Day 5: Glacier Trekking, Perjalanan Franz Josef ke Wanaka

Summer 15 Desember 2010. Day 5: Franz Josef, Wanaka.

Waktu pagi-pagi kita bangun, sebelum sarapan kita coba ke i-SITE karena i-SITE buka jam 8.30. Kota kecil Franz Josef hidup karena tourisme. Untuk memberikan gambaran lokasi kota kecil Franz Josef, dapat dilihat pada gambar di bawah. Perumahan hanya terdapat di sekitar jalan utama. i-SITE pada “i” yang di-stabilo warna hijau muda, lokasi campsite dimana kita stay di No. 11 yang ada gambar mobil van yaitu Glacier Country Campervan Park.  Top 10 Holiday Park dimana kita awalnya ingin stay ada di No. 56. Tour Agent untuk glacier trekking ada di No. 28 yang di-stabilo warna hijau muda yaitu Franz Josef Glacier Guide. Bagi yang tidak suka trekking terdapat paket tour menggunakan helicopter menuju puncak Franz Josef yang dapat dipesan di No. 27. Tentunya dari segi biaya tidak murah. Aktivitas-aktivitas lain di Franz Josef dapat dilihat pada nomor-nomor dalam kotak biru muda “ACTIVITIES”. Intinya kalau di NZ semua bisa dijual untuk pariwisata.

peta-kota-franz-josef

Waktu kita sampai ke i-SITE sekitar jam 9 kita coba tanyakan tour apa yang mereka rekomendasikan apakah Franz Josef atau Fox Glacier. Petugas di i-SITE merekomendasikan kita ambil yang Franz Josef. Kita langsung minta tolong ke petugas tersebut untuk dibookingkan tempat untuk 2 orang untuk jam 12.30 karena paket jam 10.30 terlalu mepet karena pemesanan harus dilakukan 30 menit sebelum paket mulai. Lagi pula kita juga belum sarapan, mempersiapkan bekal (sandwich) dan juga belum mandi. Kita langsung bayar disitu. Untuk diketahui kalau kita wisata ke NZ semuanya sangat mudah, intinya apapun yang kita perlukan kita tinggal datang ke i-SITE. Mereka bisa jelaskan apa saja yang kita butuhkan, mereka akan bantu memberikan rekomendasi kalau kita bingung, juga yang penting kita bisa pesan, booking dan bayar paket tour apapun di i-SITE. Jadi kita tidak perlu pergi ke suatu tempat hanya untuk beli tiket karena itu akan menghabiskan waktu. Mungkin wisatawan ke Indonesia bisa mencapai 25 juta per tahun kalau ada i-SITE, tidak ada calo-caloan dan time wise.

Karena kita sudah dapat jadwal tour jadi kita balik ke campsite untuk masak dan sarapan pagi yang agak berat supaya nanti pas ikut trekking kita tidak perlu bawa makan berat, cukup sandwich saja. Oh iya.. selain orang jalan-jalan menggunakan camper van banyak juga yang menggunakan mobil sedan, biasanya yang menggunakan sedan adalah kelas mahasiswa. Nah yang menarik di campsite ini, kita melihat ada mobil Nissan March (di Indonesia belum di-release jadi agak bingung ini mobil apa) tapi merangkap sebagai tempat jemuran. Sangat menyolok sekali karena isi dalam mobil nggak kelihatan karena seluruh kaca ditempeli jemuran termasuk celana-celana dalam dari mulai stir, dashboard semua penuh dengan jemuran. Image Nissan March adalah mobil buat jemur celana dalam tidak akan mudah dihapus, kalau tidak mau disebut akan selalu menempel selamanya dalam memory-ku. Sudah bisa ditebak, apakah mungkin saya mau beli mobil ini?

Nah dalam perjalanan, kita akan sering melihat orang pada bersepeda. Untuk kelompok orang yang bersepeda ini umumnya kelas orang kaya, kenapa? Meskipun mereka bersepeda tapi pas menginap mereka tidak ada yang menginap di campsite, mereka menginap di hotel-hotel. Bahkan mereka tidak banyak membawa perlengkapan di sepeda, jadi untuk urusan makan pasti mereka makan di restaurant tidak usah masak sendiri. Waktu sampai hotel mereka nggak sibuk masak dll, mereka sampai hotel terus mandi, terus mungkin cari makan di restaurant, terus balik lagi ke hotel. Di hotel mereka duduk manis sambil minum kopi atau teh sambil menulis atau baca buku. Tidak mau membayangkan kapan saya keliling South Island bersepeda. Mungkin saja mereka punya kesibukan yang sama dengan saya kalau malam hari… menulis jurnal perjalanan.

Jam 11 kita sudah sudah rapi semua, mobil juga sudah dicek semua karena nanti habis trekking kita langsung melanjutkan perjalanan ke Wanaka. Karena masih punya sedikit waktu maka kita berhenti sebentar di toko souvenir untuk beli kaos-kaos yang ada tulisannya Franz Josef (buat bukti). Dan di toko ini ada etalase jual ice cream merk Tip Top. Tip Top adalah brand ice cream asli NZ yang berpusat di Auckland (hanya ada di NZ, tidak punya cabang di negara lain). Tip Top adalah pembuat ice cream tertua di NZ yang berproduksi sejak 1933 yang awalnya hanyalah sebuah produksen ice cream rumah tangga. Dari berbagai rasa yang tersedia ada yang unik yaitu rasa Hokey Pokey. Hokey Pokey ini semacam butir-butiran caramel yang manis banget. Beli satu scoop dan kita makan berdua karena saya tidak terlalu suka sesuatu yang dingin-dingin termasuk ice cream jadi cuma mencicipi beberapa ggigitan saja. Ini lah pertama kalinya kita makan Ice Cream Tip Top dan pertama kali merasakan Hokey Pokey. Di samping toko ada patung kiwi. Patung kiwinya besar jadi bukan miniature tapi maxiature (asal jeplak saja). Rasanya selama di NZ kita belum pernah ketemu patung kiwi jadi kita sempatkan foto dulu ah…

puti-dan-kiwi

Jam 11:30 kita sudah sampai ke kantor tour agent kemudian kita lakukan registrasi ulang, mengisi formulir perjanjian termasuk didalamnya kalau terjadi kecelakaan, informasi diri termasuk penyakit yang pernah diderita dan lain-lain. Rasanya seperti ngisi formulir daftar AKABRI. Kita dapat breifing sebentar terus antri ambil perlengkapan trekking yaitu sepatu boot, kaos kaki wool, rain coat dan juga crampon. Semua perlengkapan dicoba terlebih dahulu untuk menyesuaikan ukuran supaya nyaman waktu trekking. Meskipun sudah dicoba ternyata ukuran sepatu boot saya terlalu pas dan karena kuku kakiku (seperti lagu anak-anak) baik di kaki kiri maupun kanan ada yang panjang jadi agak sakit waktu sedang trekking. Alhasil kedua kuku di kaki kiri dan kanan terdapat darah beku dan akhirnya beberapa waktu setelah sampai Indonesia kedua kuku tersebut copot. Waktu saya di Himalaya dulu pernah punya kejadian yang serupa akan tetapi bukan kuku kaki yang copot akan tetapi kulit telapak kaki terkelupas. Untuk kejadian di Himalaya saya dapat simpulkan bahwa kesalahan utama saya adalah beli sepatu baru sebelum berangkat ke Himalaya dan saya belum sempat nyoba sepatu tersebut untuk aktifitas berat (high load) dan lama. Saya cuma nyoba sebentar waktu beli dan percaya sama ukuran yang tertera. Dari pengalaman-pengalaman ini ke depan saya harus extra hati-hati untuk ukuran sepatu. Ukuran sepatu terlalu pas atau cenderung kecil akan membuat kuku lepas sedangkan ukuran sepatu terlalu besar atau longgar bikin kulit luka karena gesekan. Waktu nyoba sepatu boot sebelum trekking di Franz Josef sebetulnya saya sampaikan kepada tour leadernya kalau saya prefer untuk menggunakan sepatu saya sendiri karena sepatu saya juga sepatu trekking yang cukup bagus (sebenarnya mau bilang lebih mahal tapi takut dikira sombong, padahal memang sombong beneran) akan tetapi tour leader nya keberatan karena sepatu trekking saya tidak menutup sampai mata kaki jadi takut terkilir atau bermasalah pada ankle kaki.

Kita berangkat menggunakan bis menuju ke area parkir terakhir di Franz Josef Glacier. Dalam satu rombongan saya rasa sekitar 30 orang karena satu bus hampir penuh. Peserta berasal dari berbagai macam nationality, ada yang dari Taiwan, Belanda, Amerika,  Swedia dan orang-orang Scandinavia. Dari segi usia, peserta yang ikut bervariasi dari mulai anak-anak sampai orang tua. Setelah sampai tempat parkir (kalau mengacu pada gambar kota kecil Franz Josef lokasi ini terdapat pada tulisan “P” di sebelah kanan atas), kita lanjutkan dengan jalan kaki melalui jalur trek khusus  (jalur “A”) yang hanya diperbolehkan kalau menggunakan guide. Memang agak unik jalur treknya jadi serasa trekking di hutan tropis yang umum disebut rain forest karena melewati hutan berkayu, semak belukar dan juga pohon-pohon pakis. Untuk diketahui di NZ ada beberapa lokasi rain forest (mirip dengan di Indonesia) dan yang terbesar adalah di dekat Milford Sound. Untuk menerobos rain forest tersebut dibutuhkan waktu 15-20 menit. Keluar dari rain forest tersebut kita sudah di dekat glacier yaitu daerah berbatu-batu akan tetapi di bawah batu-batu tersebut sebetulnya adalah pasir yang bercampur dengan es yang sudah mencair. Jika diikuti ke arah downhill maka air es ini akan terkumpul dan mengalir melalui sungai menuju laut. Franz Josef sendiri lokasinya sudah dekat dengan laut sehingga dari segi elevasi cuma beberapa puluh meter di atas muka laut. Untuk melewati daerah berbatu-batu ini sampai ke medan yang betul-betul es dibutuhkan waktu 10-15 menit. Kemudian group dibagi menjadi 3 yaitu group cepat, sedang dan lambat sesuai dengan kondisi masing-masing. Setiap group berisi sekitar 10 orang. Sebetulnya Puti kepingin ikut group yang sedang supaya agak santai sambil bisa foto-foto. Tapi akhirnya kita memutuskan untuk ikut group cepat meskipun agak memaksakan diri dengan alasan kita akan mengambil foto saat perjalanan turun dari puncak. Setelah masuk daerah es, guide yang membawa kita ganti, jadi serah terima dari guide yang non medan es kepada guide yang expert untuk medan es. Guide yang baru in charge memperkenalkan diri sebentar, dia berasal dari Inggris, ke NZ karena NZ musim panas dan Inggris musim dingin (sama alasaannya seperti Karina yang guide kita saat horse trekking). Perawakan orangnya kecil dan setelah dia tahu kita dari Indonesia dia cerita juga kalau sudah pernah liburan di Bali dan Jakarta. Dia membawa group kita, group cepat dan berangkat duluan. Meskipun sudah masuk medan es akan tetapi crampon belum kita gunakan karena belum terlalu licin karena esnya masih campur dengan batu-batu. Untuk melewati daerah campuran batu dan es ini memerlukan waktu 10-15 menit. Setelah posisi menanjak maka batu-batu sudah hilang dan tinggal es yang tebal. Nah disinilah kita wajib menggunakan crampon. Diajari sebentar cara memakai crampon yang benar dan akhirnya kita semua sudah siap melanjutkan perjalanan lagi. Perjalanan kali ini adalah berjalan melewati celah-celah es. Sinar matahari yang terik menyebabkan celah-celah es in berwarna biru muda dan bagus sekali.

jalur-trek

Agar perjalanan tidak terasa melelahkan, selama perjalanan guide-nya menceritakan asal-usul terbentuknya glacier disini, uniknya glacier disini dibandingkan dengan glacier-glacier lain di dunia, berapa umurnya dan juga memberikan tebakan-tebakan dan joke-joke.

perjalanan-naik-glacier

Akhirnya kita sampai ke ujung route trekking yaitu sekitar jam 2:15 siang. Selama perjalanan pada jalur terakhir ini, guide selalu menggunakan alat semacam linggis yang ditusukan ke jalur yang akan dilalui untuk memastikan bahwa tidak ada lubang di daerah yang akan diinjak. Kecelakaan yang sering terjadi adalah masuk jurang es karena meskipun dari permukaan terlihat rata tapi kadang di bawah es itu adalah gua-gua atau jurang-jurang.

puti-dalam-celah-es

Setelah sampai puncak, sambil menunggu group lain sampai maka kita manfaatkan untuk foto-foto. Kita lupa membawa bendera Indonesia, mestinya bagus foto dengan membawa bendera Indonesia. Lupa membawa bendera Indonesia juga terjadi waktu saya di Himalaya. Sebetulnya tepat saat kita mendarat di Christchurch kita sudah sadar kalau kita tidak bawa bendera merah putih akan tetapi selama perjalanan ini kita selalu berusaha mencari bendera di took-toko tempat jual souvenir dan super market akan tetapi tidak menemukan. Akhirnya ketika kita pas belanja di super market kita membeli bendera NZ. Nah bendera ini kita bawa ke puncak glacier dan kita pakai foto-foto. Akhrinya bendera itu dipinjam oleh semua orang untuk foto-foto. Meskipun kita tidak membawa bendera merah putih tapi kita menggunakan kaos yang bila orang melihatnya mereka akan tahu kalau kita dari Indonesia. Kaos unik Indonesia mungkin tidak terlalu perlu buat saya karena dari tampang saya, orang sudah bisa menebak kalau saya dari Indonesia. Akan tetapi Puti sangat membutuhkan kaos tersebut.

di-puncak

Pada saat perjalanan turun tidak ada yang spesial karena rasa ingin tahu kita telah terpenuhi selama perjalanan naik atau bisa disebut kita telah kehilangan rasa entusiasme. Intinya kita hanya ingin turun secepat mungkin sampai ke tempat parkir. Karena dalam kondisi yang sudah cukup lelah yang kita harapkan adalah pingin cepat bisa istirahat. Namun di tempat parkir kita mesti menunggu peserta lain yang belum sampai.

Karena sudah lewat jam makan siang dan perut terasa lapar maka kita keluarkan bekal makan siang kita. Seperti diceritakan sebelumnya bahwa makan siang kita adalah sandwich. Sandwich sederhana yang kita buat yaitu roti dilumuri margarine kemudian dilapisi selai blueberry dan tengahnya kita sisipin keju lembaran (model Kraft begitu). Ini adalah pertama kali kita makan siang (bekel yang sudah kita persiapkan) sandwich sejak di NZ. Karena takut kotor jadi sandwich tersebut kita masukkan kedalam plastik warna kuning. Plastik kuning ini bentuknya roll jadi kita bisa sobek sesuai kebutuhan. Nah apa yang terjadi saat makan siang? Saya sebenarnya sulit menelan sandwich ini, rasanya mau muntah karena saya tidak tahan bau wangi. Takut juga ngomong ke Puti, takut tersinggung karena dia yang nyiapin sandwich tersebut. Setelah selesai, tapi Puti masih makan bagian sandwich dia, saya bilang kalau sandwichnya agak aneh karena bau lemon. Dia baru coba rasa-rasakan dan cium-cium. Dia baru sadar dan meng-iya-kan. Akhirnya Puti nggak terusin makan sisa sandwich-nya. Karena sama-sama sepakat, setelah itu rasanya kepala kita jadi nyut-nyut-an seperti mau muntah tapi bingung mau muntah dimana? Enaknya kalau di Indo kita bisa muntah dimana saja dan dimaklumi, kalau disini kita agak malu dan gengsi, takut dikira manusia dari planet lain. Nah pertanyaannya kenapa itu sandwich jadi bau lemon? Akhirnya kita temukan jawabannya bahwa bungkus plastik warna kuning itu ternyata plastik buat bungkus sampah dan memang bau wangi lemon seperti wangi sabun cuci piring. Baru mudheng kita sekarang kalau plastic tersebut bukan buat bungkus makanan. Setelah kita tahu penyebabnya, meskipun bukan plastik bekas sampah yang kita pake bungkus sandwich, namun tidak bisa dipungkiri bahwa mindset sudah terlanjur terdoktrin itu plastik sampah. Menjadikan persoalan makin berat, kepala rasanya munyer seperti kena pukulan hook. Ampun… semoga tidak terjadi lagi.

Setelah semua peserta lengkap, kita turun bersama dalam satu bus menuju ke tour agent dimana kita berangkat. Sampai di tour agent kita mengembalikan sepatu boot, crampon dan peralatan-peralatan lain serta mengambil barang-barang yang kita titipkan di locker. Ada sedikit surprise dimana kita mendapatkan tiket gratis untuk berendam di kolam air panas (hot pool) namanya Glacier Hot Pools yang tidak jauh dari lokasi tour agent. Lumayan buat mengurangi dampak gegar otak akibat kena hook plastik sampah rasa lemon.

glacier-pool

Pukul 05.00 sore kita sampai ke kolam dan ternyata kolamnya cukup besar dan ramai sekali. Kita menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk berendam di kolam ini kemudian kita melanjutkan perjalanan ke Wanaka.

Berdasarkan perkiraan perjalanan dari Franz Josef ke Wanaka memerlukan waktu 3,5 jam dengan jarak 286 km. Sehingga dengan berangkat jam 7:30 malam kita berharap dapat sampai ke Wanaka kurang dari jam 12.00 tengah malam. Perjalan ke Wanaka akan melewati beberapa kota kecil yaitu Fox Glacier, Bruce Bay, Paringa, Haast, Makarora dan Wanaka. Dari Franz Josef menuju Haast adalah perjalanan sebagian besar melewati daerah dekat pantai yang datar kemudian dari Haast menuju Makarora melewati daerah yang namanya Haast Pass yaitu perjalanan menembus pegunungan Mount Aspiring yang berkelok-kelok.

Saya bercerita kepada Puti bahwa pada Malam Tahun Baru 1999 dalam perjalanan saya dan teman-teman Geothermal Institute dari Wanaka ke Franz Josef saya hanya berpapasan dengan 22 mobil dan satu sepeda sementara tidak ada satupun mobil yang menyalip. Oleh sebab itu kita sekarang kepingin hitung berapa mobil yang kita temui dengan jalur yang sama tapi arah terbalik.

franz-josef-wanaka

Tidak lama setelah kita tinggalkan Franz Josef kita sampai ke pertigaan ke arah Fox Glacier namun kita hanya sempat berhenti sebentar untuk memotret dan melanjutkan perjalanan kembali.

pertigaan-fox-glacier

Kira-kira 30 menit perjalanan dari Fox Glacier, mendekati daerah Bruce Bay kita melewati daerah seperti hutan hujan tropis dengan pohon-pohon yang cukup besar dan tinggi. Di ujung dari hutan tersebut dari jauh kelihatan ada sebuah mobil yang menghidupkan lampu kuning yang berkedip-kedip tanda mobil sedang berhenti namun yang menjadi tanda tanya mengapa berhenti di tengah jalan. Ternyata jalan di depan mobil tersebut penuh tertutup oleh rombongan biri-biri yang sedang digiring menuju ke kandangnya. Kawanan biri-biri tersebut dikawal oleh anjing gembala dan penggembalanya menaiki motor ATV.

Kita mesti berjalan pelan-pelan di belakang rombongan biri-biri ini. Yang menjadi masalah adalah biri-biri ini berjalan cukup lambat, mungkin hanya dengan kecepatan 5 km per jam. Kita khawatir jika kandang biri-biri ini cukup jauh maka kita akan kehilangan banyak waktu sehingga akan sampai Wanaka terlalu malam. Bisa-bisa butuh 2 hari baru sampai Wanaka (cuma bercanda…).

Ternyata lokasi kandang tidak terlalu jauh dan di depan pintu kandang ada seekor anjing Gembala yang telah menunggu untuk membantu memasukkan biri-biri ke kandang. Sementara penggembala yang menaiki motor ATV  mendorong biri-biri dari belakang dibantu oleh dua ekor anjing lain yang satu bagian untuk menggonggong untuk menakut-nakuti sedangkan yang satunya lagi berlari kesana kemari untuk mengembalikan 1 atau 2 biri-biri yang terlepas dari kelompoknya.

Akhirnya kita berhenti di depan kandang melihat proses seluruh biri-biri ini semuanya masuk ke kandang. Pemandangan yang cukup menarik dan kita merekam seluruh proses ini menjadi video. Seperti sudah ada SOP-nya, setelah semua biri-biri masuk kandang, ketiga anjing tanpa dikasih perintah langsung menuju ke mobil yang sengaja sudah dibuka pintu bagasi belakangnya. Yang lucu… Anjing yang tugasnya menggonggong yang memiliki suara yang berat juga memiliki tubuh yang berat sehingga butuh usaha ekstra untuk loncat dan bisa masuk mobil. Anjing tersebut butuh beberapa kali trial agar loncatannya bisa sampai bagasi.

Sejak dari tempat biri-biri ini, Puti sudah kepingin buang air besar namun karena kita akan memasuki kota kecil namanya Paringa, kita berharap ketemu toilet umum atau ada pom bensin yang biasanya dilengkapi dengan toilet. Ternyata harapan tersebut sirna, toilet yang diharapkan tersebut tidak pernah ditemukan. Setelah berjalan agak lama dari Paringa, kita masuk lagi ke daerah-daerah seperti hutan tropis. Peluang tersebut tidak dilewatkan oleh Puti untuk buang air besar karena takut nanti tidak ada tempat yang lebih baik. Karena kebetulan hutan ini juga cukup sepi, juga tidak ada tanda-tanda mobil akan ada yang lewat maka mobil saya pinggirkan dan Puti lari ke hutan untuk menyelesaikan niatnya.

Sekitar jam 10.30 malam kita baru sampai ke kota Haast. Cadangan bensin kita sudah sangat terbatas dan kalau kita cek di Tom Tom tidak memungkinkan diisi di pom bensin berikutnya. Jadi fokus utama kita adalah mengisi ulang bensin. Setelah kita sampai ke pom bensin ternyata model pom bensin ini yang self service alias tidak ada penjaganya sehingga kita harus mengisi sendiri dan membayarnya dengan kartu kredit. Pada saat melakukan pengisian ulang, gentian perut saya rasanya sakit dan di pom bensin ini ternyata tidak ditemukan toilet. Kemudian saya coba mencari-cari tempat yang kira-kira saya bisa buang air besar. Tidak jauh dari situ ada sungai namun karena kondisinya sudah malam dan gelap sehingga saya sulit untuk turun ke sungai. Syukur tidak jauh dari situ terdapat rumput-rumput yang cukup tinggi sehingga cukup aman untuk buang air besar. Setelah selesai saya jalan ke Puti yang sudah selesai refill bensin. Kemudian kita mulai jalan lagi. Yang bikin saya kaget, ternyata rumput-rumput yang tinggi yang cukup jauh dari pom bensin tersebut justru dekat banget dengan jalan raya. Untung tadi tidak ada mobil yang lewat saat saya buang air besar. Dan saya tidak mau memikirkan bagaimana nasib daerah tersebut besok pagi.

Kemudian kita mulai memasuki daerah Haast Pass yaitu jalan yang menembus Mount Aspiring. Seperti normalnya daerah pegunungan, jalanan pasti berkelok-kelok sehingga kecepatan rata-rata kurang dari 60 km per jam. Sekitar jam 00:30 dini hari kita baru selesai menembus Mount Aspiring dan sampai ke kota kecil Makarora. Kita tidak berhenti tapi tancap gas meneruskan perjalanan karena sudah capek, sudah dini hari dan jalanan sudah mulai lurus. Sebenarnya kalau perjalanan kita siang hari, jalur dari Makarora ke Wanaka adalah jalur yang sangat indah karena sebelah kiri kita Danau Wanaka dan kemudian berganti sebelah kanan kita Danau Hawea. Karena danau-danau ini penampung lelehan es sehingga kalau siang hari pas matahari terang maka terlihat air danau seperti kristal yang jernih dan berkilau seperti berlian. Namun tidak perlu disesali karena kita akan ketemu tidak hanya banyak tapi ratusan danau di South Island. Akhirnya kita sampai di Top 10 Holiday Park Wanaka jam 1:30 dini hari. Campsite luas sekali areanya dan tidak terlalu banyak yang stay disana. Untungnya tidak ada gerbang sehingga kita bisa masuk. Di pintu masuk terdapat tulisan kalau ada yang diperlukan bisa menghubungi nomor telepon yang ada disitu. Akhirnya Puti telpon nomor tersebut untuk memberitahukan kalau kita mau stay. Penerima telpon cuma mempersilahkan untuk stay dan administrasinya besok pagi saja.

Meskipun sudah terlalu larut untuk tidur tapi di kantor holiday park ini kelihatan lampunya masih menyala sehingga iseng kita masuk dan lihat-lihat. Ternyata ada beberapa komputer menyala dan terdapat fasilitas internet dengan cara memasukkan koin. Puti masih memiliki beberapa koin di mobil sehingga kita coba di salah satu komputer dan ternyata jalan. Rasanya luar biasa karena bisa melihat dunia. Sejak berangkat dari Jakarta kita belum pernah cek email. Akhirnya saya juga menggunakan komputer yang lain untuk buka email dan buka berita di detik.com. Cukup 20 menit, hanya cek email dan tidak berminat untuk jawab-jawab email dulu karena banyak yang jawabnya harus mikir. Akhirnya kita cari tempat untuk memarkir kendaraan. Tidak pingin makan karena selama perjalanan kita banyak makan buah, minum juice, makan roti, snack sekaligus untuk mengusir ngantuk. Tapi kita sempatkan mandi, memindahkan makanan dan minuman dari kulkas dalam mobil ke lemari es di kitchen holiday park dan setelah selesai semua kita tidur.

Kembali ke pertanyaan sebelum berangkat dari Franz Josef, berapa mobil yang kita temui? Kita pikir akan lebih banyak dari yang saya temui saat Malam Tahun Baru 1999 ternyata hasilnya adalah… 17 mobil.

to be continued to “Day 6: Wanaka”

Advertisements