena diapit 2 gunung di barat dan timur maka uap air di daerah ini rendah dan jarang hujan). Di daerah kering maka bulu biri-biri akan sangat lembut jadi kualitasnya bagus. Merino memiliki ketebalan 17-19 micron. Makin tebal bulunya, makin kasar, makin kaku dan bahan wool yang dihasilkan akan bikin gatal maka kualitasnya menurun, harganya lebih murah. Kualitas bulu biri-biri juga dilihat dari kekuatannya, baik merino maupun bukan merino, bulu harus kuat tidak gampang putus. Kalau bulu gampang putus maka itu menunjukkan bahwa biri-birinya tidak sehat. Untuk bulu yang gampang putus biasanya tidak laku dijual dan akan menjadi waste/sampah.

Karena tumbuh di daerah yang jarang air, jarang hujan maka biri-biri yang menghasilkan Merino ini kelihatan berwarna abu-abu karena kotor banget dengan debu. Di North Island maupun daerah Westland-South Island karena curah hujan tinggi maka bulu biri-birinya bersih-bersih, putih-putih. Hal ini disebabkan karena pada daerah lembab, udara tidak berdebu dan kalau biri-biri tidur bulu mereka tidak terkena debu karena seluruh tanah terbungkus rumput sehingga tidak ada kotoran yang menempel pada bulu. Di samping itu pada daerah yang curah hujannya tinggi rumput akan subur sehingga makanan untuk biri-biri akan tersedia dengan sangat cukup namun berakibat bulu biri-biri akan tumbuh tebal dan kasar. Untuk bulu biri-biri yang kasar dan kaku umumnya bukan dijadikan bahan pakaian akan tetapi menjadi karpet. Untuk wool yang kasar harganya sekitar 5 dollar per kg sedangkan yang merino kualitas yang bagus seperti yang dihasilkan di daerah Omarama harganya sekitar 15-100 dollar per kg. Yang jenis merino biasanya dijadikan bahan baju atau scarf karena lembut sehingga tidak gatal, jadi serasa seperti bahan dari cotton bahkan sutra.

Dalam farm atau peternakan dikenal istilah stock unit dimana 1 biri-biri itu dihitung 1 stock unit sedangkan untuk sapi dihitung 7 stock unit. Untuk keperluan air untuk farm mereka harus mendapatkan license untuk irigasi. Untuk mendapatkan license cukup sulit karena harus mendapatkan persetujuan dari tetangga-tetangga sekitar. Ketika ada salah satu yang tidak setuju maka akan dilakukan hearing (dengar pendapat), jika hearing tidak mencapai kesepakatan maka akan diputuskan di pengadilan. License akan berlaku selama 2 tahun. Untuk daerah Omarama masalah air biasanya berebut antara kebutuhan peternakan yang berkompetisi dengan hydropower. Saat seseorang meminta konsesi maka sudah langsung dihitung berapa jumlah air yang dibutuhkan berdasarkan data-data yang diajukan yaitu berupa berapa luasnya, berapa jumlah biri-biri atau berapa jumlah sapinya. Sehingga nantinya akan mendapatkan tidak lebih tidak kurang dari yang dibutuhkan.

Selain kebutuhan air, biri-biri membutuhkan 1 kg rumput kering per hari saat musim dingin. Nah jumlah kebutuhan stock makanan selama 3-4 bulan musim dingin sudah dapat diperkirakan. Jadi kebutuhan rumput disiapkan saat musim panas, jadi selain dimakan oleh biri-biri juga harus disimpan untuk musim dingin. Rumput dipotong kemudian digulung terus dibungkus plastik lalu disimpan. Daerah Omarama waktu musim dingin suhunya -15 derajat dan seluruh wilayah ini tertutup oleh es sehingga rumput tidak dapat dimakan. Selama musim dingin meskipun rumput terkubur es tapi sebetulnya rumput tidak mati, hanya dormant atau hybernate sehingga waktu es mencair nanti akan otomatis tumbuh lagi, tidak perlu ditanam ulang.

Kemudian kita lihat alat untuk mencukur biri-biri, ada 2 jenis yaitu jenis seperti gunting manual dan yang satu seperti alat cukur otomatis. Alat cukur otomatis bisa memotong lebih cepat pada daerah-daerah yang gampang, daerah yang rata seperti badan dan bisa diatur agar ketebalan bulu yang ditinggalkan tipis sedangkan untuk gunting manual umumnya masih menyisakan bulu yang relatif tebal akan tetapi sangat sesuai untuk memotong daerah yang sulit seperti pada lipatan-lipatan. Jenis gunting sudah mulai banyak ditinggalkan akan tetapi untuk daerah Omarama masih menggunakan kombinasi alat cukur otomatis dan gunting manual. Jika menggunakan gunting manual, satu hal yang harus hati-hati adalah saat mencukur di daerah leher jangan sampai kerongkongan atau saluran tenggorokan terpotong.

cukur-otomatis

cukur-manual

Bulu hasil pencukuran akan dipisahkan sesuai dengan kualitasnya. Perlu diketahui bahwa kulit biri-biri dilapisi oleh bahan minyak yang disebut sebagai linolin. Linolin ini berfungsi sebagai penahan air sehingga air tidak mengenai kulit biri-biri. Setelah bulu biri-biri selesai dipotong maka bulu akan dicuci, karena linolin adalah lemak, maka akan terpisah mengambang di permukaan. Linolin akan dijual tersendiri karena sangat dibutuhkan untuk bahan shampoo, conditioner, pelembab , sabun dan lain-lain. Linolin ini harganya mahal.

selimut-domba

Setelah selesai peragaan cara mencukur bulu kita menuju ke kandang biri-biri untuk dijelaskan mengenai berbagai macam seluk beluk biri-biri. Untuk mengetahui umur biri-biri dapat diketahui dari giginya. Saat lahir mereka memiliki baby teeth hanya di bagian depan 2 bagian bawah (tidak memiliki gigi di bagian atas meskipun sampai tua, oleh sebab itu biri-biri kalau makan seperti dicabut tidak bisa memotong). Setelah setahun akan tanggal dan tumbuh gigi tetap. Setelah umur 2 tahun maka akan tumbuh 2 gigi lagi di kiri kanan dan akan bertambah 2 kiri kanan setiap tahun. Biri-biri juga memiliki gigi geraham untuk mengunyah makanan tapi tidak punya gigi taring. Umur maksimum biri-biri sekitar 6 tahun.

Harga biri-biri sangat tergantung umur, kalau umurnya sudah tidak terlalu produktif misal 5 tahun dimana tinggal setahun lagi produktivitasnya, harganya 80 – 90 dollar. Setelah umur 6 tahun umumnya akan dijadikan daging. Namun demikian harga daging biri-biri yang tua juga relatif lebih murah dibandingkan dengan harga daging lamb (kurang dari 1 tahun). Untuk biri-biri yang produktif (umurnya lebih dari 1 tahun) harganya bisa mencapai sekitar 200 dollar. Untuk yang ram harganya bisa mencapai 500-600 dollar.

Ram adalah biri-biri jantan. Sangat beruntung menjadi ram karena setiap ram diperuntukkan untuk 40 betina. Namun saya tidak berharap para bapak-bapak menjadikan ini sebuah analogi setelah mengetahui informasi ini. Untuk ram mereka punya tanduk panjang bahkan sampai melingkar-lingkar untuk yang jenis merino. Ram yang bukan jenis merino tetap tidak punya tanduk.

ram

Biri-biri itu ternyata punya buntut waktu lahir akan tetapi pada usia tertentu buntutnya dipotong untuk alasan keselamatan. Pada saat kita memberikan susu dot pada anak biri-biri ini, mereka masih pada punya ekor dan yang lucu biri-biri kecil ini justru kelihatan seperti anjing ketimbang seperti biri-biri. Ekornya panjang sampai dengkul kaki belakang dan lurus atau jatuh tidak seperti ekor biri-biri di Indonesia yang terbilang pendek. Kelakuannya juga seperti anjing kalau mereka lagi seneng, seperti waktu kita kasih susu, ekor biri-biri kecil ini goyang-goyang.

mneyusui-biri-biri

Sebagai penutup program sheep shearing kita ditunjukkan cara memberi aba-aba pada anjing penggembala. Anjing penggembala memiliki tugas berbeda-beda untuk jenis yang berbeda. Puti belajar memberi perintah pada anjing-anjing tersebut, bagaimana menyuruh anjing untuk cek pagar berlawanan arah jarum jam dan sebaliknya, bagaimana suruh anjing diam dan tiduran dan perintah-perintah lain. Perintah ada yang menggunakan peluit ada yang menggunakan perintah lisan. Salah satu yang terkesan adalah anjing yang bertugas mencari biri-biri yang tersesat di bukit-bukit. Mereka bertugas sampai menemukan kembali biri-biri yang tersesat dan mengawalnya hingga masuk kandang. Yang lucu saat Puti menerapkan ilmu baru untuk memberi perintah pada anjing, ternyata anjing diam saja malahan anjing melihat Puti dengan nada bingung. Pengajar private kasih tahu kalau dia hanya terbiasa dengan logat Kiwi. Dan beneran setelah Puti sedikit merubah logat menjadi Kiwi, anjing tersebut mengerti. Anjing saja kok cerdas-cerdas banget ya… Yah maklum namanya juga anjing sekolahan, cuma saya lupa menanyakan gelarnya apa.

anjing-gembala

Setelah selesai melihat program sheep shearing, sekitar pukul 2:30, kita menuju ke Mount Cook akan tetapi kita mampir dulu di campsite untuk ngambil laptop karena kamera harus kita download supaya waktu di Mount Cook kita punya cukup space untuk motret dan merekam yang bagus-bagus yang kita temui disana. Dari campsite kita langsung menuju ke Mount Cook. Setelah kita pada posisi 24 km dari Mount Cook kita baru sadar kalau bensin tinggal sedikit, lampu kuning sudah menyala dan kita tidak yakin akan cukup sampai ke Mount Cook karena perjalanan akan menanjak terus yang tentunya akan menghabiskan banyak bensin. Kita coba cek lokasi pom bensin (kenapa namanya selalu pom bensin bukan pom solar ya?) terdekat melalui Tom Tom. Kita dapatkan bahwa jarak pom bensin terdekat adalah 30 km yang berarti itu adalah pom bensin yang ada di Twizel atau ke arah Tekapo. Kemudian kita putuskan untuk balik saja ke Twizel. Akan tetapi kita mulai agak kebingungan apakah kita tetap akan ke Mount Cook hari ini atau besok pagi saja dari Twizel ke Mount Cook kemudian turun lagi baru menuju Tekapo dan Christchurch. Akhirnya kita putuskan balik ke Twizel isi bensin dan balik lagi ke Mount Cook meskipun waktunya mungkin agak mepet. Akan tetapi hari ini cuaca cerah dan kita belum tahu cuaca besok akan seperti apa.

Karena saya yang nyetir jadi Puti kebagian mengambil gambar-gambar gunung es selama perjalanan naik. Mount Cook dalam bahasa Maori disebut sebagai Aoraki. Perjalanan naik menuju Mount Cook melewati jalan yang tepat berada di pinggir Lake Pukaki. Asal air dari Lake Pukaki adalah lelehan es (glacier) dari Mount Cook jadi hulu dari Lake Pukaki ada di Mount Cook. Lake Pukaki berbentuk tipis tapi panjang dan warna airnya hijau seperti umumnya warna danau disini dikombinasikan dengan warna biru dari langit sehingga menjadi perpaduan warna yang cantik sekali.

lake-pukaki

Hari sudah semakin sore, matahari sudah tidak begitu terang namun keindahan Lake Pukaki dengan latar belakang pegunungan Mount Cook tetap tak terbantahkan. Pada beberapa lokasi jalan tidak lagi  berada di pinggir Lake Pukaki namun jalan yang berkelok-kelok di kaki gunung dengan puncak-puncak yang tertutup es juga menjadikan pemandangan luar biasa. Jalanan begitu sepi tidak ada satupun mobil atau orang yang kita temui, rasanya seluruh keindahan alam ini menjadi milik kita.

jalan-ke-aoraki

Semakin lama kita menuju ke atas maka tidak kita dapati lagi Lake Pukaki di sebelah kita karena sudah sampai ujung/hulu danau. Kita sampai pada daerah yang datar (valley) di antara gunung-gunung. Angin semakin kencang dan meskipun saat ini musim panas namun suhu udara di tempat ini sangat dingin sehingga kita terpaksa harus mengenakan jaket untuk menahan dingin saat kita berhenti dan keluar dari mobil untuk mengabadikan suasana. Terlihat makin jelas Tasman Glacier yang mana air Lake Pukaki berasal dan makin indah terlihat puncak-puncak gunung es di sekitarnya.

lembah-aoraki

puncak-mount-cook

Jujur saja kita tidak memiliki target yang jelas mengenai kunjungan kita ke Mount Cook yang penting kita jalan dan berhenti di mana pun yang kita anggap menarik. Salah satunya kita berhenti di sebuah sungai yang dari airnya kelihatan air lelehan es seperti yang kita lihat pada saat perjalanan kita dari Punakaiki ke Franz Josep.

test-air

Sampailah kita ke Aoraki Village yang fungsi utamanya untuk menyediakan fasilitas bagi para pengunjung. Seperti halnya daerah wisata yang lain, kita dapat temukan Aoraki/Mount Cook National Park Visitor Centre namun sayang saat kita sampai tempat ini sudah tutup. Kita lanjut nyetir sampai pada ujung jalan dimana terdapat hotel yang cukup representative yaitu The Hermitage Hotel. Karena sudah tidak ada jalan lagi yang bisa dilewati mobil, sudah benar-benar di kaki gunung maka kita berputar-putar seluruh daerah ini melewati jalan yang berbeda dan kita temukan juga tempat untuk para backpackers yaitu YHA Aoraki Mt Cook Backpackers. Saya rasa daerah Aoraki Village ini bukan benar-benar village untuk tinggal karena merupakan area taman nasional namun murni sebagai pendukung kegiatan pariwisata. Karena tidak tahu apa lagi apa yang akan kita lakukan maka mobil kita parkir dan kita jalan kaki menuju Tasman Glacier. Jika dilihat pada TomTom jaraknya cukup jauh namun kita tetap bertekad menuju kesana meskipun sudah tidak ada satu orang pun yang kita temui selama di Aoraki Village apalagi di Tasman Glacier. Jalan menuju Tasman Glacier berbatu-batu sehingga harus ekstra hati-hati namun sebagian besar sudah cukup nyaman untuk para pejalan kaki.

jalan-lake-tasman

Kita temukan danau-danau kecil di sepanjang jalan menuju Tasman Glacier. Karena daerah dingin maka kita tidak akan temukan pohon tinggi di daerah ini, sebagian besar adalah rumput dan perdu.

danau-kecil

Meskipun merupakan hulu dari Lake Pukaki namun danau tidak terlihat jelas dari posisi ini karena matahari sinarnya sudah melemah dan tertutup uap air dari pelelehan es.

hulu-pukaki

Sampailah kita ke ujung jalan yaitu sebuah tebing curam yang mana di bawah kita bisa kita lihat Tasman Lake. Dari sinilah supplai air terbesar Lake Pukaki berasal. Angin disini sangat kencang dan dingin. Meskipun tripod kita cukup berat namun tetap tidak mampu berdiri dan selalu roboh diterjang angin. Bahkan kita sering terjatuh diterjang angin. Tasman Lake cukup luas, masih banyak terlihat gumpalan-gumpalan es yang belum mencair di tengah danau. Tasman Lake yang terlihat di bawah kita saat ini, 20 tahun yang lalu hanya sebuah genangan air kecil dan bahkan seratus tahun yang lalu kalau kita datang kesini kita harus memanjat beberapa ratus meter di atas tempat kita berdiri saat ini untuk mencapai permukaan glacier. Begitu cepatnya perubahan glacier ini akibat pemanasan global, tidak tahu berapa lama lagi akan bertahan dan berapa generasi lagi masih akan melihat glacier ini.

lake-tasman

Air danau berasal dari pencairan es dari Tasman Glacier yang ada di bagian atas danau yang terlihat kehitam-hitaman karena tertutup pasir. Tasman Glacier cukup luas yaitu 101 km persegi dengan panjang 29 km. Meskipun terlihat diam, es pada glacier ini bergerak dengan kecepatan yang sangat lambat yaitu 200 meter per tahun. Umur glacier ini sudah sangat tua sejak jaman ice-age sekitar 14 ribu tahun yang lalu. Dulunya posisi kita saat ini berada 700 meter di bawah permukaan glacier. Karena meningkatnya suhu bumi, glacier inipun mengalami pengurangan volume rata-rata 0.5% tiap tahun.

tasman-glacier

Hari sudah mulai gelap sehingga kita harus segera balik ke tempat parkir karena angin semakin kencang dan semakin dingin. Kita khawatir akan sulit berjalan di antara batu-batu ini. Sudah tidak bisa lagi kita abadikan keindahan alam di sekitar sini. Sampai tempat parkir kita segera balik menuju Twizel. Kita masih punya tugas cek ulang barang-barang yang akan masuk bagasi saat di pesawat nanti. Dan kita juga perlu istirahat yang cukup karena perjalanan besok cukup panjang dari Twizel ke Christchurch. Namun saat turun dari Mount Cook kita masih bisa dapat memotret moment saat puncak gunung berwarna keemasan terkena sinar matahari yang sebentar lagi tenggelam.

gunung-emas

Dari seluruh perjalanan yang kita lalui hingga saat ini, sangat tidak berlebihan jika kita sebut keindahan alam Aoraki/Mount Cook menduduki peringkat kedua setelah Milford.

to be continued to “Day-14: Twizel-Pukaki-Tekapo-Christchurch”