Day 3: Christchurch-Punakaiki

Summer 13 Desember 2010. Day 3: Christchurch, Punakaiki.

Malamnya di Christchurch kita nginap di Stone Hurst (kata Puti artinya rumah batu dalam bahasa Skandinavia). Pagi-pagi kita sudah bangun dan segera menyiapkan sarapan. Sarapan pagi selalu yang sederhana dan mudah seperti sereal campur susu/yoghurt dan tidak lupa menyiapkan sandwich roti plus selai (jam) untuk jaga-jaga jika tidak sempat menyiapkan makan siang yang proper. Sekitar jam 10 kita sudah siap menuju ke Punakaiki. Oh ya… karena musim panas harinya lebih panjang bukan berarti paginya lebih awal karena biasanya jamnya dimajukan sehingga pagi tetap jam normal namun malamnya yang menjadi lebih telat. Dan nanti saat mendekati musim dingin, karena musim dingin harinya pendek, maka jamnya dimundurin. Agak aneh sih buat kita yang tidak memiliki musim seperti mereka.

Kita masih belum pastikan apakah akan tinggal di Greymouth atau langsung di Punakaiki, tapi kita putuskan yang penting berangkat dulu. Dari Stone Hurst kita mampir dulu di Pak’n Save, melengkapi perbekalan karena takut nanti di daerah barat di Westland kita sulit mendapatkan makanan. Kita beli indomie, saus tomat, sosis yang banyak sekali. Karena saya pemakan ikan dan kebetulan saya lihat ada ikan mackarell asap maka saya beli ikan asap. Puti bukan pemakan ikan jadi bisa dipastikan saya nantinya harus bertanggung jawab menghabiskan ikan ini. Yah kita lihat saja nasib saya nanti.

Setelah semua lengkap kita menuju ke Punakaiki. Dari Christchurch menuju Punakaiki kita akan melewati jalur tengah yaitu menyeberang Arthur Pass. Seperti terlihat di dalam peta kalau kita berjalan ke arah Timur Laut menyusuri Pantai Timur South Island maka ada daerah yang sebenarnya menarik untuk dikunjungi yaitu daerah Kaikoura. Kaikoura sangat terkenal untuk wisata lautnya yaitu untuk melihat ikan paus di lautan bebas. Jarak dari Christchurch ke Kaikoura hampir sama dengan jarak Christchurch ke Punakaiki. Namun pada kunjungan kali ini kita tidak memasukkan Kaikoura ke dalam daerah yang akan kita kunjungi karena terbatasnya waktu. Mungkin akan kita lakukan di kesempatan yang lain, insya Allah.

1-peta-rencana-perjalanan-hari-ketiga

Jarak dari Christchurch menuju Punakaiki sebetulnya tidak terlalu jauh yaitu 288 km. Secara teoritis dapat dicapai dengan kendaraan yaitu selama 3 jam 47 menit namun kenyataannya hal ini sulit sekali dicapai mengingat perjalanan ini akan melewati daerah pegunungan yang disebut sebagai Arthur’s Pass yang jalannya berbelok-belok dengan tikungan yang sangat tajam dengan kiri kanan tebing batu atau jurang.

Pada saat ke South Island pada akhir tahun 1998, saya dan teman-teman tidak memiliki kesempatan melakukan perjalanan melewati Arthur Pass sehingga perjalanan kali ini akan menjadi pengalaman pertama. Sebenarnya perjalanan ini diilhami oleh acara TV Globe Trekker New Zealand yang mana Jay Harding sebagai host acara melakukan perjalanan menggunakan kereta api dari Chrischurch menuju Greymouth di pantai barat South Island. Kereta api bukanlah sarana transportasi yang populer di NZ namun jalur kereta api dari Christchurch di timur South Island menuju Greymouth di barat South Island merupakan salah satu jalur kereta api favorit di dunia mengingat melewati daerah yang memiliki view yang berbeda-beda dari dataran rendah ke dataran tinggi, dari daerah pertanian peternakan ke hutan-hutan, tebing-tebing batu, sungai-sungai, danau dan gunung-gunung es. Jika ada yang ingin merasakan sensasi perjalanan yang berbeda maka Tranzalpine Railway merupakan pilihan terbaik. Jalur kereta ini selesai dibangun dan mulai dioperasikan tahun 1923, melewati 20 tunnel yang diperuntukkan untuk memperpendek jalur perjalanan dan menghemat waktu. Dulunya sebelum ada jalur kereta api ini, perjalanan dari Pantai Timur ke Pantai Barat melewati jalur darat memerlukan waktu 2 hari sementara dengan kereta hanya 5 jam. Salah satu tunnel terpanjang yang dilewati yaitu tunnel sepanjang 5 mile yang memotong Southern Alps. Perbedaan sebelum dan sesudah melewati tunnel sangat kontras dimana sebelum melewati tunnel maka daerahnya kering sementara setelah keluar tunnel maka masuk daerah yang sangat basah dan sangat hijau.

Sebelum sampai Arthur Pass kita lewat daerah Springfield terlebih dahulu. Seperti biasa, jalan di NZ apa lagi South Island sangat sepi tidak ada mobil lain di depan, di belakang maupun yang berpapasan. Jangankan orang, monyet pun tidak ada. Penjelasan ilmiahnya adalah… NZ itu sudah terlepas dari Benua Besar Dunia yang sering disebut Gondwana jauh sebelum vertebrata lahir di muka bumi. Satu-satunya vertebrata yang ada di NZ adalah burung karena dapat terbang ke NZ dari tempat lain. Ini juga berhubungan dengan evolusi burung kiwi. Burung kiwi datang ke New Zealand kemudian karena di sini tidak ada pemangsa maka dia jarang terbang, banyak mencari makan di tanah sehingga lama kelamaan akan kehilangan fungsi dari sayapnya. Karena tidak digunakan sayap tersebut akhirnya hilang. Binatang-binatang lain seperti ular, binatang melata lain juga tidak akan ditemukan di New Zealand sehingga sangat aman untuk berkemah atau melakukan kegiatan apapun di hutan. Kalaupun terdapat binatang lain seperti sapi, domba, babi, dan mungkin juga tikus, itu karena dibawa oleh para pendatang baik orang Maori maupun orang Eropa. Jadi tidak akan ditemukan monyet di hutan-hutan di NZ. Orang Maori juga bukan penduduk asli NZ, mereka juga pendatang dari daerah utara. Banyak yang salah mengira mengenai orang Maori. Karena NZ berada di sebelah timur Australia maka banyak yang mengira orang Maori secara fisik seperti orang Aborigin di Australia padahal berbeda karena berbeda ras. Orang Maori masuk kategori ras Polynesia sementara orang Aborigin adalah Melanesia (Melas berarti hitam). Jadi orang Maori lebih mirip dengan orang Hawaii dan Pacific Islanders lain seperti Samoa, Tahiti. Menurut sejarah, orang Maori bukan penduduk asli NZ, mereka datang dari utara dari Polynesia sekitar 700-800 tahun yang lalu, tentunya dalam beberapa gelombang kedatangan, bukan sekali kedatangan. Dari sisi budaya, kepercayaan, seni anyaman, ornamen-ornamen dalam seni ukir, saya lebih percaya bahwa orang Maori memiliki akar yang sama dengan nenek moyang kita orang Indonesia. Asal usul orang Maori sampai sekarang masih banyak perdebatan, ada yang mengklaim berasal dari Taiwan (penduduk asli Taiwan bukan pendatang bangsa Han).

Setelah Springfield kemudian kita sampai di Castle Hill. Castle Hill adalah batu-batu dolomite yang bagus banget, seperti dataran/valley kemudian ada batu-batu besar. Kita berhenti dan foto-foto disana.

2-pintu-masuk-castle-hill

3-batu-batu-dolomite-di-castle-hill

Untuk dapat foto berdua maka kita harus pasang tripod dan gunakan timer. Kita kepinginnya foto berdua di atas batu yang gede. Jarak batu yang besar itu ke kamera kira-kira 30 meter. Jadi kita tekan tombol di kamera terus kita harus lari ke batu besar dan naik ke atas batu. Masalahnya timer kamera hanya bisa diset 10 detik yang terlama. Jadi beberapa kali kita ulang, selalu kita belum sampai pada posisi sempurna dan kamera sudah jepret, akhirnya kita nyerah, dengan hasil seadanya.

4-foto-berdua-diatas-batu

Tidak banyak pengunjung di Castle Hill. Kalau kita naik mobil dari Christchurch dan mau masuk ke Arthur Pass, daerah ini akan kelihatan mencolok sekali karena selama perjalanan, sebelah kiri kanan kita adalah tebing-tebing batu tapi tiba-tiba masuk ke daerah lembah yang rata dan terdapat bongkahan batu-batu yang besar.

Kita lanjutkan perjalanan ke Arthur Pass, daerah ini adalah national park. Di Arthur Pass kita sempat berhenti untuk makan siang di tempat parkir dekat dengan pusat informasi dan seberang dari stasiun kereta (Tranzalpine). Awalnya kita pingin berhenti di situ untuk melihat air terjun, tapi karena hujan jadi rencana tersebut kita batalkan karena pasti jalannya akan licin menuju ke air terjun meskipun jarak ke air terjun cuma 1 km. Yah beginilah karakter dari Westland yang banyak hujan, sudah kerasa sejak kita di Arthur Pass. Kita makan siang dalam mobil (makan roti pakai mentega, cheese dan jam/selai, yang praktis saja), kemudian kita tidur-tiduran siapa tahu nanti kebangun sudah tidak hujan dan kita tetap bisa lihat air terjun. Tapi ternyata waktu kita bangun tetap hujannya nggak berhenti jadi kita lanjutkan perjalanan.

Perjalanan ke Greymouth, melewati daerah Arthur’s Pass, sebetulnya tidak terlalu panjang namun yang bikin lama karena route-nya yang berkelok-kelok dan naik turun. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, daerah pegunungan ini disebut sebagai Southern Alps yang selalu terdapat es abadi di puncak-puncak gunungnya yang memisahkan South Island sebelah timur dan barat. Setelah melewati atau menembus Southern Alps kita akan menemui danau-danau hasil lelehan es. Yang terkesan setelah kita memasuki daerah Westland kita akan menemui banyak sapi-sapi. Yang lucu, sapi-sapi ini pantatnya atau telinganya diberi cat berbeda-beda ada yang kuning, biru atau merah untuk menandai siapa pemiliknya. Daerah Westland adalah daerah di New Zealand dengan curah hujan paling tinggi (sekitar 20 feet per tahun) sehingga merupakan pusat pertanian dan juga peternakan. Mungkin nama yang cocok bukan Westland tapi Wetland. Di daerah ini juga banyak menawarkan jasa bagi siapa yang tertarik untuk merasakan tinggal di daerah pertanian dan peternakan sekaligus mengikuti aktivitas-aktivitasnya.

5-sapi-sapi-dengan-penanda-warna-sesuai-dengan-pemilik

Karena sampai Greymouth belum terlalu malam maka kita putuskan untuk langsung menuju Punakaiki. Greymouth adalah kota yang awalnya berdiri karena aktivitas pertambangan batu bara dan emas. Belakangan muncul juga pertambangan greenstone. Disebut Grey Mouth karena kota ini berada di mulut sungai Grey (dari nama politisi di NZ yang cukup terkenal di abad 19 yang bernama Sir George Grey). Saat ini Grey Mouth mengandalkan ekonominya pada sektor perikanan, pertambangan, kehutanan dan pariwisata. Grey Mouth secara definisi menurut Local Government Act 1974 belum termasuk katagori “City” karena harus memiliki penduduk minimum 50,000 orang sementara Grey Mouth hanya sekitar 10,000 orang. Tidak banyak tempat dengan status sebagai “kota” di New Zealand, jika diurut sesuai dengan jumlah penduduk yaitu hanya Auckland, Wellington, Christchurch, Hamilton, Napier-Hasting, Tauranga, Dunedin, Palmerston North, Nelson, Rotorua, New Plymouth, Whangarei, Invercargill, Whanganui dan Gisborne. Dari seluruh kota ini hanya Christchurch, Dunedin, Nelson dan Invercargill yang ada di South Island. Gisborne sendiri sering menganggap dirinya kota padahal secara definisi tidak termasuk kategori kota karena penduduknya hanya 35,000.

Punakaiki hanyalah sebuah kota kecil dan kita khawatir tidak ada fasilitas penginapan yang memadai. Namun kita sudah cek bahwa di Punakaiki terdapat Top 10 Holiday Park sehingga kita akan tinggal di campsite tersebut. Perjalanan menuju Punakaiki yang sangat berkesan adalah dinding batu batu yang tegak lurus di sebelah kanan jalan sementara sebelah kirinya adalah Laut Tasmania dengan ombak yang begitu dekat dengan jalan sehingga sangat terasa suaranya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Waktu sampai di Punakaiki, kita lihat di sebelah kiri jalan dekat pantai ada tulisan “Horse Trek”. Puti langsung matanya melilik karena cita-citanya sejak kecil adalah bisa naik kuda di pinggir pantai, that’s relatively rare, isn’t it? Jadi wajar saja kalau dia bermimpi untuk itu. Kita tidak langsung ke tempat latihan kuda yang ada tulisannya Horse Trek tersebut tapi ngecek campsite terlebih dahulu yang kira-kira jaraknya sekitar 1 km. Kita cek campsite, lumayan bagus tapi kita tidak langsung check in, kita balik dulu ke tempat latihan kuda. Waktu kita sampai, kita coba tengok ke dalam loket, tidak ada tanda-tanda orang di situ, terus terdengar ada suara ibu-ibu memanggil dari hotel di seberang jalan yang kebetulan posisinya lebih tinggi. Ternyata di situ ada juga tulisan kalau tempat pendaftaran sudah tutup, diminta untuk menuju ke hotel di seberang tempat latihan kuda tersebut.

Setelah ketemu ibu yang panggil tadi, kita sampaikan kalau kita tertarik untuk ikut horse trekking besok pagi untuk saya dan Puti. Ternyata untuk besok programnya mulai jam 9.30 dan selesai jam 12.00. Untuk sore programnya mulai jam 14.30 dan selesai sekitar 17.00. Akhirnya kita ikut yang program pagi, biayanya 270$ berdua. Pada saat daftar si ibu ini menyarankan agar kita melihat blow holes besok pagi paling lambat jam 5.35. Blow hole itu air laut yang menabrak pancake rocks kemudian nyembur ke atas melalui lubang sehingga di permukaan terlihat seperti fumarol. Blow hole hanya terjadi saat air laut pasang. Selesai daftar hores trek kita balik ke campsite dan bayar terus check in.

Terdapat aturan di campsite ini yaitu pintu gerbang akan ditutup pada pukul 10 malam dan baru dibuka pukul 7 pagi. Jadi selama masa tersebut mobil tidak bisa keluar masuk. Aturan seperti ini baru kita temukan di Punakaiki. Yang jadi masalah adalah pagi-pagi jam 5.35 kita harus melihat blow hole. Berarti pagi nanti pas mau melihat blow hole kita harus jalan 1 km ke pancake rock dari campsite.

Setelah kita dapat tempat kita langsung siap-siap makan malam karena kita harus tidur cepat otherwise kita nggak bisa bangun untuk melihat blowhole. Paling tidak kita harus sudah start jalan jam 5 pagi jalan kaki menuju punakaiki pancake rock. Menu makan malam kita adalah nasi dan ikan mackarell asap (penasaran rasanya apakah sama dengan ikan asap di kampung saya atau tidak) yang kita beli di Pak’n Save Christchurch yang ada di Manchester St. Selesai makan malam kemudian saya cuci piring, gelas dan peralatan masak. Meskipun nanti harus tidur cepat tapi saya sempatkan bikin kopi Nescafe Gold yang juga kita beli di Pak’n Save karena saya belum pernah merasakan jenis Nescafe yang satu ini. Belum selesai minum kopi sudah diusir dari kitchen dan dining room karena akan dikunci pada jam 10 malam. Balik ke mobil, kita tidak mandi malam itu karena hujan terus dan kecapean perjalanan yang panjang. Bahkan saking kebelet pipis saya tidak sempat ke kamar mandi tapi pipis di dekat mobil (jangan ditiru ya….). Saya lari ke belakang mobil dengan harapan nggak akan kelihatan siapa-siapa tapi saya nggak sadar bahwa di sebelah mobil kita ternyata ada mobil lain, perasaan waktu kita parkir di situ tidak ada mobil lain selain mobil kita. Ya sudahlah, kalau tadi kelihatan pas pipis juga cuek saja, sudah terjadi heheheh….

to be continued to “Day 4: Punakaiki-Franz Josef”