Day 4: Punakaiki-Franz Josef

Summer 14 Desember 2010. Day 4: Punakaiki, Franz Josef.

Pagi jam 5 kita bangun dan langsung jalan menuju ke pancake rock. Seperti rencana awal, kita menggu blowhole namun ternyata nggak muncul-muncul. Akhirnya kita jalan-jalan sekitar pancake rock untuk mengambil gambar. Karena masih terlalu lemah cahayanya sehingga sedikit sekali kita bisa ambil gambar plus waktu itu juga sedang gerimis (sulit dibedakan antara gerimis atau mist). Beberapa kita buat rekaman video, mumpung sepi. Saat itu cuma kita berdua, tidak ada orang lain. Saya pikir akan banyak orang yang tertarik untuk nungguin blowhole, ternyata tidak ada orang. Di salah satu sudut kita bisa lihat batu pancake membentuk gambar wajah manusia.

1-batu-mirip-wajah

Pas kita putuskan untuk balik ke campsite, karena sudah hopeless nggak ketemu blowhole, sekitar jam 6.30 tiba-tiba blowhole muncul dari rekahan pada foto di bawah.

2-batu-blowhole

Akhirnya kita videokan. Blowhole yang kita lihat memang tidak se-spektakuler yang ada di postcard-postcard. Yang kita lihat cuma blowhole kecil seperti fumarole sedangkan yang di postcard-postcard seperti sebuah geyser (semburan besar). Karena hari makin cerah maka kita sekalian manfaatkan untuk ambil foto-foto lagi meskipun kita punya rencana siang setelah horse trekking kita akan balik ke situ lagi.

3-pancake-rocks

Kemudian kita balik jalan kaki ke campsite, sampai campsite jam 7.15. Harus segera balik ke campsite karena harus menyiapkan sarapan karena kita harus ikut horse trekking. Sesampainya di campsite kita rasanya ngantuk banget dan kedinginan karena kena air hujan dan akhirnya kita putuskan untuk tidur sebentar sekitar 30 menit. Namun apa yang terjadi? Alarm kita tidak mampu membangunkan kita dan kita baru bangun jam 8.45. Kita belum mandi, belum sarapan, makanya kalang kabut. Minimal kita harus mandi (karena malam harinya nggak sempat mandi), urusan sarapan kita sarapan yang praktis saja yaitu sereal plus yoghurt.

Kita baru sampai di tempat horse trek jam 9.45. Ibu, yang kemarin kita ketemu untuk daftar itu, sangat kecewa dan marah ke kita karena guide yang akan membawa kita sudah nunggu di tempat latihan kuda. After say sorry, kemarahan Ibu tersebut mereda dan akhirnya kita menuju ke tempat latihan kuda.

Di situ telah menunggu seorang cewek masih muda, namanya Karina, yang akan mendampingi kita selama horse trekking. Selain Karina ada seorang temannya dan juga suami dari Ibu tadi. Setelah kita diberi breifing sebentar terus kita menandatangi surat pernyataan kalau terjadi kecelakaan dll, kemudian dikasih helmet dan kita langsung naik kuda masing-masing.

Kuda saya namanya Appy (supaya gampang mengingat sampai kapanpun, saya plesetin menjadi Merry Christmas and Appy New Year). Kuda Puti namanya Bear dan kuda Karina adalah Lynn. Lynn umurnya sekitar 5-6 tahun, jadi dalam usia kuda masih termasuk anak-anak. Yang dinaiki Puti sudah Yang Kung karena umurnya sudah 23 tahun. Kita membahas umur kuda dengan tidak sengaja.

4-horse-trekking

Dari tempat latihan kuda kita jalan masuk ke taman nasional, seharusnya menyeberangi sungai di bawah jembatan jalan raya akan tetapi karena habis hujan jadi arus sungainya deras dan airnya dalam maka kita jalan menyusuri pinggir sungai dulu sampai pada daerah yang diperkirakan tidak terlalu dalam maka kita akan menyeberang. Kuda-kuda ini awalnya takut untuk menyeberang. Dengan susah payah Karina berusaha menyeberang terlebih dahulu menggunakan Lynn. Setelah Karina berhasil menyeberang dan dipastikan aman maka Appy dan Bear menyeberang. Waktu sudah berhasil menyeberangi sungai, Puti bilang ke Bear “Good, Boy..”. Karina menyahut kalau Bear itu sudah nggak boy lagi dia sudah kakek-kakek, ya paling kalau mau muji Bear ya “Good, Man”. Sungainya lumayan lebar, mungkin 80-100 meter dan kedalaman air sampai di atas lutut kuda. Sebetulnya kalaupun sungainya dalam tidak perlu takut karena kuda bisa berenang.

Kita lanjutkan perjalanan di taman nasional, kita sempat melihat kambing hutan liar, bentuknya mirip dengan kambing di Indonesia yang punya jenggot itu. Pada satu point kita stop di sebuah gubuk kayu dimana kita istirahat sebentar sambil makan snack dan minum teh atau kopi. Kita istirahat, kuda-kudanya juga supaya bisa istirahat. Disitulah kita banyak ngobrol dan cerita-cerita dengan Karina. Saya sempat pipis di toilet yang ada disitu, jadi toiletnya model blung, jadi cuma tanah dilubangi karena di lokasi taman nasional tidak boleh membuat apapun yang permanen. Sebelum kita turun dari kuda, tiba-tiba kuda yang saya tunggangi ngangkang terus pipis, pipisnya kuda mungkin kalau dihitung bisa lebih dari 3 liter J dan suaranya seperti air jatuh dari talang seng. Di samping pipis, kudanya juga kentut-kentut yang suaranya kencang banget, cempreng  dan tak ada merdu-merdunya.

Kita istirahat sekitar 30 menit, bikin teh hangat, makan snack sambil ngobrol-ngobrol. Nikmat sekali rasanya.. Saya baru tahu kalau Karina orang Jerman. Saya bilang “You are too small for a german”. Lebih pendek dari Puti jadi tingginya yakin kurang dari 160 cm. Dia juga mengakui sulit mencari pacar di Jerman karena dia terlalu kecil. Dia bilang Bapak Ibunya besar tapi nggak tau kenapa dia kecil. Puti iseng tanya bagaimana dengan adik dan kakak dia? Dia bilang kalau dia anak tunggal jadi sulit cari perbandingan. Puti bilang kalau sebaiknya dia tanyakan ke ibu dia apakah benar dia anak kandung, jangan-jangan anak pungut atau coba saja tes DNA hehehe… Awalnya saya pikir dia anak dari ibu yang punya hotel dan tempat latihan kuda. Dia di South Island hanya sementara yaitu bekerja selama musim panas dan kebetulan di Jerman sedang musim dingin. Anaknya lucu sekali.

Kita lanjutkan perjalanan menyusuri taman nasional sampai tempat kita menyeberang sungai, sebelum menyeberang sungai gantian kuda Karina yang kentut dan kencing, yang jadi masalah adalah Karina ada di paling depan jadi kentut kuda tepat mengarah ke muka saya. Setelah itu kita berjalan menyusuri pantai di dekat tempat latihan kuda dimana kita berangkat. Kita berlatih mempercepat jalannya kuda, di samping itu kita juga sekalian foto-foto. Kemudian kita balik ke tempat latihan kuda karena waktu horse trekking kita sudah habis karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Karina sudah harus mempersiapkan kuda-kuda lain untuk program yang sore hari yang akan dimulai pukul 14.00. Kuda-kuda ini tidak tinggal di kandang tapi dilepaskan di taman nasional, jadi mereka bebas berkeliaran tapi dalam kelompok dan umumnya tinggal dekat sungai. Pada saat dibutuhkan maka kuda-kuda tersebut dipanggil dan mereka pada datang. Tempat latihan berkuda ini umumnya melatih para penunggang kuda untuk keperluan gembala karena daerah Westland adalah daerah peternakan terbesar di South Island.

Puti pernah bertanya kepada Karina dimanakah daerah sensitive-nya kuda. Kemudian saya jawab kalau mestinya sama saja dengan manusia. Karina menyahut penyataan saya “I don’t know which part you are referring”. Sambil dia senyum-senyum. Padahal maksud saya bukan menjurus kesana, khan orang juga gelian kalau dipegang ketek-nya atau perutnya. Menurut Karina, daerah yang sensitive bagi kuda adalah telinga. Meskipun waktu mahasiswa di ITB dulu saya ikut club berkuda Bala Turangga di Kavaleri AD yang di Parongpong, namun saya tidak mempelajari daerah sensitive kuda sampai sejauh itu.

Sudah lama saya tidak menunggang kuda sejak pindah ke Jakarta sehingga horse trekking kali ini rasanya nikmat sekali. Bagi yang belum tahu, menunggang kuda itu enak banget, shockbreaker/shockabsorber-nya jauh lebih empuk dari mobil semahal apapun. Seandainya saja ada kuda yang bisa diisi bensin bisa jalan (sebenarnya ada sih.. Mitsubishi Kuda), saya prefer naik kuda dari pada mobil. Saya punya prinsip tidak mau punya peliharaan makhluk hidup.. ngerepotin mesti dikasih makan, dirawat dan takut kalau peliharaannya mati saat ditinggal pergi lama.

Selesai dari horse trekking kita langsung berangkat menuju ke Franz Josef. Perjalanannya cukup jauh. Jaraknya 218 km yang bisa ditempuh selama 2 jam 48 menit namun kenyataannya pasti akan lebih lama karena akan berhenti untuk foto-foto dan juga santai-santai menikmati pemandangan. Belum lagi kita pasti akan berhenti untuk memasak karena belum makan siang.

5-route-punakaiki-franz-josef

Perjalanan dari Punakaiki menuju Greymouth dihiasi oleh pemandangan sebelah kanan adalah Laut Tasmania dengan ombak yang besar dan sebelah kiri tebing-tebing batu yang indah. Para geologist pasti akan tergoda untuk turun bersama palunya. Namun saya yang bukan geologist cukup ambil foto dari mobil yang sedang berjalan karena kebetulan Puti yang nyetir.

6-uplift-1

7-uplift-2

Saat jalan kita melihat ada area pemberhentian yang cukup luas dengan dilengkapi dengan kursi-kursi. Kita berhenti dan memarkir kendaraan di situ kemudian memasak untuk makan siang karena kita belum makan sejak pagi sementara waktu sudah hampir jam 5 sore. Seperti biasa karena kita di dalam keadaan buru-buru cara yang paling praktis adalah masak Indomie. Kali ini Indomie Goreng dengan ditambah telor. Untungnya area pemberhentian tersebut banyak tumbuhan rumput-rumput yang tinggi dan juga tumbuhan seperti pohon pandan liar yang cukup menolong menghalangi hembusan angin. Kita juga gunakan mobil untuk mengahalangi angin namun api kompor masih suka lari-lari. Kita bantu tutup sekitar kompor dengan kardus dan juga badan kita. Akhirnya kita selesai masak kemudian kita makan sambil menghadap ke laut menikmati deburan ombak.

8-laut-tasmania

Sekitar 45 menit kita berhenti kemudian kita melanjutkan perjalanan. Di Greymouth kita mampir sebentar di salah satu supermarket untuk membeli beberapa buah dan makanan ringan. Sambil nengok ke Subway di dekat supermarket meskipun tidak membeli. Setelah selesai belanja kita melanjutkan perjalanan menuju ke Franz Josef.

Kita melewati kota Hokitika. Kota kecil ini memiliki pantai yang cukup terkenal yaitu Hokitika Beach dan juga penghasil gemstone dan green stone. Green stone atau orang Maori sebut Pounamu sering digunakan sebagai liontine berbentuk symbol-simbol Maori. Namun karena kondisinya sudah sore dan takut kemalaman maka kita hanya menyempatkan diri berhenti sebentar di dekat gereja sambil memotret gereja yang cukup bagus apalagi dengan background langit yang masih biru meskipun matahari sudah tidak terlalu terang.

9-gereja-hokitika

Jalan menuju Franz Josef hampir selalu berada di dekat pantai Laut Tasmania. Namun pada daerah-daerah tertentu agak menjauh dari pantai dan umumnya menjadi daerah pertanian. Jalanan cukup sepi apa lagi sudah agak malam jam 7:30 malam.

10-jalanan-sepi

Dan banyak jembatan-jembatan yang meskipun dengan kerangka baja namun tidak di aspal, hanya ditutup dengan kayu. Umumnya jembatannya panjang-panjang dan hanya cukup untuk satu mobil alias harus bergantian. Karena daerah ini adalah daerah yang cukup sepi maka tidak ada masalah kalaupun harus melewat bergantian. Umumnya sungai-sungai yang kita lewati adalah sungai-sungai hasil lelehan es dari gunung-gunung di sekitar situ. Kadang air yang mengalir masih bercampur dengan butir-butiran es sehingga terlihat berwarna putih susu.

11-sungai-air-campur-es

Seperti halnya daerah Westland lain, daerah ini juga daerah peternakan terutama sapi. Meskipun sudah agak malam namun masih terlihat sapi-sapi pada merumput.

12-merumput

Karena musim panas maka banyak yang sedang mengerjakan pemotongan rumput yang akan disimpan untuk persiapan selama musim dingin nanti. Kegiatan tersebut sangat menarik buat kita dan kita berhenti untuk foto-foto dan juga membuat video. Mereka mengerjakannya menggunakan alat seperti traktor yang memotong rumput dan sekaligus menggulung rumput tersebut menjadi gulungan-gulungan besar yang kemudian dibungkus plastik dan itu dimasukkan ke truk-truk atau dikumpulkan di pinggir jalan.

13-menggulung-rumput

Di beberapa tempat kita juga menemukan danau namun sayang karena matahari sudah tidak terlalu terang maka kurang kelihatan indahnya. Danau ini merupakan hasil penampungan es yang mencair dari gunung-gunung yang ada di sekitar sini. Umumnya danau lelehan es akan sangat indah karena airnya yang jernih sehingga akan berwarna biru jika terkena sinar matahari yang kuat. Meskipun sedang puncak musim panas namun pada puncak-puncak gunung ini masih terlihat lapisan es yang tebal.

14-danau-menuju-franz-josef

Sebenarnya kita tidak boleh berhenti di sembarang tempat namun karena ada yang menarik dan kepingin mengambil foto-foto maka kita menepikan kendaraan. Kebetulan sepi, tidak ada kendaraan lain yang lewat dari belakang maupun dari depan kita. Tapi hal ini juga tidak bisa dijadikan pembenaran hehehe… Ada yang menarik dimana ada satu-satunya rumah ditengah padang rumput. Unik karena tidak memiliki tetangga. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya tinggal di rumah tersebut.

15-rumah-tengah-padang

Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang akhirnya kita sampai di Franz Josef. Waktu kita sampai di Franz Josef sudah hampir jam 09.00 malam, namun karena matahari belum sepenuhnya tenggelam (masih cukup terang), seperti biasa kalau kita sampai di kota manapun, kita langsung menuju ke i-SITE. Maksud kita ke i-SITE adalah untuk mencari informasi mengenai campsite  atau bahkan minta rekomendasi. Tapi sayangnya i-SITE sudah tutup. Karena seperti di tempat lain juga, jam buka hanya sampai jam 5 sore. Meskipun begitu kita berusaha membaca informasi atau paket-paket kegiatan yang ditempel di kaca i-SITE.

16-isite-franz-josef

Untuk campsite kita punya pilihan yaitu Top 10 Holiday Park, biasanya kita selalu usahakan untuk stay di Top 10 Holiday Park meskipun harganya lebih mahal, atau kita ambil campsite  yang ada di pusat kota karena di pusat kota ada beberapa campsite. Lokasi Top 10 Holiday Park disini agak di luar kota, sekitar 1 km dari pusat kota dan sebetulnya kita lewati waktu perjalanan menuju kota Franz Josef. Saat mencari campsite, saya sempatkan untuk memotret Puncak Franz Josef dan hasilnya masih cukup bagus meskipun sinar sudah agak low.

17-es-di-puncak-franz-josef

Akhirnya kita putuskan untuk ambil campsite  yang ada di pusat kota saja. Akhirnya kita ke office campsite  untuk membooking tempat, harganya 30 dollar. Cuma kamar mandi sistemnya tidak bebas tapi para tamu akan dikasih kunci sehingga hanya para tamu yang bisa menggunakan. Mungkin untuk alasan security karena campsite  juga sangat terbuka, tidak ada pintu gerbang dan dekat sekali dengan pusat kota yang mana sangat ramai, dekat dengan tempat orang ngumpul seperti restaurant. Untuk laundry juga buka 24 jam. Untuk kitchen-nya tergolong kecil tapi terbuka 24 jam. Perabotan di kitchen sangat minim, tidak ada kulkas, jadi kita agak kecewa juga karena bahan makanan kita bisa busuk. Hampir semua campsite  dilengkapi dengan dapur yang memiliki kulkas yang besar. Meskipun camper van dilengkapi dengan freezer (minimal refrigerator, jarang disebut refrigerator tapi cukup disingkat frige) akan tetapi hanya nyala saat mobil berjalan sehingga saat di campsite  kita pindahkan barang-barang dari kulkas mobil ke kulkas di kitchen campsite . Inilah salah satu alasan meskipun banyak camper van yang memiliki peralatan dapur lengkap (camper van ukuran sedang dan besar tidak seperti camper van yang kita pakai) akan tetapi pada saat di campsite lebih suka atau lebih nyaman memasak di kitchen campsite  karena semua bahan makanan kita ada di kulkas kitchen. Di samping itu juga karena kitchen yang ada di campsite  lebih luas, peralatan juga lebih lengkap dan lebih nyaman untuk cuci peralatan dapur dan piring setelah masak dan makan.

Waktu di office saat bayar biaya stay di campsite, kita manfaatkan juga untuk tanya ke ibu yang bertugas di office mengenai informasi umum di Franz Josef karena tadi i-SITE sudah tutup. Salah satu tujuan utama kita ke Franz Josef adalah untuk trekking di glacier. Jadi kita tanyakan apakah ada program guided tour untuk trekking di Franz Josef. Sebetulnya waktu akhir tahun 1998 saya dan teman-teman Indonesia yang sama-sama kuliah di Geothermal Institute waktu libur Natal Tahun Baru, kita keliling ke South Island dan salah satunya adalah ke Franz Josef. Waktu itu kita rencanakan untuk menginap di Franz Josef akan tetapi karena kurangnya pengetahuan kita, karena bertepatan dengan Malam Tahun Baru maka tidak ada petugas penginapan manapun yang jaga jadi akhirnya kita tidak bisa menginap, akhirnya perjalanan kita lanjutkan ke Greymouth. Waktu dulu di Franz Josef saya sempat ke glacier tapi cuma di bawah, tidak sampai naik karena untuk umum dibatasi tidak boleh naik ke permukaan es dengan alasan licin dan bahaya. Bagian bawah dari glacier sebetulnya juga es tapi masih bercampur dengan batu-batu sehingga tidak terlalu licin. Jika dilanjutkan naik lagi ke bagian atas maka akan berupa es murni. Oleh sebab itu kalau mau naik sampai atas harus ikut tur atau harus didampingi dan diperlukan peralatan khusus seperti crampon (sepatu es). Kali ini saya dan Puti pingin naik sampai atas, kalau dulu, sejujurnya saja, saya tidak akan mampu bayar tour untuk naik sampai atas. Istilahnya waktu tahun 1998 saya keliling South Island hanya untuk site seeing, minimal kalau ditanya saya bisa bilang “saya sudah pernah kesana” meskipun hanya lihat saja. Kalau mengingat tahun 1998 di Franz Josef, salah satu kenangan yang sangat melekat dalam ingatan saya adalah waktu itu saya menggunakan jaket HMTM Patra yang warna orange menyala itu dan satu lagi saya melihat teman saya Nukman (sekarang dosen di Geofisika UGM) sholat Asar di atas bongkahan es besar, seperti seorang sunan yang sholat di atas batu. Sedangkan di bawahnya orang pada jalan lalu lalang sehingga menjadi pemandangan yang menyolok sekali. Kalau jadi ikut tour besok, saya yakin saya masih ingat jalan menuju glacier, tempat parkir terakhir dan suasananya karena saya yakin secara umum tidak akan banyak berubah dari terakhir saya lihat.

Ibu petugas office campsite  menunjukkan 2 pilihan guided tour yaitu tour ke Franz Josef Glacier atau Fox Glacier. Fox Glacier lokasinya juga tidak jauh dari Franz Josef sekitar 24 km akan tetapi di dekat Fox Glacier tidak ada kota jadi base-nya selalu di Franz Josef. Jarak kota Franz Josef ke parkir terakhir Franz Josef Glacier lebih dekat dibandingkan dengan Fox Glacier. Pada prinsipnya kita nggak perlu lihat dua-duanya karena yang namanya glacier dimana-mana akan mirip atau hampir sama jadi kalau kita sudah lihat salah satu maka rasa penasaran untuk lihat satunya lagi sudah hilang. Jika sudah lihat salah satu, waktu lihat satunya lagi sudah merasa tidak terlalu excited. Jika tidak ada concern mengenai waktu disarankan untuk ambil paket yang Franz Josef akan tetapi kalau punya concern mengenai waktu sebaiknya ambil paket Fox Glacier karena membutuhkan waktu trekking yang lebih pendek. Untuk di Franz Josef, jika ingin sampai ke mulut glacier maka dibutuhkan waktu 1 jam sehingga pp butuh 2 jam.

Ibu petugas office tidak memberikan rekomendasi paket mana yang sebaiknya kita ambil karena menurut dia sama saja akan tetapi dia menawarkan diri untuk membantu menghubungi agen trekking yang ada dan meminta kita untuk datang ke kantor lagi besok pagi-pagi jam 8.30 supaya dia bisa jelaskan informasi yang dia dapatkan.

Paket tour ke glacier ada beberapa kali dalam sehari yaitu yang paling pagi jam 8.30, siang jam 10.30 dan 12.30. Paket sore tidak ada karena untuk paket Franz Josef diperlukan waktu paling tidak 4.5 jam. Ada juga paket yang lebih lama lagi yaitu Full Day dimulai pagi-pagi dan pulangnya sore. Untuk paket ini akan sangat puas sekali karena dari paling bawah sampai paling atas, kalau yang Half Day (4.5 jam) tidak benar-benar sampai atas tapi cukup representatif. Selama 4.5 jam tersebut 15 menit dibutuhkan untuk mencapai tempat parkir terakhir glacier dan 15 menit untuk sampai kota Franz Josef lagi, 2 jam untuk sampai ke mulut glacier dan 2 jam di atas es.

Setelah dari office kita balik lagi ke camper van, kita menyiapkan makan malam terus kita mandi dan tidur.

to be continued to “Day 5: Glacier Trekking, Perjalanan Franz Josef ke Wanaka”