Day-14: Twizel-Pukaki-Tekapo-Christchurch

Summer 24 Desember 2010. Twizel, Pukaki, Tekapo, Christchurch

Pagi kita bangun jam 8 langsung buru-buru menyiapkan sarapan pagi. Kali ini serius dan 100% saya yang menyiapkannya, selama ini hanya sekedar bantu-bantu. Selain menyiapkan sarapan pagi, saya juga sekalian siapkan makanan untuk lunch. Puti sibuk packing, untuk urusan packing hampir seratus persen aku serahkan ke Puti karena urusan tersebut dia ahlinya. Kalaupun saya yang packing pasti ujungnya dibongkar juga, alias tidak percaya 🙂 Jadi mendingan aku bantu dikit-dikit sesuai instruksi. Tugasku dalam hal packing adalah pre-packing alias bagian angkut barang dari mobil ke kamar.

Untuk urusan makanan kita masih punya sisa lamb shoulder rasa mint yang kita beli di Queenstown beberapa hari yang lalu, syukur beef sudah habis minimal mengurangi rasa dosa rasa bersalah karena tidak jadi buang makanan. Terpaksa saya masak potato, kenapa? Kemarin masak potato tetapi kurang matang jadi sekarang di grill ulang, maklum bukan ahli jadi belum punya sense. Sekarang saya grill bareng antara lamb shoulder dengan potato. Al hasil potato-nya menjadi overcooked. Jadi yang terjadi kebalikannya, kemarin kurang matang sekarang terlalu matang (sedikit diperhalus bahasanya), padahal gosong sampai keluar bau arang. Ambil positif-nya, habis sarapan tidak perlu minum Norit.

Untuk urusan Norit, saya konsumen setia karena sering punya masalah dengan perut. Bisa karena makanan pedas tapi kadang juga karena makanan asing. Jadi saya bukan tipe yang menyukai tantangan dalam hal makanan. Tapi kadang saya ikhlas 100% sakit perut untuk suatu makanan yang luar biasa enaknya. Saya hampir selalu memiliki Norit baik di rumah maupun saat bepergian. Saat jalan-jalan seperti ini sudah pasti saya membawa stok Norit. Bagi yang tidak memiliki masalah dengan perutpun saya tetap sarankan untuk membawa Norit saat travelling untuk jaga-jaga. Saya memilih Norit daripada obat penghenti mencret karena Norit adalah karbon aktif yang fungsinya untuk menyerap/menetralisir racun, bukan untuk menghentikan mencret. Walaupun minum Norit ya tetap saja mencret-mencret tapi itu justru bagus. Menurut saya lebih baik dikeluarkan daripada tertahan dalam perut karena akan meracuni tubuh kita, nah Norit membantu mengurangi kadar racunnya. Mungkin kita anggap mencret adalah hal sepele padahal ini masalah serius yang mengalahkan segala macam urusan duniawi bahkan akhirat. Sering kita lihat di jalan seseorang mengendarai mobil dengan sangat kencang, ugal-ugalan, janganlah selalu berpikir negatif, padahal dia sedang buru-buru karena nggak tahan mau kebelakang. Makanya jangan tertawakan kasus yang saya tulis di Journal Day 2 saat dari Akaroa menuju Christchurch.

Kembali ke urusan selain mencret, kita juga masih punya sayuran yang sangat kita sukai selama disini yaitu campuran green peas, wortel dan corn. Sebelumnya kita juga sudah pernah masak broccoli, kacang buncis dan juga bunga kol. Saya juga menyiapkan minuman untuk Puti yaitu teh. Teh andalan dia sebetulnya Lipton tapi disini kita tidak beli Lipton tapi Dilmah. Oh ya.. saya banyak ngerti urusan teh bahkan hasil saya belajar teh di Malabar Tea Plantation sempat saya tulis papernya untuk World Geothermal Congress 2005 di Antalya-Turkey. Nasib produk teh sedikit lebih baik daripada coklat namun tetap saja Indonesia sebagai salah satu produsen utama teh dunia belum terdengar menjadi nama brand seperti halnya teh Srilanka, teh China (Fujian), teh Jepang atau teh Darjeeling (India). Jadi masih perlu teknik branding yang baik, strategi marketing yang lebih tepat agar teh Indonesia lebih dikenal namanya di tingkat dunia.

Saya tetap minum Nescafe Gold yang kita beli sebelum meninggalkan Cristchurch menuju ke West Coast. Terus terang saya nggak terlalu bisa membedakan rasanya antara Classic (yang bisa saya minum di Indonesia) dengan yang Gold ini, sangat mirip akan tetapi Gold sedikit lebih strong. Nah ada juga yang kadang membingungkan disini, mobil Nissan yang di Indonesia adalah tipe Serena disini menjadi El Gran. Kalau saja disini ada Bajaj pasti disebut Taxi. Namun yang lebih parah lagi menyebut marmut seperti babi (Guinea pig). Sebagai penggemar kopi memang minum kopi extract sama seperti minum obat (diminum karena terpaksa) tapi apa boleh buat dari pada tidak. Nasib produk kopi Indonesia jauh lebih baik dari pada coklat dan teh. Brand Java Arabica, Mandailing (Sumatera) dan Toraja sudah dikenal secara internasional dari dulu sebelum munculnya kopi Luwak.

Selesai sarapan kita buru-buru mandi karena jam 10 kita harus sudah meninggalkan campsite. Kenyataannya kita meninggalkan campsite jam 10 lebih sedikit, yaitu lewat 5 menit. Kita bermaksud ke office-nya campsite untuk pamitan dan mengucapkan terima kasih ke Tony dan Koura. Tapi dalam perjalanan menuju ke office saya lihat Tony sedang sibuk mengawasi orang yang kerja benerin jalan. Sehingga di office kita hanya ketemu istri Tony (Koura), ngobrol sebentar. Iseng lihat mini market yang terdapat di office, Puti menemukan permen favourite dia waktu kecil yang sudah lama tidak pernah ditemukan lagi. Permennya seperti Sugus tapi merk-nya adalah Starburst. Kata Puti, dulu waktu dia masih kecil suka beli permen ini di Toko Setiabudi Bandung. Dia sangat terkenang dengan permen ini karena dia harus rela ngumpulin uang jajan sedikit-sedikit supaya bisa beli permen ini (kasihan amat hehehe..). Yang  dijual di Toko Setiabudi bentuknya kotak-kotak panjang mirip permen Sugus tapi yang di sini dalam plastic bag sehingga isinya banyak. Lihat permen itu mata Puti langsung berbinar-binar dan langsung beli dengan harga 3.8 dollar.

Kemudian kita cabut dari campsite Lake Ruataniwha menuju ke Christchurch. Jika nyetir non stop kurang lebih 6 jam akan sampai di Christchurch. Berikut ini route perjalanan kita hari ini:

twizzel-christchurch

Tapi dari kemarin kita sudah rencanakan untuk mampir dulu ke High Country Salmon (tempat budi daya ikan salmon) di dekat campsite. Pernah suatu waktu Tony bercerita kalau ada salmon farm yang bocor sehingga banyak ikan salmon yang lepas ke sungai dan danau. Mungkin menarik sekali untuk memancing salmon yang lepas akan tetapi saya masih belum kepingin makan salmon lagi sampai saat ini, saya rasa hingga 6 bulan kedepan.

high-country-salmon

Saya sebelumnya membayangkan di Salmon Farm kita dapat melihat proses budi daya ikan salmon dari mulai telur kemudian menjadi hatch sampai dewasa tapi ternyata tidak. Kita hanya bisa melihat salmon, diberi kesempatan memberi makan ikan salmon. Di samping itu kita juga bisa membeli berbagai macam produk dari ikan salmon baik yang fresh (utuh), smoked, fillet maupun yang dijadikan sushi. Salmon utuh yang dijual ukurannya cukup besar kemungkin 5-6 kg, sebesar paha orang dewasa normal. Kalau saya lihat dari sisi panjang, salmon disini memiliki panjang yang sama dengan yang kita pancing di Danau Wakatipu. Mungkin saja setelah mencapai panjang sekitar 50-60 cm maka pertumbuhan panjang salmon akan melambat tapi akan cenderung membesar dari segi diameter… seperti manusia. Jadi salmon-salmon di tempat budi daya ini panjangnya juga sekitar 50-60 cm akan tetapi beratnya 5-6 kg sedangkan yang kita tangkap beratnya paling sekitar 3 kg. Biasanya budidaya salmon dilakukan pada air bergerak jadi dibuatkan ombak supaya salmon selalu gerak tujuannya agar kadar lemaknya rendah. Itu yang pernah saya lihat di tv mengenai budi daya salmon di Norwegia. Akan tetapi di Salmon Farm ini tidak perlu dibuatkan ombak karena airnya mengalir (air sungai) menuju ke dam.

salmon

Disamping bisa beli berbagai produk salmon, kita juga bisa berfoto dengan model tiruan salmon yang terbuat dari fiberglass. Model salmon ini adalah ukuran yang sebenarnya dari salmon jenis Chinook (KING) yang pernah ditangkap oleh PJ Richie pada bulan Agustus 1980 di Kenai River Alaska. Salmon dengan berat 80 pounds 3 oz seperti ini sudah sangat jarang bisa ditemukan saat ini.

putisalmon

Indonesia banyak mengimpor salmon dari negara lain. Ada sesuatu yang bisa saya pelajari dari budidaya salmon di sini bahwa salmon biasa hidup atau paling bagus hidup pada suhu 8 sampai 12 derajat Celcius. Muncullah ide untuk budidaya salmon di Indonesia. Jika mungkin dilakukan maka akan bisa mengurangi ketergantungan impor. Tapi apakah mungkin? Jawabnya sangat mungkin. Mungkinkah suhu 8 sampai 12 derajat Celcius ditemukan di Indonesia? Jawabannya… banyak sekali yaitu daerah-daerah yang memiliki elevasi kurang lebih 2000 meter. Namun daerah-daerah ini pada saat siang hari suhunya sekitar 20 derajat. Artinya hanya perlu rekayasa agar pada siang hari suhunya bisa tetap nyaman untuk salmon. Bagaimana caranya? Karena saya orang geothermal maka yang paling mudah melakukan budidaya salmon adalah di lokasi-lokasi geothermal yang sudah beroperasi karena bisa memanfaatkan fluida air panas yang akan diinjeksikan kembali ke dalam bumi. Fluida panas dapat digunakan untuk menghasilkan fluida dingin menggunakan siklus Absorbsi Refrigerasi. Untuk pendinginan skala besar siklus absorbsi refrigerasi lebih efisien dibandingkan kompresi refrigerasi (seperti AC rumah yaitu menggunakan kompresor). Tentu ini hanya akan menjadi angan-angan selamanya jika tidak dimulai dengan tindakan nyata. Yang paling mudah ya dilakukan pilot project dulu.

Apakah berarti hanya mungkin di daerah dataran tinggi? Jawabnya tidak. Saya diskusikan urusan salmon ini dengan sahabatnya Puti panggilannya Ines tapi nama aslinya Honesty Yanwirsal. Dia seorang PhD di bidang perikanan dari universitas di Jerman dan bekerja disana hingga saat ini. Menurut dia lingkungan hidup ikan dapat dirubah pelan-pelan karena ikan juga memiliki daya adaptasi terhadap lingkungan yang baru. Tentunya ini memerlukan penelitian. Tapi hal ini mengingatkan saya kepada teknik yang pernah diterapkan oleh Pak Mujahir yang berhasil merubah ikan laut menjadi ikan darat dengan cara mengurangi kandungan garam pelan-pelan, bertahap. Jadilah ikan Mujahir yang kita kenal hidup dalam air tawar saat ini.

Selesai dari Salmon Farm kita bergegas menuju ke Lake Tekapo dan seperti pemandangan yang umum kita temui di South Island di kiri kanan jalan kita akan dapati danau-danau baik alamiah maupun buatan yang menampung hasil lelehan es (glacier) dengan warna biru yang luar biasa cantiknya. Meskipun danau-danau ini indah sekali akan tetapi akan sulit mengabadikannya. Saya kurang tahu pasti apa alasannya tapi dari berbagai macam teknik saya sudah coba akan tetapi selalu hasil kamera saya jauh sekali kualitasnya dibandingkan dengan aslinya. Bisa dibilang apa yang ada dalam gambar kurang dari 50% dari aslinya, sangat tidak representative. Jika seseorang mengagumi gambar-gambar danau dan juga pemandangan alam yang ada disini, bisa dibayangkan betapa excitednya kalau melihat aslinya. Jangankan danau, saluran air/irigasi saja warna airnya bagus banget.

saluran-irigasi

Sampai di Danau Pukaki kita luangkan waktu sejenak untuk mengambil foto. Tadi kita nyetir agak pelan karena sambil mencari-cari lokasi yang bagus untuk ambil foto. Akhirnya kita dapat tempat yang cukup bagus dan mobil kita parkir di pinggir jalan. Sebetulnya parkir di pinggir jalan meskipun tidak menggangu jalan tidak diperbolehkan disini, kita hanya boleh berhenti dan tempat-tempat yang sudah disediakan dan memang banyak disediakan tempat untuk berhenti dan foto-foto namanya Lookout Point. Kita pakai jurus Indonesia alias ndableg berhenti di tempat yang kita sukai. Dengan sedikit cuek dan malu tapi tetap kita laksanakan. Kita keluar mobil terus jalan kaki naik ke tempat yang lebih tinggi seperti bukit kecil di pinggir danau dan akhirnya kita dapat spot yang bagus untuk mengambil foto. Anehnya di situ tanpa kita duga, ada semacam menara kecil atau tugu yang saya rasa pasti ada maksudnya didirikan di situ. Karena kita membawa bendera NZ maka bendera tersebut kita tancapkan pada atas tiang. Jadi bukan juga sesuatu yang salah banget kita berhenti karena mungkin daerah ini juga daerah yang menarik. Satu hal yang menarik di dapat ini adalah kita bisa melihat air Danau Pukaki yang warnanya beda-beda. Selama ini kita selalu ketemu danau dengan warna yang luar biasa bagusnya yaitu warna biru laut kalau pas matahari terik akan tetapi ini sesuatu yang lebih luar biasa lagi karena ternyata warna Danau Pukaki itu berbeda-beda.

pukaki1

pukaki2

Setelah selesai foto-foto (agak lama kita berhenti, lebih dari 30 menit) kita kembali ke mobil dan anehnya setelah kita mau jalan lagi ada beberapa mobil yang berhenti di bekas mobil kita dan keluar dari mobil dengan membawa perlengkapan fotografi yang lebih dahsyat lagi. Sebetulnya selama perjalan di South Island, sudah beberapa kali kita melakukan jurus ndableg ala Indonesia ini, tapi kejadiannya selalu sama yaitu nanti ada orang lain yang mengikuti. Beberapa kali juga kita nyetir agak pelan karena mau ambil foto sementara mobil tetap berjalan, kita berpikir orang di belakang kita pasti akan sebel karena kita jalan terlalu pelan akan tetapi yang aneh mobil-mobil di belakang kita juga tidak ada yang menyalip. Ketika saya lihat lewat kaca spion ternyata mereka juga melakukan hal yang sama yaitu motret sambil nyetir. Berarti manusiawi 🙂

Untuk Danau Pukaki sebetulnya kemarin kita sudah lewati waktu menuju ke Mount Cook akan tetapi yang kita lewati kemarin adalah sisi danau sebelah kiri (sisi Barat), sekarang kita ada di sebelah kanan danau jadi selalu saja ada sesuatu yang menarik. Selesai Danau Pukaki maka kita akan menuju Danau Tekapo. Perjalanan dari Pukaki ke Tekapo tidak akan pernah lepas dari bunga lupin berwarna warni yang tumbuh liar menghiasi kiri kanan jalan. Konon katanya… Daerah antara Pukaki dan Tekapo ini banyak digunakan untuk melakukan shooting film Hercules dan Xena.

lupin

Kita sampai ke Danau Tekapo. Warna danaunya mirip dengan warna Danau Pukaki atau danau Ohau. Mungkin dengan Danau Pukaki warnanya agak beda sedikit, dimana warna Danau Pukaki sedikit lebih terang. Warna danau yang bagus ini karena air yang masuk ke danau-danau tersebut berasal dari lelehan es atau glacier jadi airnya jernih sekali. Air baik Danau Tekapo maupun Pukaki berasal dari lelehan es dari Mount Cook.

tekapo1

Pukaki bukan daerah pemukiman namun Tekapo adalah daerah pemukiman sehingga banyak kita bisa temui rumah tinggal. Awalnya orang-orang datang ke daerah McKenzie ini untuk beternak biri-biri. Tahun 1935 dibangunlah gereja yang menjadi icon Tekapo hingga saat ini yaitu Church of Good Shepherd. Sering disebut sebagai gereja yang paling banyak difoto di NZ. Gereja ini dibangun untuk mengingat orang-orang yang pertama tinggal di daerah McKenzie. Misa masih diadakan secara rutin di gereja ini hingga saat ini. Bangunan gereja tidak terlalu besar, mungkin hanya mampu memuat sekitar 30 jemaat.

good-shepherd

Di dalam gereja terdapat piano kecil, podium tempat kutbah dan juga kursi-kursi panjang dari kayu. Semua masih terawat dengan baik dan bersih. Terdapat seorang ibu-ibu tua yang menjaga gereja ini dan menyambut jika ada pengunjung yang ingin masuk melihat-lihat bagian dalam gereja. Karena sudah mendekati Hari Natal maka sudah mulai dipasang pohon natal kecil dengan lampu-lampu di dalam gereja. Juga berbagai hiasan boneka Sinterklas, lonceng, trompet dan burung merpati khas natal.

dalam-gereja

Yang unik dari gereja ini adalah jika kita berada di dalam gereja maka pandangan kita langsung ke Lake Tekapo. Sementara pendeta kalau kutbah justru membelakangi danau karena harus menghadap ke arah jemaat. Saya khawatir para jemaat tidak akan memandang pendeta yang sedang kutbah tapi justru memandang danau sambil melamun. Gereja ini sangat favourite untuk acara pernikahan. Saya yakin setiap pengunjung yang datang ke gereja ini akan memotret salib yang ada di jendela dengan latar belakang Lake Tekapo seperti di bawah ini.

salib

Tidak jauh dari gereja tepat di pinggir danau ada sekumpulan pohon pinus yang tidak terlalu tinggi dan disediakan bangku kayu panjang yang menghadap ke danau untuk duduk santai memandangi danau. Sayangnya kita tahunya telat. Mestinya spot ini sangat cocok untuk melakukan pemotretan pre-wedding.

bangku-tekapo

Salah satu yang menarik di New Zealand, meskipun kota kecil akan tetapi selalu memiliki airport. Memang untuk kota kecil ukuran airportnya juga kecil, kadang airport ini hanya bisa didarati oleh pesawat kecil ukuran 18 penumpang. Sebagian besar airport di kota-kota kecil bukan untuk transportasi umum akan tetapi digunakan untuk pesawat wisata (safari udara) atau untuk kepentingan olah raga seperti skydiving.

Di depan gereja terdapat sebuah monument anjing collie yang terbuat dari perunggu. Monumen ini didirikan oleh orang-orang yang memiliki jalur ini (runholders) dari McKenzie Country dan orang-orang yang juga menghargai peran anjing collie yang mana tanpa bantuannya menggembala di daerah pegunungan ini menjadi tidak mungkin. Diresmikan pada 7 Maret 1968 oleh Sir Arthur Espie Porrit, Gubernur Jenderal New Zealand yang ke-11. Mengenai Gubernur Jenderal Porrit, beliau adalah seorang atlet lari sprint yang memenangkan medali perunggu Olimpiade 1924 untuk nomor sprint 100 meter putra. Beliau sekaligus seorang anggota militer dengan pangkat terakhir Kolonel. New Zealand sebagai negara kecil mampu melahirkan peraih medali Olimpide lari sprint, sementara Indonesia sebagai negara besar belum pernah melahirkannya. Bakat menjadi pelari sprint sebenarnya sangat banyak namun sayang bukan untuk merebut medali.

Seperti pernah saya tulis sebelumnya bahwa wakil Ratu Inggris di NZ adalah seorang Gubernur Jenderal sementara kepala pemerintahan adalah seorang perdana menteri (PM). NZ baru memiliki PM tahun 1855 sehingga sebelumnya masih di bawah Ratu Inggris dengan diwakili oleh Gubernur Jenderal. Gubernur Jenderal tidak selalu keturunan Inggris, pernah dijabat berbagai macam keturunan atau etnis misalkan Maori juga India. Gubernur Jenderal umumnya 5 tahun. Seperti halnya di Indonesia, banyak generasi muda NZ yang tidak tertarik mempelajari sejarah apalagi yang berhubungan dengan monarki sehingga banyak yang tidak tahu siapa Gubernur Jenderal-nya.

collie

Dari Tekapo kita langsung menuju ke Christchurch. Di tengah perjalanan Tekapo-Christchurch kita melewati kota kecil yang namanya Ashburton. Ini lah kota kelahiran William Hamilton Sang Penemu Hamilton Jet Engine. Kota kecil ini dikenal sebagai kota industri di South Island. Ada berbagai macam industri di kota ini namun maskot dari kota ini adalah ikan salmon karena daerah ini memiliki banyak sungai-sungai yang menjadi tempat favorite untuk memancing.

ashburton

Sampai ke Christchurch sore hari, kita langsung menuju ke campsite yang dulu kita tinggali waktu dari Akaroa balik ke Christchurch yaitu Stone Hurst. Kita berharap dapat tempat di campsite ini. Kita sudah rencanakan untuk malam terakhir kita harus nginap di kamar, bukan di campsite (mobil) karena kita masih butuh packing untuk terakhir kali, setidaknya kita perlu cek ulang barang bawaan kita. Sangat disayangkan waktu kita sampai ke office kita sampaikan kepada petugas di situ bahwa kita butuh kamar untuk nanti malam jawaban yang kita terima adalah kamar hanya tersedia untuk pemakaian 2 malam yaitu malam natal (which is nanti malam) dan 25 malam. Alasannya karena besok tidak ada petugas yang ngantor karena libur natal sehingga kalau pemakaian kamar hanya malam natal mereka rugi alias tanggal 25 malam pasti kamar jadi kosong karena tidak ada petugas yang bisa menerima tamu. Karena tidak dapat kamar akhirnya kita putuskan untuk mencari Top 10 Holiday Park. Sebelumnya Puti sudah menelpon Top 10 Holiday Park untuk menanyakan ketersediaan kamar, mereka bilang ada kamar kosong dan bisa dipakai meskipun hanya satu malam (malam natal, tidak perlu 2 malam). Namun petugasnya sulit mendiskripsikan masing-masing tipe kamar yang tersedia melalui telepon. Akhirnya kita putuskan untuk langsung menuju lokasi saja. Dengan bantuan Tom Tom kita langsung menuju ke Top 10 Holiday Park, lokasinya tidak terlalu jauh dari Stone Hurst yang ada di pusat kota Christchurch. Pas sudah sampai kita agak tercengang karena ini adalah Top 10 Holiday Park terbesar yang pernah kita temui, pokoknya luas sekali. Di officenya kita hanya bertemu dengan 1 orang petugas, ibu-ibu sudah agak tua atau bisa dibilang sudah usia nenek-nenek. Mungkin juga tadi dia yang menjawab telpon Puti. Setelah dijelaskan sedikit mengenai tipe-tipe kamar kita tidak panjang lebar langsung ambil salah satu kamar karena kita juga sudah capek. Model kamar untuk berdua tapi tempat tidurnya tingkat atas bawah, kamar mandi ada di dalam dan kitchen juga tersedia tapi kitchen umum (bersama). Kita tanyakan juga bagaimana kita taruh kunci besok karena natal jadi kita yakin nggak ada yang jaga. Tapi petugas ini bilang kalau dia jaga jadi besok kunci bawa ke office saja dan serahkan ke dia. OK dech.. Aneh juga ada yang mau kerja saat natal. Either dia nggak punya saudara atau she is a Jew 🙂

Setelah selesai dari kantor langsung menuju ke kamar. Selesai turunin barang ke kamar langsung cek dapur, dapur lengkap dan bagus, gandeng dengan dapur adalah ruang besar dengan meja-meja panjang untuk makan dan dilengkapi juga dengan TV. Setelah cek dapur kita langsung cek ruang komputer, untuk cek internet. Komputer ada 4 buah, kebetulan ada 2 komputer yang tidak sedang dipakai. Saya ambil 1 dan Puti ambil satu juga. Seperti biasa kita pingin cek email dan juga update status di FB. Kita tidak bisa meng-upload gambar-gambar karena sambungan internet mahal yaitu 2 dollar per 10 menit. Kadang kita bisa upload foto kalau ada sambungan internet gratis misalnya waktu di Queenstown ketika kita beli tiket untuk Nevis Arc di kantornya AJ Hackett disitu disediakan komputer banyak dan bebas untuk surfing internet, nah kita sempat upload foto-foto kita waktu skydiving di Wanaka.

Di penginapan ini kita tidak sempat lihat-lihat campsite secara keseluruhan karena sudah hampir gelap. Selesai dari ruang komputer kita langsung ke dapur dan seluruh makanan yang belum habis kita bawa ke dapur. Indomie masih banyak akhirnya 3 pak Indomie goreng kita masak, kita tidak masak nasi jadi kita ganti dengan Indomie Goreng. Selesai makan malam langsung bersih-bersih perlengkapan. Beres semuanya kemudian semua sisa bahan makanan yang belum kita makan namun tahan lama kita tinggalkan di dapur dan kita tulis “Feel free to have it, we are leaving”. Banyak sekali yang kita tinggalkan seperti mentega, margarine, Indomie baik yang bungkus plastik maupun yang Mie Cup (yang cup sebagian besar merek ABC, kita bawa banyak dari Indonesia tapi baru kita makan 2 cup waktu di Punakaiki), telur, bumbu sachet seperti bumbu nasi goreng bahkan rendang, garam, merica, dan juga beras baik yang jasmine (masih banyak) maupun yang basmati (masih utuh hanya kita masak sekali di Akaroa). Makanan yang tidak tahan lama seperti buah, susu, yoghurt dan minuman botol yang sudah tidak tersegel kita buang semua ke tempat sampah. Kita senang karena beberapa saat setelah kita tinggalkan, barang-barang yang kita tinggalkan sudah habis diambil para penghuni lain. Sedang banyak pengunjung masih muda-muda, mungkin mahasiswa kalau dilihat dari segi usia dan mungkin mereka dari Taiwan atau China kalau dengar bahasanya. Urusan makanan sudah bebas bahkan kita juga tidak menyisakan makanan buat sarapan besok karena kita rencanakan sarapan di bandara saja supaya tidak repot.

Karena packing sudah kita lakukan saat di Twizel maka kita langsung mandi namun tidak langsung tidur karena tanggal 25 Des adalah hari ulang tahunku. Kita tunggu sampai tepat pukul 12.00 baru kemudian kita tidur. Meskipun sudah larut malam suasana di luar holiday park masih terdengar ramai karena malam ini malam natal. Penghuni sekitar kamar kita juga masih pada ngumpul, ngobrol dan ketawa-ketawa. Saya yakin ketawa-ketawanya dibantu alkohol kecuali orang Indonesia tanpa alkohol pun sudah ketawa-ketawa karena secara genetik tampangnya memang ramah, tampang ketawa terus. Meskipun agak berisik namun tidak kita permasalahkan. Kita juga tidak merasa terganggu karena sudah ngantuk banget, capek perjalanan Twizel-Christchurch.

Memang kita menikmati seluruh perjalanan ini namun perasaan kangen rumah selalu ada, selalu hadir, kepikir Rara sedang apa, susah bangun atau tidak, bagaimana dia makan, takut dia sakit. Meskipun besok malam kita sudah sampai rumah namun rasanya begitu lama menunggu pagi, pingin segera bisa peluk Rara. Semoga tahun depan kita sudah bisa bawa dia jalan bersama, pasti perjalanannya menjadi semakin seru.

Summer 25 Desember 2010. Christchurch

Pagi-pagi kita bangun dan langsung angkat barang-barang ke mobil dan siap menuju bandara. Sambil menuju gerbang holiday park kita serahkan kunci ke kantor administrasi sesuai kesepakatan kemarin. Jalanan sangat sepi karena orang-orang masih pada tidur. Mobil akan kita kembalikan ke tempat rental yang lokasinya juga tidak jauh dari bandara. Saat sampai tempat rental kita bertemu Eran karena kita sudah janjian lewat telepon sebelumnya. Meskipun hari Natal tidak masalah buat dia karena dia tidak merayakannya.

Pertama yang dilakukan Eran adalah mengecek kondisi mobil dan barang-barang yang mudah dipindahkan yang dulu kita terima seperti selimut, kasur, bantal, guling, piring, sendok, gelas, meja lipat, kursi lipat, juga kompor dan mesin pendingin. Barang tersebut baik kondisi maupun jumlahnya harus sama seperti saat kita terima. Setelah semuanya lengkap baru kita ke kantor untuk menandatangani surat serah terima. Namun Eran mengingatkan jika ternyata ada pelanggaran lalu lintas dan terdapat denda maka denda tersebut akan diinformasikan ke kita dan dibayar melalui kartu kredit karena jaminan kita adalah kartu kredit.

Setelah urusan rental beres, kita diantar ke bandara oleh istrinya Eran karena Eran harus jaga kantor. Meskipun jarak tempat rental dengan bandara dekat namun kita sempat ngobrol-ngobrol sebentar selama dalam perjalanan. Waktu di tempat rental saya lihat Eran memiliki dua orang anak laki-laki masih kecil usia SD yang dua-duanya memiliki rambut blonde dan mata biru seperti Eran sementara istrinya berambut hitam agak curly dan mata coklat. Saya cuma komentar kalau anak-anak dia semua mirip Eran. Ternyata dia mengiyakan bahkan dia bilang kalau dia sering sebel kalau sedang bersama anaknya atau mengantarkan kedua anaknya sekolah semua orang menganggap dia adalah pengasuhnya atau the nanny.

Akhirnya kita sampai bandara, tidak ada masalah overweight dengan bagasi kita saat check in karena Puti membawa timbangan kecil jadi sebelumnya sudah kita cek berat dari masing-masing bagasi. Kita juga tidak ada tambahan barang baru karena tidak membeli banyak souvenir, hanya souvenir kecil seperti gantungan kunci, kalung Maori, mainan-mainan kecil dan kartu post. Tambahan barang yang agak berat hanya coklat batangan. Coklat NZ lumayan enak, banyak merk umum seperti yang kita temui di Indonesia seperti Delfie, Toblerone dan Cadbury namun coklat yang asli buatan NZ adalah merk Whittaker’s. Hampir semua jenis coklat Whittaker’s kita beli seperti Hazel Nut, Macademia, Almond Gold, Fruit & Nut, Creamy Milk, Dark Ghana, Ghana Peppermint, Dark Almond, Dark Cacao, Rum & Raisin, Dark Block, Dark Caramel, Milk Caramel dll. Namun dari semua jenis coklat Whittaker’s yang paling saya suka, menurut saya paling unik dan tidak dimiliki produsen lain adalah jenis Kiwi Fruit. Coklat per block beratnya 200 gram sehingga total berat coklat yang kita beli tidak kurang dari 7 kg. Maklum keluarga besar, saudara banyak, teman banyak… Ini pun belum tentu semua kebagian. Coklat ini tidak kita beli sekaligus, kita cicil beli sedikit-sedikit di beberapa kota baik waktu di Wanaka, Te Anau maupun Queenstown.

Selesai check in kita masih punya cukup waktu sebelum boarding sehingga kita manfaatkan untuk makan dan minum kopi karena kita belum sarapan. Tidak makan berat karena nanti di pesawat kita akan dapat makan berat. Selesai makan kita masih punya banyak koin NZ dari pada bawa berat-berat kita manfaatkan untuk membeli coklat kecil-kecil di Duty Free untuk tambahan oleh-oleh.

Meskipun kita mendarat dan take off dari Christchurch namun kita tidak menyempatkan waktu sama sekali untuk melihat apa saja yang dimiliki oleh Christchurch. Sebenarnya banyak yang bisa dinikmati dan dilihat di Christchurch namun kita sengaja menghindari kota ini karena tepatnya tanggal 4 September 2010 terjadi gempa besar di kota ini yang menyebabkan beberapa bangunan dan rumah roboh dan banyak yang mengalami keretakan-keretakan. Meskipun sudah beberapa bulan kejadian tersebut namun bekas-bekas gempa masih bisa kita lihat di sana-sini yang menjadikan kota ini sedikit agak berantakan. Kota Christchurch memang berada di dalam sebuah kaldera gunung yang sudah tidak aktif. Saya kurang tahu apakah kondisi geologi seperti ini dulunya dipahami oleh pendiri kota ini atau tidak, tapi kemungkinan besar tidak. Namun sudah lama juga kondisi seperti itu telah diketahui. Namun yang menjadi permasalahan adalah jika secara geologi memang memiliki potensi terjadinya gempa maka bangunan harus didirikan menggunakan standard tertentu. Hal ini bisa diterapkan pada bangunan-bangunan baru tapi penerapannya pada bangunan-bangunan lama menjadi sulit dilakukan. Oleh sebab itu jika terjadi gempa yang paling rawan mengalami kerusakan adalah bangun-bangunan tua. Yah mungkin lain kesempatan kita akan meluangkan waktu khusus untuk menikmati kota ini.

Selain kangen Rara dan kangen rumah, juga kangen naik mobil di rumah. Pasti nikmat sekali setelah 2 minggu menggunakan mobil yang nggak ada enak-enaknya, manual, nyetirnya juga tidak nyaman, khawatir rusak dan kekhawatiran yang lain, belum lagi terintimidasi mobil-mobil lain yang lebih bagus dan keren. Yang penting sekarang boarding menuju Singapore dan nanti stop over sebentar dan lanjut ke Jakarta.

Di dalam pesawat sebelah saya adalah perempuan Indonesia usia sekitar 40an. Dia asalnya dari Jakarta namun sudah lama tinggal di Christchurch sudah lebih dari 20 tahun sejak dia kuliah. Kuliah di Christchurch University mengambil jurusan Agriculture dan kemudian memperdalam ilmu mengenai bunga. Setelah lulus tidak pulang ke Indonesia karena bisnis bunga di Jakarta masih belum popular. Mungkin ibu ini menganggap orang Jakarta kurang romantis sehingga tidak butuh bunga 🙂 Kemudian dia membuka bisnis bunga di Christchurch dan menikah serta menetap sampai sekarang. Dia juga menceritakan kalau toko bunga dia rusak lumayan parah saat gempa namun belum selesai direnovasi makanya dia sempatkan waktu pulang Jakarta untuk kumpul dengan orang tua dan saudara-saudara. Mestinya waktu Natal Tahun Baru seperti ini adalah masa emas bagi penjual bunga. Cerita panjang lebar dengan ibu ini cukup membantu mengurangi kejenuhan karena penerbangan cukup lama dan sulit tidur karena bukan jam tidur. Nonton Just for Laughs sampai pipi pegel tapi tidak sampai-sampai juga ke Singapore.

Sampai Singapore kita tidak punya waktu banyak dan langsung pindah pesawat menuju Jakarta. Tanggal 25 Desember 2010 malam kita sampai Jakarta. Meskipun hanya 2 minggu rasanya lama sekali meninggalkan rumah.

Home sweet home.

to be continued to “Catatan Penutup”