Day 9: Perjalanan Te Anau-Queenstown

Summer 19 Desember 2010. Te Anau, Queenstown

Seperti hari yang lain, pagi kita bangun, mandi kemudian menyiapkan sarapan pagi. Sarapan pagi seperti hari yang lain kita tidak menyiapkan sarapan yang rumit-rumit namun hanya sereal ditambah dengan yoghurt, ditambah dengan susu. Sementara untuk minuman Puti lebih suka membuat kopi Kapal Api sachet (tidak tahu berapa banyak yang dia bawa dari Indonesia) sementara saya lebih suka minum kopi Nescafe ekstrak merk Gold yang kita beli dari super market di Christchurch sebelum kita berangkat menuju Punakaiki. Itu adalah menu sehari-hari yang kita sajikan untuk sarapan pagi karena lebih praktis dan kita tidak perlu banyak waktu habis untuk mencuci piring dan juga membersihkan peralatan masak.

Dan kita juga biasa menyiapkan sandwich untuk persiapan makan siang, sekarang sudah tidak menggunakan bungkus plastic sampah bau lemon khas sabun cuci piring lagi. Penderitaan serasa makan sabun akhirnya berakhir. Terakhir kali plastic tersebut kita gunakan untuk membungkus sandwich waktu trekking ke Franz Josef Glacier. Setelah itu di Wanaka kita beli plastic roll tipis bening yang memang biasa dipakai untuk menutup makanan, ibu-ibu di Indonesia biasanya menggunakan untuk membungkus makanan sebelum dimasukkan kulkas. Jika nanti kita tidak bisa menemukan makan yang lebih layak maka sandwich ini akan menjadi dewa penolong. Memang makan siang sandwich kalau terus-terusan juga nggak tahan namun menyiapkan sandwich untuk makan siang sudah kita masukkan dalam SOP (Standard Operating Procedure) sama halnya SOP malam hari sebelum tidur: harus charge battery dan download file. Sekitar jam 10.00 pagi kita siap berangkat meninggalkan holiday park untuk menuju ke Queenstown.

Karena posisi van kita parkir di dekat pintu keluar campsite, kita tidak bisa langsung mengeluarkan van karena sedang ada van lain yang mau keluar tapi dalam posisi berhenti. Ternyata sopir tersebut sedang isi tangki air van dari keran yang tersedia buat shower, toilet dan cuci piring. Kemudian dia juga menarik selang agak besar dari bagian bawah van dan dimasukkan ke lubang yang ada di lantai pinggir jalan. Ternyata van tersebut sedang dumping/buang air kotor dari dalam van ke saluran pembuangan yang sudah disediakan di campsite. O… begitu toh caranya. Ngerti kita sekarang. Setidaknya lain waktu kita pakai van yang proper kita sudah ngerti cara isi air bersih dan buang air kotor. Tidak harus membuang air kotor dan juga isi driking water di campsite, tersedia di banyak tempat untuk memudahkan para pengguna van. Good bye the best holiday park we ever had. Lihat gambar berikut… Langitnya bersih banget, fully white, seolah-olah gambar background direkayasa, seperti foto editan padahal asli lho..…

top10-te-anau-gate

Pada gambar sebelah kanan terlihat box telepon dan kemarin malam kita berusaha menelpon anak kita Rara tapi ternyata tidak bisa karena box telepon ini hanya bisa menggunakan kartu. Akhirnya kita jalan ke pusat kota untuk mencari kotak telepon yang bisa menggunakan koin, dengan membawa koin yang cukup banyak sehingga kita bisa ngobrol dengan Rara cukup lama. Sejak di NZ ini pertama kali kita telpon dia. Rasanya sudah kangen sekali. Rara belum kita bawa jalan karena baru berumur 5 tahun dan belum akan enjoy untuk penerbangan yang cukup lama lagi pula takut dia kelelahan dengan perjalanan menggunakan van.  Masalah lain adalah dia kalau makan lama banget bisa berjam-jam sampai kadang ketiduran di meja makan saking lamanya. Kita sudah coba berbagai macam cara agar makan dia bisa cepat namun semua gagal. Benar-benar bikin frustasi urusan makan Rara ini. Kita janji ke Rara kalau dia sudah bisa makan cepet akan kita bawa jalan-jalan. Dia sangat termotivasi dengan iming-iming tersebut dan teknik ini sepertinya bakalan berhasil, progressnya lumayan bagus. Waktu dia umur 6 tahun saya rasa kita sudah bisa jalan-jalan bersama. Di rumah dia ditemanin oleh Mbak Pengasuh namun karena perjalanan ini cukup lama, saya minta adik saya dari Bandung untuk menemani Rara selama kita pergi.

Dari sejak saya kuliah di Auckland University tahun 1999, dalam kuliah saya sering mendengar mengenai pembangkit listrik tenaga air Manapouri. Manapouri terkenal karena PLTA terbesar di NZ dengan kapasitas 850 MW dan merupakan PLTA bawah tanah. Satu lagi PLTA yang terkenal di NZ adalah PLTA yang di Clyde Dam juga di South Island karena bendungannya tepat berada di patahan aktif sehingga teknologi konstruksi yang digunakan berbeda dan sangat canggih. Pertama kali mendengar Clyde Dam saat kursus Bahasa Inggris 3 bulan di Auckland University dari November 1998 sampai Februari 1999. Saat itu diputarkan video mengenai kehebatan teknologi Clyde Dam oleh guru Bahasa Inggris namanya Judith Grant yang tujuannya adalah melatih listening. Saya ada kenangan khusus dengan Judith Grant yang tak akan terlupakan.

Saya model orang yang cenderung juga under estimate terhadap orang lain terutama orang baru, orang yang baru kenal. Judith Grant ini kalau secara fisik kelihatan tua banget alias nenek-nenek. Saya kurang tahu tepatnya usia berapa tapi kalau tidak salah pernah menyebut saat itu usianya 58 tahun. Seperti kita ketahui bersama bahwa secara fisik bule cenderung awet tua, berbeda dengan kita… kalau kita awet muda atau bahkan tidak pernah tua alias meninggal duluan sebelum tua. Life expectancy kita lebih rendah dibanding mereka tapi itu urusan Pemerintah lah…

Saat kita kembali dari liburan Natal-Tahun Baru, sebelum kursus dimulai kita semua menceritakan pengalaman selama liburan. Saya dan beberapa teman berkunjung ke South Island menggunakan mobil, sementara ada grup lain yang juga ke South Island menggunakan bis, ada juga yang tidak kemana-mana alias hanya tinggal di asrama (Grafton Hall of Residence). Yang bikin kita kaget saat Judith menceritakan bahwa liburan dia diisi dengan terjun payung. Waduh…. Rasanya mau pingsan mendengar hobi dia, tak terbayang. Pada suatu ketika saat kita sekelas diajak jalan-jalan ke sebuah pantai namanya Muriwai di daerah sebelah baratnya Auckland, waktu tiba di Murai ada yang hanya sekedar tidur-tiduran di pasir (pasirnya hitam), ada yang burung ganet (terkenal karena banyak burung ganet), ada yang bermain lempar bola (latihan melempar bola cricket yang benar dan ternyata tidak semudah yang dibayangkan), dan apa yang dilakukan Judith saat sampai? Copot baju dan berenang di laut. Kita semua Cuma mlongo… Pertanyaannya, sebenarnya siapa yang nenek-nenek? Makanya jangan under estimate, untung nggak kualat.

Mungkin ada yang merasa aneh mengapa saya harus mengambil kursus bahasa Inggris 3 bulan sementara bahasa Inggris saya sebenarnya tidak jelek-jelek amat, minimal kalau hanya sekedar mengikuti kuliah dalam Bahasa Inggris saja mestinya cukup dan bisa mengikuti. Nah alasan kenapa ikut kursus Inggris karena masukkan dari mbak Nenny (pembimbing saya saat tugas akhir dan juga yang merekomendasikan saya untuk diterima kuliah di Geothermal Institute). Mbak Nenny bilang saat kursus 3 bulan itulah kita memiliki waktu untuk menikmati hidup karena setelah kuliah dimulai waktu kita murni hanya untuk belajar dan mengerjakan tugas. Sebenarnya saya kurang begitu faham masukan Mbak Nenny tersebut meskipun saya ikuti. Saya baru mengerti artinya saat beneran kuliah di Geothermal Institute yang mana benar-benar no life hanya kuliah, kerja lapangan, ujian, PR dan PR ditambah PR lagi. Ampun Gusti… Tobat, nggak mau lagi.

Ternyata waktu 3 bulan kursus tidak hanya berguna untuk menikmati hidup namun juga waktu untuk membiasakan bahasa Inggris model Kiwi (orang NZ lebih suka menyebut dirinya Kiwi dari pada New Zealander). Inggris Kiwi berbeda dengan aksen Inggris lain yang umum dikenal seperti British, American atau Australian. Kalau dengan Australian ada sedikit kemiripan meskipun tetap berbeda (kalau disamakan dengan Australi nanti teman-teman Kiwi marah). Jujur saja 2 hal yang saya salah duga sebelum ke NZ yaitu orang Maori saya kira seperti orang Aborigin, yang kedua saya pikir aksen Inggris mereka seperti yang sudah saya kenal.  Saya bingung apakah telinga saya yang nggak beres atau ini bahasa planet lain. Kita orang Indonesia lebih biasa dengan aksen Amerika karena pengaruh film-film Holiwood. Aksen Kiwi sungguh asing dan sulit dimengerti sehingga saat awal saya faham kurang dari 30%. Kalau yang ngomong Headmaster Asrama Grafton (Greg Oates) bahkan tidak ada satu katapun yang bisa saya tangkap, tapi anehnya hingga saat ini. Untungnya para dosen pengajar di Geothermal Institute hanya satu yang dari New Zealand yaitu Mike Dunstall sementara yang lain Arnold Watson (Inggris), Pat Browne (Inggris), Manfred Hochstein (Jerman tapi sekarang menjadi wilayah Austria), KC Lee (Malaysia), Supriyadi Sungkono (Indonesia) dan Stuart Simmons (Amerika). Seandainya semua dosen seperti Mike Dunstall saya yakin saya juga akan punya masalah dalam menangkap pelajaran.

Tiba-tiba saya teringat memori manis dan juga sebagian lagi yang memalukan saat dulu kursus Bahasa Inggris dan ingin mengunjungi Manapouri Power Station tersebut. Kita tidak sempat baca-baca informasi jadi kita langsung menuju ke kota kecil yang tidak jauh dari Te Anau. Air dari Danau Te Anau juga mengalir ke Danau Manapouri untuk menggerakkan PLTA Manapouri. Setelah sampai di Manapouri kita bertanya-tanya kepada orang-orang yang kita temui dimana letak Manapouri karena di Tomtom tidak ada petunjuk ke PLTA.

manapouri-map

Ternyata lokasi PLTA ada di seberang kota Manapouri, tidak bisa dijangkau menggunakan perjalanan darat jadi harus menyeberang danau menggunakan cruise. Sebenarnya banyak paket wisata yang menawarkan kunjungan ke Manapouri baik yang berangkat dari Manapouri maupun dari Te Anau. Namun kita tidak bisa mengikuti tour karena dibutuhkan waktu 3-4 jam jika cruise berangkat dari Manapouri dan 5-6 jam jika berangkat dari Te Anau menggunakan cruise Real Journeys. Kita tidak mengalokasikan waktu untuk tour tersebut. Kita lupakan sementara ini Manapouri dan mungkin akan kita lakukan pada lain waktu.

real-journeys-manapouri

PLTA Manapouri memiliki sejarah yang panjang dalam pembangunannya. Meskipun PLTA ini dibangun mulai Februari 1964 dan selesai pada September 1971 namun jauh sebelum pembangunannya telah melalui suatu proses panjang dimana banyak penentangan terhadap rencana pembangunan PLTA ini yang dimulai sejak tahun 1959. Setelah kampanye panjang penyelamatan Manapouri maka pada tahun 1972 disetujui rencana penenggelaman Manapouri tidak sampai pada rencana awal. Tugu batu pada gambar menceritakan proses panjang tersebut dan juga sebagai tanda ketinggian muka danau yang direncanakan pada saat awal. Penentangan tersebut selain karena faktor lingkungan juga karena terdapat banyak situs dikeramatkan oleh masyarakat Maori. Sebagain situs-situs tersebut sekarang terendam air. Karena Manapouri yang dalam Bahasa Maori disebut Moturau merupakan tempat penting dalam tradisi Maori maka pada tahun 1998 ditetapkan sebagai daerah konservasi.

tugu-manapouri

deed-of-recognition-manapouri

Dari Manapouri kita kembali lagi ke Te Anau ke marina yang kita kunjungi pada hari pertama sampai Te Anau. Kita berhenti karena sudah waktunya makan siang dan kita ingin sekali makan indomie dan juga sekalian masak air panas untuk membuat kopi. Sambil menunggu makanan siap kita memperhatikan sebuah mobil yang sedang menurunkan speed boat dari mobil ke Danau Te Anau. NZ memang surga bagi outdoor activities. Banyak kita temukan mobil-mobil dipasang kait pada bagian belakangnya yang umumnya digunakan untuk menarik speed boat. Di NZ memiliki speed boat bahkan bisa dijadikan semacam ukuran strata sosial.

nurunin-boat

narik-boat

Selesai makan siang sekitar jam 12:30 kita siap meninggalkan Te Anau menuju ke Queesntown. Kita sempatkan memotret gereja yang sering kita lewati dekat holiday park. Meskipun gereja ini sederhana namun terlihat cantik dengan dinding batu bata. Meskipun saya yakin sudah jarang pengunjung kecuali beberapa orang yang sudah tua-tua namun gereja ini masih kelihatan sangat terawat. Saya khawatir gereja ini nantinya bernasib seperti Lingga, Yoni dan Punden berundak yang hanya menjadi bukti adanya peradaban masa lalu sementara pengikutnya sudah tidak ada. Agama atau kepercayaan exist jika ada pemeluknya. Tidak murni masalah Kristen atau Islam atau Yahudi atau agama dan kepercayaan lain, trend masyarakat Barat saat ini lebih cenderung kearah agnostic (tidak mengikuti agama) tapi bukan atheis. Kadang saya bertanya berapa lama agama-agama yang kita kenal saat ini masih akan memiliki pemeluk? Saya yakin masih ribuan tahun yang akan datang karena banyak buktinya… Agama Hindu telah memiliki sejarah ribuan tahun dan masih bertahan hingga saat ini, Zoroaster juga ribuan tahun dan masih punya pengikut hingga saat ini meskipun sedikit (di Iran).

gereja-te-anau

Tidak lupa kita foto berdua sebagai tanda perpisahan dengan kota Te Anau. Sedih rasanya meninggalkan Te Anau. Meskipun kota ini tidak banyak dikenal namun buat kita kota kecil ini sangat nyaman dan tenang. Bahkan tidak layak atau tidak memenuhi kriteria disebut sebagai kota (city) namun hanyalah sebuah kota kecil (town) karena penduduknya kurang dari 2000 orang.

goodbye-te-anau

Perjalanan ke Queenstown akan kita tempuh sekitar 2 jam lebih sedikit. Cuaca cukup bagus meskipun berawan, hanya angin yang lumayan kencang dan agak dingin karena matahari tidak muncul hari ini.

te-anau-queenstown

Selama perjalanan ke Queenstown kita tidak berhenti sama sekali kecuali saat kita sampai di Kingston yang merupakan salah satu ujung dari Danau Wakatipu. Karena kita tidak mengenal daerah ini jadi satu-satunya cara kita cek di TomTom (GPS kita) apa saja yang menarik di Kingston. Kingston itu asalnya dari kata King’s town yang artinya kotanya raja tapi Hamilton bukan berarti kotanya orang hamil lho.. Tomtom menampilkan salah satunya dermaga. Dermaga ini sangat kecil dan tidak banyak kita ketemu orang di sana. Dekat dari dermaga kita temukan sebuah stasiun kereta api kecil beserta dengan gerbong kereta api yang sudah sangat tua dan juga lokomotif lama. Kereta api ini dulunya juga berfungsi untuk mengantar pos. Tidak lama kita berhenti di Kingston dan kita melanjutkan perjalanan lagi. Sekitar jam 3 sore kita tinggalkan Kingston dan pada salah satu sudut kita ambil foto Danau Wakatipu.

dermaga-kingston

ujung-wakatipu

Dari Kingston menuju Queenstown perjalanan cukup mengasyikkan di mana sebelah kiri danau dan sebelah kanan tebing-tebing batu. Kita banyak abadikan dalam bentuk video karena foto akan kurang mewakili suasana yang dilewati. Pada suatu area pemberhentian yang lokasinya sangat menarik kita berhenti untuk mengambil foto-foto. Sebuah tebing batu yang sangat curam yang rasanya pasti sangat asyik kalau boleh loncat dari situ terjun ke dalam air danau.

tebing-wakatipu

Kita kemudian melanjutkan perjalanan ke Queenstown dan saat sampai di down town Puti melihat KFC. Puti punya hubungan emosional tertentu yang sulit dijelaskan dengan KFC. Akhirnya kita makan siang lagi (karena waktu di Te Anau sudah makan Indomie) di KFC. Setelah selesai kita langsung mencari tempat menginap. Awalnya kita menuju ke YHA. Namun setelah kita bertanya kepada resepsionis memang model YHA ini adalah hostel bukan campsite seperti yang kita harapkan sehingga kita putuskan untuk mencari tempat lain. Kemudian kita mencari Top 10 Holiday Park seperti di kota-kota yang lain. Waktu kita sampai di Top 10 Holiday Park kita merasa tempatnya kurang nyaman dan juga campsite-nya tidak terlalu besar. Oleh sebab itu kita tidak langsung membooking tapi kita bilang kalau kita akan mencari alternatif yang lain dulu. Akhirnya kita sampai ke Lakeview Holiday Park. Di Lakeview kita lihat suasana sangat menyenangkan dan campsite nya juga cukup besar. Lakeview tidak hanya menyediakan campsite tapi juga bisa menyewa kamar seperti halnya hotel atau juga bisa menyewa seperti cottage yang bisa di gunakan untuk beberapa orang.

Di kantor kita ketemu dengan petugas campsite namanya Jillian orang Philippine dan satu lagi orang Brasil namanya Clara. Clara adalah orang Brazil kedua yang kita temui, yang pertama adalah Pedro, carrier tandem skydiving Puti di Wanaka. Bagi yang segenerasi dengan saya, paling mudah menggambarkan Clara adalah mirip Si Isaura dalam telenovela Escrava Isaura yang dulu ditayangkan TVRI jaman tv masih hitam putih. Clara mengingatkan kembali kenangan dulu tiap hari Minggu saya nonton telenovela produksi Brazil ini. Sebenarnya rindu dengan tema sinetron atau telenovela seperti Escrava Isaura, yang berisi perjuangan menghapus perbudakan, atau topic lain yang lebih memanusiakan manusia. Namun saya sadar seandainya tema seperti Escrava Isaura diangkat mungkin tidak akan ada yang menonton karena jaman sudah berubah, apa yang dianggap bagus oleh satu generasi dianggap garing oleh generasi lain. Namun karena saya bukan orang media, tidak mengerti tentang dunia komunikasi, timbul pertanyaan apakah media yang mempengaruhi perilaku social atau kebalikannya media adalah cerminan perilaku social? Tapi karena saya orang rekayasa saya masih percaya bahwa media bisa digunakan atau dijadikan alat untuk merekayasa perilaku social suatu masyarakat, media can become a powerful social engineering tool. Tentunya menuju/kearah yang lebih baik meskipun timbul pertanyaan baru mengenai “lebih baik” karena baik juga relative. Yah namanya dunia semua akan diperdebatkan, jangankan yang abu-abu, yang jelas hukumnya atau bahkan hukum itu sendiri masih sering di-challenge. Namun di sisi lain hal itulah yang membuat dunia menjadi seru, minimal ramai lah.

Awalnya Jillian mengira saya orang Philippine karena dari segi fisik orang Indonesia sama Philippine sulit dibedakan. Ngobrol sebentar dengan Jillian karena sedikit banyak saya tahu Philippines dimana tahun 2004 saya pernah di Philippines dan juga ada 4 mahasiswa Philippines yang sekelas saat kuliah di Geothermal Institute. Di campsite ini hampir seluruh pekerjanya orang Philippine dari mulai staff di front office sampai dengan bagian cleaning service. Saya meminta waktu untuk melihat-melihat fasilitas dari campsite dan ternyata kualitasnya semua excellent baik dapur, tempat cuci, kamar mandi. Ini campsite terbesar yang kita jumpai. Kemudian saya kembali lagi ke kantor dan menyatakan saya ingin menginap di campsite ini. Kemudian kita bayar kita lengkapi syarat-syarat administrasi dan kemudian mobil bisa masuk lokasi campsite.

Saya salut sama orang-orang Philipine yang tersebar ke seluruh dunia untuk bekerja di berbagai bidang dan level pekerjaan. Waktu saya di Iceland tahun 2009 meskipun posisi Iceland di ujung dunia, saya juga banyak temui orang-orang Philippines yang bekerja di hotel. Bahkan guru Rara di SD di Kalimalang juga orang Philippine. Para pekerja Philippine di luar negeri adalah penghasil devisa terbesar mengalahkan devisa dari sumber daya alam. Orang Indonesia dan Philippine secara fisik mirip karena didukung oleh kemiripan karakter alamnya. Negara tropis, penduduk banyak, banyak pulau, banyak gunung-gunung api, kaya dengan bahan tambang mineral. Bedanya mereka tidak banyak memiliki sumber daya minyak, gas dan batubara sehingga terpaksa harus dicukupi dengan impor. Di samping itu rutin terkena bencana taifun dan juga konflik bersenjata di wilayah tengah dan selatan walaupun sekarang kondisinya lebih baik. Kehidupan di Philippine jauh lebih tough dari Indonesia makanya tenaga kerja trampil dan terdidik lebih suka mencari pekerjaan di luar negeri, tersebar di seluruh dunia. Mereka memiliki keunggulan yaitu kemampuan komunikasi bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa kedua, menggunakan Bahasa Inggris secara aktif baik di sekolah dan tempat kerja. Karena besarnya kontribusi tenaga kerja yang bekerja di luar negeri terhadap perekonomian Philippines maka Pemerintah memberikan perlindungan penuh terhadap mereka. Dalam hal perlindungan tenaga kerja di luar negeri harus diakui Indonesia kalah jauh dibanding Philippines.

campsite-lakeview

Setelah parkir karena kita masih punya waktu yang cukup (baru jam 6 sore) maka kita menyempatkan waktu jalan-jalan sebentar ke pusat kota hanya untuk melihat lokasi i-Site. Parkir di Queenstown cukup sulit dan juga lokasi pusat kotanya dekat, tinggal turun dari campsite. Sehingga lebih nyaman mobil kita tinggal di campsite dan kita jalan kaki yang jaraknya tidak lebih dari 400 m.

Selesai dari pusat kota kita kembali ke campsite namun tidak langsung ke mobil van kita tapi iseng nengok kuburan karena persis sebelah campsite adalah kuburan. Kita selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi mengenai kuburan di NZ. Pertama karena kita jarang sekali menemukan kuburan kecuali kuburan tua/lama. Sudah tidak menjadi budaya lagi orang meninggal dikubur karena secara environment dianggap mencemari air tanah. Sehingga cara yang digunakan adalah dengan dikremasi. Di Indonesia kalau ada yang meninggal kita biasanya ada istilah “mengantar ke peristirahatan terakhir”, mengantar sampai pemakaman. Di sini yang ada adalah upacara pelepasan. Jadi kalau ada yang meninggal biasanya kita berkumpul di rumah atau rumah duka, tergantung rencana upacara pelepasannya, kemudian mayat dijemput oleh ambulance untuk dibawa ke crematorium. Umumnya tidak ada keluarga dan teman yang mendampingi mayat saat dikremasi.

Sehingga kita selalu iseng jika ketemu kuburan kita cek siapa yang terakhir dikubur di kuburan tersebut. Umumnya yang terakhir yang dikubur adalah tahun 1970an. Untuk kuburan di Queenstown ini dijelaskan bahwa ini merupakan kuburan baru atau perluasan dimana kuburan lama ada di kota Frankton. Jadi Queenstown saat ini adalah kota baru, sementara kota lamanya ada di Frankton. Melihat lokasinya yang mestinya jaman dulu sulit dijangkau namun kota Frankton didirikan tentunya harus ada alasan yang menarik. Alasannya adalah gold rush. Sungai-sungai di sekitar Queenstown dulunya banyak ditemukan emas sehingga orang-orang pada datang kesini dan jadilah kota. Yang menarik di kuburan ini adalah banyak kuburan orang China yang menandakan orang China sudah terlibat sejak dari awal pendirian kota Frankton maupun Queenstown.

Di kuburan ini ada yang unik-unik mulai dari patung-patung atau ukiran yang dipasang, ada juga yang ditulis sejarah orang yang dikubur dan ada juga yang diceritakan alasan meninggalnya. Ada salah satu makam yang menceritakan bahwa orang tersebut meninggal saat mendaki Mount Cook. Kita berharap suatu waktu nanti kita ke Queenstown kita bisa cek apakah ada kuburan baru atau tidak. Jawabannya hampir pasti.. Tidak bakalan ada🙂

Selesai ziarah kita kembali ke campsite untuk melakukan aktivitas rutin seperti biasa yaitu masak, mandi, charge battery dan download file. Dapur dari campsite ini sangat besar dan sangat ramai sekali karena banyak sekali yang menginap. Meskipun dapur sangat besar namun kita harus antri meskipun tidak lama untuk menggunakan perlengkapan dapur. Yang konyol kadang ada yang tidak bisa masak atau teknik masaknya salah sehingga sangat lama tidak selesai-selesai sehingga bikin sedikit kesel, emosi karena bikin antrian menjadi panjang.

Setelah selesai memasak kemudian kita mandi dan kamar mandi meskipun sangat besar tapi juga harus antri. Kamar mandi dibagi menjadi 3 bagian yaitu kamar mandi laki-laki, wanita dan unisex. Kamar mandi unisex banyak digunakan oleh para wanita karena umumnya sekalian memandikan anak-anak. Karena kamar mandi laki-laki penuh dan sudah menunggu lama tidak ada yang kosong sehingga Puti menyarankan saya menggunakan kamar mandi unisex.

Waktu masuk kamar mandi tidak ada masalah karena tidak ada yang lihat tapi waktu keluar pas berpapasan dengan ibu-ibu. Kemudian dia ngomong entah apa yan saya tidak mengerti karena juga tidak dalam Bahasa Inggris. Namun Puti nunggu di depan kamar mandi dan ibu-ibu tersebut dibawa Puti ke pintu kamar mandi yang tulisannya unisex yang berarti boleh untuk laki-laki maupun wanita. Meskipun begitu ibu-ibu tersebut masih ngomel-ngomel yang saya bisa artikan tetap tidak setuju.

Selesai semuanya kita siap-siap tidur karena besok pagi kita akan melakukan aktivitas-aktivitas yang menarik di Queenstown. Suasana campsite masih ramai, masih banyak yang pada ngobrol dan memainkan berbagai permainan namun kita tidak peduli dan juga tidak terganggu. Ada juga teriakan-teriakan kencang yang terdengar dari kuburan namun jangan dikira itu teriakan orang yang dapat siksa kubur, itu berasal dari teriakan orang yang pada main bungy jumping dari bukit di atas kuburan yang namanya The Ledge. Tapi mungkin juga kalau kena siksa kubur jeritnya seperti yang loncat dari The Ledge. Yang agak mengganggu pikiran kita adalah ramalan cuaca untuk seminggu kedepan dimana akan selalu berawan dan juga kemungkinan hujan.

weather-forecast

Oh ya ada yang lupa.. pada saat ke downtown Puti sempatkan ke apotik untuk beli Voltaren karena badan sudah mulai pegal-pegal. Perasaan di Indonesia harganya cuma berapa perak tapi kenapa disini jadi mahal banget ya? Mungkin orang sini sehat-sehat jadi jarang ada yang beli. Dengan harga segitu di Indonesia tidak hanya dapat Voltaren tapi sekalian dapat pijitnya.

voltaren

Waktu di apotek kita juga lihat ada seorang ibu-ibu yang keluar masuk apotek. Masuk apotek kemudian putar-putar lihat obat kemudian ambil hp dan telpon seseorang kemudian keluar apotek. Kemudian balik lagi melakukan hal yang sama. Saya bilang ke Puti kalau ibu itu pasti orang Indonesia. Puti nggak suka saya main tuduh dan dia tanya alasannya apa. Saya jelaskan bukan karena alasan fisik kelihatan seperti orang Indonesia, karena bisa saja orang Philippine. Alasannya karena yang suka clingak clinguk, malu atau malas atau nggak mau tanya biasanya orang Indonesia. Sebentar kemudian datang lagi seorang anak perempuan, yang kemungkinan besar adalah anaknya kalau dilihat dari sisi usia, dan mereka ngobrol menggunakan bahasa Indonesia yang inti bingung cari obat.

Saat kembali dari apotik menuju ke campsite kita iseng jalan ke arah gondola dan lihat ada Kiwi Birdlife Park namun sayangnya sudah tutup karena sudah malam. Kiwi dikenal sebagai burung/binatang norturnal atau hidup di malam hari, justru kalau siang Kiwi akan tidur. Logikanya Kiwi Birdlife Park harusnya buka malam hari bukan siang hari🙂 Kayanya dunia bisa rusak kalau semua harus pakai logika.

to be continued to “Day 10: Queenstown (Navis Arc, Maori Haka)”

Advertisements