Day 7: Perjalanan dari Wanaka ke Te Anau lewat Cardrona

Summer 17 Desember 2010. Wanaka, Te Anau

Menghabiskan waktu di Wanaka

Jam 9 pagi, kita sudah selesai memasak, sarapan, beres-beres, mandi dan siap untuk meninggalkan campsite. Sesuai rencana hari ini kita akan pindah ke kota Te Anau. Namun karena perjalanan dari Wanaka ke Te Anau tidak terlalu jauh, kira-kira 227 km atau memerlukan waktu 3,5-4 jam maka kita akan menghabiskan waktu untuk melakukan sesuatu kegiatan di Wanaka terlebih dahulu. Dalam perjalanan pulang dari Skydive kemarin, di dekat Skydive terdapat suatu tempat yang namanya Transport and Toy Museum. Sepertinya museum ini layak untuk dikunjungi untuk melihat-lihat koleksinya.

Untuk memberikan gambaran lokasi, campsite berada di daerah dekat Glendhu Bay, tempat Skydive kemarin ada di Wanaka Airport, sementara Transport and Toy Museum tidak jauh dari Wanaka Airport.

peta-wanaka

Akhirnya kita berangkat menuju museum tersebut. Namun pada saat sampai (sekitar jam 10 pagi) ternyata museum tersebut tidak buka. Tidak jauh dari museum tersebut terdapat museum lain yaitu NZ Fighter Pilot Museum. Dari namanya sudah dapat ditebak apa saja yang terdapat dalam museum tersebut. Akhirnya kita kunjungi museum ini.

Museum ini utamanya menggambarkan partisipasi para pilot pesawat tempur NZ dalam pertempuran melawan Jerman dan Jepang di wilayah Pasifik dan sebagian kecil mengenai keterlibatan para pilot NZ di Inggris dan Jerman. Setting dari museum ini sangat gelap sehingga sulit untuk diambil gambarnya sementara terdapat larangan juga untuk menggunakan flash.

Sebagian besar koleksi museum adalah peralatan-peralatan militer bekas Perang Dunia II, barang-barang pribadi para pilot seperti surat-surat yang dikirim kepada keluarganya, senapan mesin pesawat, helm dll. Juga terdapat beberapa pesawat yang digunakan selama Perang Dunia II.

koleksi-pesawat

Terdapat poster-poster yang berisi semboyan juga Standard Operating Procedure untuk para pilot. Koleksi lain adalah foto-foto, klipping berita-berita di koran saat Perang Dunia II, juga mengenai prestasi para pilot-pilot legendaris.

sop-penerbang

koleksi-lain

Salah satu komentar pribadi dari seorang pilot yang bernama Bob Sprurdle (dari Blue Arena) yang diberi judul: In At the deep end

The life of a fighter pilot or was one of extremes engaging: engaging with the enemy, often several times a day; pushed to the limits of mental and physical endurance; coping with the loss of friends and comrades…… then, at the end of each day returning to “normal” life.

The need for pilots was desperate. Bobs Spurdle was typical of many new “Kiwi” pilots joining the battle. After training on obsolete equipment in New Zealand and minimal time on Spitfires, he began combat at the end of August.

Most newcomers to aerial dog fighting got “lost” and often didn’t even see the enemy aircraft at all after the initial flurry. Nor any other aircraft for that matter. The dog fight would wheel away in three dimensions and it was now that the green pilots faced their moment of truth. This was the moment when they would be picked off by cool experienced killers hunting for just such as they…

Selesai dari museum kita masih punya banyak waktu sehingga kita manfaatkan untuk mengunjungi suatu tempat yang namanya Puzzling World. Puzzling World adalah semacam museum yang menyimpan banyak koleksi yang aneh dan unik. Milik swasta namun dikelola dengan sangat baik dan dibuka untuk masyarakat umum. Puzzling World merupakan salah satu tujuan favorit wisatawan saat mengunjungi Wanaka. Dari luar saja keunikannya sudah nampak yaitu dari bentuk bangunan yang tidak berdiri tegak namun miring.

puzzling-world

Juga terdapat suatu menara miring yang menipu mata yang sering digunakan untuk berfoto dimana seolah-olah kita sedang berusaha menahan menara yang akan roboh.

tower-roboh-1

tower-roboh-2

Banyak koleksi-koleksi unik lain yang menipu mata dapat ditemukan di Puzzling World. Salah satunya adalah toilet di bawah ini. Jika toilet ditutup maka seolah-olah tidak bisa dipakai karena ditutup dengan kawat berduri dan juga terdapat banyak serangga, cicak, kecoa yang membuat sebagian orang takut atau jijik.

toilet-jijik

Juga terdapat suatu ruangan yang seolah-olah kita berada di toilet jaman Romawi. Puti mencoba berfoto seolah-olah sedang buang air besar dengan mereka. Sebetulnya Puti melakukan hal yang agak gila dimana dia benar-benar melorotin celananya seperti orang-orang lain yang ada pada gambar. Untung momen-nya tepat pas tidak ada pengunjung lain. Kurang tahu juga kalau ada kamera CCTV. Namun saya tidak bisa tampilkan foto tersebut dalam jurnal ini, lagi-lagi takut UU Pornografi sehingga diganti saja dengan yang agak sopan saja. Dengan melihat koleksi ini setidaknya kita sekarang kebayang bagaimana orang cebok jaman dulu sebelum ada tissue yaitu menggunakan alat seperti pembersih botol. Yang saya belum bisa bayangkan sampai sekarang, apakah alat ini dikantongin terus seumur-umur termasuk saat perang atau apakah bisa saling pinjam. Udah ah.. Nggak mau bayangin, toh sudah bukan jaman kita juga.

toilet-romawi

Pada suatu ruangan besar terdapat koleksi berbagai jenis permainan judi dari seluruh dunia. Di samping itu juga museum ini memiliki banyak koleksi gambar-gambar yang menipu mata seperti di bawah ini:

house-of-stairs

ascend-descend

day-night

drawing-hands

Dengan segala macam keunikannya, Puzzling World, sangat disayangkan jika berkunjung ke Wanaka tapi tidak sempat mengunjunginya.

Akan sangat menarik jika museum buka cabang di Negara lain. Namun seandainya bisa, saya yakin tidak akan membuka cabang di Indonesia. Karena dapat dipastikan misalkan hari ini museum dibuka, besoknya bisa di sebelahnya atau di depannya telah dibuka museum yang sama persis dengan cuma berbeda nama menjadi Puzzing World.

Sedikit cerita mengenai urusan tiru-tiruan, di Indonesia yang paling jago meniru saya rasa orang Kudus di daerah yang namanya Njepang. Apa pun bisa ditiru oleh orang-orang di daerah ini. Misalkan mereka jalan-jalan ke mall kemudian lihat barang-barang yang bagus maka mereka akan datangi tanya-tanya harga sambil dilihat-lihat tapi beli juga dijamin tidak bakalan. Tapi besoknya mereka sudah bikin produk yang sama tapi dijual di Pasar Kliwon atau pasar lain. Untungnya mereka cuma hobi jalan-jalan di mall sehingga yang ditiru ya tas, sandal, baju celana. Seandainya mereka hobi jalan-jalan ke Jepang mungkin pulang-pulang mereka sudah bikin mobil atau bahkan turbin. Daerah ini dinamakan Jepang mungkin juga karena karakternya yang mirip dengan Jepang yang jago niru. Ini bicara Jepang pada tahun 60-an 70-an bukan Jepang sekarang. Ilmu tiru-tiruan ini setelah Jepang dilanjutkan oleh Korea tahun 80an, kemudian oleh China tahun 90an. Tapi jangan underestimate, meskipun niru juga nggak mudah, mesti cukup ilmunya. Di kampus kalau ngerjain PR atau ujian niru tapi kurang ilmu pasti ketangkep.

Wanaka-Queenstown melewati Cardrona

Perjalanan Wanaka ke Te Anau akan melewati kota Queenstown terlebih dahulu meskipun tidak perlu masuk kota Queenstown tapi cukup sampai kota Frankton kemudian menggunakan outer ring road langsung menuju Te Anau. Wanaka-Queenstown dapat ditempuh melalui 2 jalur yaitu:

  1. melalui daerah Cardrona
  2. melewati Cromwell.

Baik jalur Cardrona maupun Cromwell keduanya akan bertemu di sebuah kota kecil sebelum masuk ke Queenstown yang namanya kota Arrowtown.

Karena pada saat liburan akhir tahun 1998 saya sudah pernah melewati jalur Cromwell maka kali ini kita ingin mengambil jalur Cardrona. Kondisi jalur Cromwell relatif lurus dan sebagian besar melewati pinggir sungai. Sementara jalur Cardrona karena daerah pegunungan maka cenderung naik turun dan berbelok-belok. Cardrona dikenal sebagai daerah terbaik untuk bermain ski di NZ. Terdapat beberapa daerah ski lain yang terkenal yaitu di Remarkables di dekat Queenstown dan Wakapapa di daerah Gunung Ruapehu di North Island. Di antara yang terkenal ini, Cardrona yang paling favorite. Kalaupun favorite untuk ski namun kita nggak akan berhenti main ski (ya iya lah lha wong ini musim panas nanti dikira overheat kepala kita).

wanaka-queenstown

Selama perjalanan di NZ ini kita selalu amati… Biasanya sungai-sungai/anak sungai/ creek di NZ itu semua diberi nama. Mungkin karena saking nggak ada kerjaannya kali ya… nggak ada yang dipikirin lagi sehingga setiap anak sungai yang memotong jalan pasti ada namanya. Di Cardrona ini agak spesial dimana nama sungai hanya menggunakan nomor seperti Cardrona River No. 1, 2 dan seterusnya. Dugaan saya yang bahkan mengarah pada kesimpulan adalah… Orang NZ paling sibuk adalah orang Cardrona. Saking sibuknya mereka tidak punya waktu untuk mikirin nama untuk sungai seperti orang NZ lain.

cardrona-river

Perjalanan lewat Cardrona sangat menarik pemandangannya karena saat musim panas seperti saat ini, gunung-gunung di Cardrona terlihat menguning seperti dilapisi emas. Juga di kiri kanan jalan banyak tumbuh bunga Lupin liar berwarna ungu dan pink. Bunga lupin ini hanya bisa ditemui saat musim panas sementara saat musim dingin mereka hibernasi. Nanti pada saat musim dingin seluruh daerah ini akan berwarna putih semua karena tertutup es yang tebal dan cocok untuk bermain ski.

cardrona

Untuk sampai ke Frankton lewat jalur Cardrona dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam karena banyak belokan tajam dan juga jalannya relative kecil.

Frankton-Te Anau

Jarak Frankton ke Te Anau kira-kira 166 km kemungkinan bisa kita capai dalam waktu 2,5 jam. akan melewati kota kecil Kingston kemudian juga Mossburn. Dari Frankton ke Kingston akan melewati jalan di pinggir danau Wakatipu. Selama berkendara, di sebelah kanan kita adalah Danau Wakatipu yang kadang berupa tebing terjal dan di sebelah kiri kita adalah dinding batu. Wakatipu adalah danau yang merupakan mascot kota Queenstown. Danau ini berbentuk Z dengan ujung yang satu adalah Kingston dan ujung lainnya adalah Glenorchy. Dari Kingston menuju ke Mossburn jalanan relatif datar melewati daerah peternakan biri-biri.

queenstown-te-anau

Wind Farm di Mossburn

Di kota Mossburn kita melihat ada banyak turbin angin di puncak bukit.

gulungan-rumput

Ini merupakan sebuah komplek pembangkit listrik tenaga angin (wind farm) yang pertama di NZ yang bernama White Hill yang dikelola oleh Meridien Energy. Wind farm ini memiliki kapasitas 58 MW yang dibangkitkan melalui 29 buah kincir angin dengan kapasitas masing-masing 2 MW. Pembangkit ini cukup untuk memenuhi kebutuhan 30 ribu rumah. Wind farm ini menempati area sepanjang 14 km dengan lebar 10 km. Meskipun terlihat kecil-kecil namun masing-masing turbin angin ini memiliki tinggi total 107 m (sama dengan gedung berlantai 25, kalau naiknya pakai tangga bisa gempor) dengan lebar baling-baling 39 meter.

kincir-angin

Saat ini wind power memiliki proporsi yang cukup besar yaitu 4,5% dari kebutuhan listrik total di NZ. Dan dari sejak diresmikannya wind farm ini di tahun 2007 kecenderungan pemanfaatan wind power berkembang dengan cepat tidak hanya di South Island tapi juga terdapat proyek-proyek baru di North Island. Wind power merupakan sesuatu yang baru di NZ. NZ sebenarnya lebih dikenal karena energi panas buminya (geothermal). Daerah penghasil panas bumi di NZ terkonsentrasi di Taupo Volcanic Zone di North Island.

NZ memiliki potensi penyediaan listrik dari sumber energi yang lain yaitu dari sumber tenaga air (hydro power) yang berasal dari pencairan es di pegunungan-pegunungan di NZ. Dan justru sebagian besar kebutuhan listrik dipenuhi dari hydro power ini.

NZ memiliki visi dalam bidang energi untuk menggunakan energi terbarukan 100% pada tahun 2025. Hal ini dilakukan mengingat NZ memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap import energy karena tidak memiliki sumber energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Memang NZ juga memiliki cadangan minyak dan gas di daerah Taranaki di North Island. Gas yang berasal dari Maui Gas Field di Taranaki memiliki kontribusi besar dalam pemenuhan enegi di NZ sejak tahun 1980. Namun karena tidak ditemukan cadangan baru maka produksi gas dari daerah ini mengalami penurunan terus menerus sehingga NZ banyak melakukan impor gas dan juga bahan bakar minyak dari negara lain. NZ juga memiliki cadangan batubara di North Island. Batu bara ini telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di daerah Putaruru selama puluhan tahun namun sekarang sudah tidak beroperasi.

Secara garis besar 60% energi di NZ adalah impor dan 40% domestic energy. Untuk menghilangkan ketergantungan energy ini, seperti yang telah disebutkan sebelumnya NZ memiliki visi untuk menggunakan 100% energi terbarukan pada tahun 2025. Energi terbarukan ini berasal dari berbagai sumber namun utamanya adalah air, angin, panas bumi dan juga surya.

Nah sekarang kalau kondisi Indonesia seperti apa?  Indonesia memang tidak dapat memenuhi kebutuhan listriknya menggunakan energi terbarukan 100% seperti NZ namun Indonesia memilih kebijakan energy mix yaitu gabungan dari energy fossil dengan energy baru terbarukan (EBT) yang mana EBT memiliki target pengembangan yang cukup besar juga yaitu 23% pada tahun 2025. Tapi khusus untuk EBT dari angin sulit diharapkan kontribusinya di Indonesia karena anginnya angin anginan. Maksudnya kadang ada kadang nggak, kalau pun ada kecepatannya rendah (kurang dari 3 m/s). Kenapa anginan-anginan? Kalau mau diceritakan bakalan panjang alasan ilmiahnya, bukan menjadi jurnal perjalanan tapi jadi modul kuliah.

Mossburn-Te Anau

Dari Mossburn ke Te Anau kita melewati daerah-daerah peternakan biri-biri dan pemandangan gulungan-gulungan rumput yang akan disimpan untuk persiapan musim dingin. Pemandangan demikian tidak berubah sampai kita memasuki kota Te Anau.

biri-biri-1

Lautan Biri-biri

Kita tidak pernah bosan memotret para biri-biri ini yang menurut kita lucu karena gendut-gendut.

biri-biri-2

Umumnya para biri-biri ini akan dicukur selama musim panas supaya tidak kepanasan dan sekaligus memanfaatkan bulunya untuk diolah menjadi bahan wool. Jika biri-biri ini dicukur saat musim panas maka saat musim dingin nanti bulunya sudah cukup tebal untuk melindungi mereka menghadapi dinginnya udara. Namun kelucuan biri-biri ini akan hilang jika bulunya dicukur bahkan kelihatan aneh, kasihan bahkan menyedihkan karena tidak terlihat berwibawa lagi.

biri-biri-gundul

Pengalaman kegagalan demi kegagalan dalam mendapatkan toilet di saat yang tepat sebelumnya, membuat kita disiplin setiap kali kita temukan toilet saat melewati kota atau kota kecil, kita selalu berhenti meskipun hanya untuk buang air kecil. Kalaupun belum pingin kencing pokoknya nggak mau tahu harus dikencingin. Ini mengingatkan saya saat OS jurusan dulu di ITB. Bagi yang tidak pernah kuliah di ITB ataupun kuliah di ITB tapi bukan pada jaman saya…  Mahasiswa ITB baru masuk jurusan setelah melewati tahun pertama bersama (TPB). Setelah selesai semester 2 selalu diadakan kegiatan OS jurusan. Memang banyak kenangan yang lucu-lucu karena masa tersebut telah lewat, tidak sedang menjalani. Namun kalau boleh memilih, saya akan memilih pendidikan komando 3 bulan daripada OS jurusan 2 minggu.

WC Mossburn

Sebelum memasuki kota Te Anau terdapat sebuah pusat informasi yang hanya berupa rumah kecil tanpa penjaga. Terdapat poster-poster mengenai kegiatan yang menarik untuk untuk dilakukan dan spot-spot yang menarik untuk dikunjungi para turis. Kita sempatkan untuk stop dan melihat-lihat informasi apa saja yang tersedia.

fiordland-np

te-anau-manapouri

Namun kita ke Te Anau hanyalah transit karena tujuan utama kita adalah ke Milford Sound. Oleh sebab itu gambar berikut menarik buat kita baca karena kita akan ke Milford besok pagi.

milford-road

Informasi mengenai kota Te Anau juga menarik untuk dibaca karena kita akan lebih mudah memahami denah kota ini meskipun kita juga bisa lihat pada Tomtom.

te-anau-township

Kota Te Anau

Keluar dari pusat informasi kita set Tomtom untuk tujuan Top 10 Holiday Park Te Anau. Namun karena waktu masih belum terlalu sore, jam 5:30 sore, maka kita sempatkan keliling dulu menyusuri pinggir danau Te Anau sampai ke Pusat Penelitian dan Pengawasan Ikan Trout. Kemudian kita putuskan untuk ke Top 10 Holiday Park terlebih dahulu untuk pesan campsite.

Sampai di Top 10 kita tidak langsung daftar tapi lihat-lihat fasilitasnya terlebih dahulu. Lihat tempat parkir, tempat mandi and toilet, dapur tempat masak, dining room, tempat cuci piring dll. Semuanya menurut kita ini adalah Top 10 terbaik selama ini yang pernah kita jumpai. Akhirnya kita ke Top 10 office untuk membayar administrasi. Saat di office kita sekalian tanya-tanya mengenai keinginan kita ke Milford besok. Kita menanyakan seperti apa campsite di Milford. Kita masih berpikir untuk stay semalam di Milford. Namun petugas tersebut menyarankan kita untuk tidak bermalam di Milford karena sepi, jarang ada orang bermalam dan fasilitasnya hanya cocok untuk tenda dan tidak ada campsite seperti Top 10. Kalau kita mau pakai mobil sebaiknya PP alias balik ke Te Anau saja atau ke Queenstown. Petugas disitu menyarankan kalau mau simple kita beli paket tour dengan harga US$150 per orang sudah termasuk biaya transportasi (bus), makan siang dan tiket cruise. Setelah kita pikir-pikir mengenai biaya bensin yang cukup mahal, di samping kita juga rasanya agak capek, belum tahu kondisi jalan menuju ke Milford dll, akhirnya kita putuskan ikut paket tour dan mobil kita tinggal di holiday park ini. Kita bisa beli paket tersebut disitu dan petugas tersebut telpon ke agen tour dan kita dikasih tiket. Intinya besok kita tinggal datang ke pool bus yang tidak jauh dari holiday park dengan jalan kaki pagi-pagi sekali dan sore kita sampai ke Te Anau lagi.

Lokasi holiday park dekat dengan danau, hanya perlu menyeberang jalan kita sudah ada di pinggir danau. Kemudian kita menggunakan mobil berputar-putar di lingkungan sekitar holiday park. Kemudian kita pergi ke Mitre 10, seperti Mitra 10 di Indonesia yang jual alat bangunan, alat listrik dan home appliances lain. Kita ingin membeli kabel listrik.

Karena ini adalah trip pertama kali kita menggunakan campervan maka kita belum terlalu faham mengenai berbagai jenis van. Ternyata van kita adalah jenis yang tidak menggunakan power. Di campsite umumnya dilengkapi dengan tiang colokan listrik yang mana kita tinggal tarik kabel dari van dan ditancapkan ke tiang tersebut. Dengan begitu kulkas dan peralatan lain yang membutuhkan listrik tetap bisa beroperasi meskipun mobil kita sedang parkir alias mati mesin. Ini merupakan pelajaran yang sangat berharga yang kita peroleh. Karena sebab tidak menggunakan power inilah kita setiap malam di tempat kitchen kita charge battery, memindahkan isi kulkas ke kulkas punya holiday park karena van kita tidak menggunakan power. Akhirnya kita berinisiatif ke Mitre 10 untuk mencari kabel listrik namun tidak menemukan. Tapi ya nggak papa toh kitchen di holiday park dilengkapi dengan kulkas yang besar-besar dan juga tempat dining roomnya nyaman. Sementara ini tidak terlalu critical.

Kemudian kita pergi mencari supermarket dan lokasinya tidak terlalu jauh dari Mitre 10. Seperti biasa kita mencari-mencari bahan-bahan makanan, siapa tau ada yang menarik untuk dimasak. Di super market ini tersedia berbagai macam daging dan juga terdapat berbagai macam kacang ada walnut, pistachio, almond, hazel, cashew, macademia, pecans, ground nut sudah pasti ada. Puti ingat Kak Lindy (teman yang sudah seperti kakak sendiri) suka banget dengan walnut sehingga dia belikan buat Kak Lindy. Di antara daging-daging yang paling menarik adalah lamb t-bone yang ukurannya cukup besar-besar, sudah di-marinate dan menurut kita harganya cukup murah. Satu pack berisi 6 potong t-bone harganya hanya 5 dollar dan telah di-marinate dengan berbagai rasa namun kita tertarik yang rasa lada hitam. Kita membeli 2 pack. Meskipun daerah terpencil, menurut kita kualitas makanan, sayuran, daging di Te Anau adalah yang paling bagus dan paling murah dari tempat yang sudah kita singgahi. Tidak lupa kita membeli sayuran untuk pelengkap t-bone nanti malam biar seperti makan di restoran.

Selesai dari super market kita kembali ke holiday park namun karena masih terang, jam 6 sore dan kita lihat dekat holiday park kita ada tempat parkir cukup luas akhirnya kita stop dan duduk-duduk santai marina atau tempat parkir boat. Memandangi danau Te Anau yang begitu tenang, damai, rasanya malas beranjak dari tempat ini.

danau-te-anau

Sementara di sekitar danau kita melihat pemandangan beberapa orang yang sedang sibuk menurunkan speed boat mereka dari mobil ke danau. Juga kita lihat pesawat Amphibi yang sedang mendarat. Pesawat ini adalah pesawat safari untuk tour udara keliling kota Te Anau dan sekitarnya.

air-safari-te-anau

Makan Malam Paling Istimewa

Waktunya balik ke campsite untuk memasak. Seperti yang sudah direncanakan, kita akan memasak t-bone untuk makan malam kali ini. Makan besar kita… Karena t-bone sudah dimarinate maka tinggal dibungkus aluminium foil kemudian dimasukkan ke mesin oven dan di-set “GRILL”. Begitu juga dengan sayuran juga dibungkus aluminium foil dimasukkan oven. Malam ini kita tidak pingin makan nasi atau kentang. Kita hanya tambahkan sosis goreng. Di Te Anau ini kita berjanji untuk tidak makan nasi lagi karena makanan kita yang lain ditanggung nggak bakalan habis saat pulang nanti kalau kita masih makan nasi atau kentang.

Jam 10 malam hidangan sudah siap untuk disantap. T-bone, sayuran, sosis goreng, sudah siap saji. Untuk lebih sempurna maka dilengkapi dengan Sambal Belibis. Puti tidak pernah lupa bawa Sambal Belibis kemanapun dia pergi ke luar negeri. Kalau kunjungan singkat biasanya bawa yang model sachet kalau lama bawanya botolan bahkan berbotol-botol. Kemudian dilengkapi juga dengan Coca Cola Diet. Jatah t-bone saya 2 potong sementara Puti 1 potong. Malam ini adalah malam yang special, makan malam termewah yang kita nikmati selama trip. Sekali-kali biar nggak berasa seperti orang susah banget. Kebetulan kitchen juga sudah sepi tinggal kita berdua.

dinner-te-anau

Selesai makan malam, cuci-cuci piring dan perlengkapan masak sekalian charge baterai dan download file dari kamera dan voice recorder. Kemudian kita mandi dan karena suasana malam itu cukup dingin sehingga ide mandi menggunakan air panas akan sangat nikmat. Fasilitas kamar mandi dan toilet di holiday park ini menurut kita juga yang terbaik. Setelah beres mandi kita kembali ke van dan siap-siap tidur karena pagi-pagi harus bangun untuk jalan kaki ke pool bus. Jam 7 pagi bus akan membawa kita menuju Milford. Van di sebelah kita parkir adalah pasangan suami istri yang sudah agak berumur (hampir 60 tahun) masih terlihat santai ngobrol di luar sambil duduk-duduk. Kita tidak sempat say hello dan basa-basi, hanya senyum waktu kita balik ke van. Kita juga nggak ketemu mereka saat di kitchen. Yang jelas kita agak iri, van mereka kelihatan jauh lebih bagus dari yang kita pakai.

to be continued to “Day 8: Te Anau, Milford”